Cirebon – Teknik Merawit, salah satu ciri khas batik tulis Cirebon yang dikenal melalui garis-garis halus dan presisi, dinilai memerlukan standar mutu yang baku untuk menjaga identitas, kualitas, sekaligus meningkatkan daya saing di tengah maraknya kain bermotif batik hasil produksi massal.
Hal tersebut mengemuka dalam kajian mengenai Batik Tulis Merawit yang dilakukan di Desa Trusmi Kulon, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon. Penelitian menunjukkan bahwa Merawit bukan sekadar ornamen dekoratif, melainkan indikator kualitas batik tulis yang mencerminkan keterampilan perajin dalam mengendalikan canting, malam panas, serta keseluruhan proses produksi.

Penulis kajian, Komarudin Kudiya, menjelaskan bahwa kualitas Merawit ditandai oleh garis-garis tipis, stabil, bersih, dan konsisten dengan ketebalan sekitar 0,1 hingga 0,3 milimeter. Sebaliknya, garis yang tidak seragam, mudah terputus, atau disertai flek warna menjadi indikator menurunnya mutu produk.
“Hasil akhir Merawit bukan hanya ditentukan oleh motif, tetapi oleh disiplin teknik selama proses membatik, mulai dari penggunaan canting, pewarnaan, pelorodan, hingga tahap finishing,” tulis Komarudin dalam kajiannya.
Penelitian tersebut melibatkan 15 perajin Batik Tulis Merawit, 20 pemilik usaha batik, lima ahli batik dan desain kriya, 30 konsumen, serta empat pemangku kepentingan daerah. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi visual, kuesioner, dan eksperimen pengembangan desain.
Hasil evaluasi menunjukkan aspek kerapian garis memperoleh skor rata-rata 4,45 dari skala lima, disusul keteraturan bentuk garis sebesar 4,38 dan identitas khas Cirebon sebesar 4,32. Namun, aspek pewarnaan hanya memperoleh skor 3,88 dan kualitas bahan 3,95, menunjukkan masih adanya ruang perbaikan dalam menjaga mutu produk secara menyeluruh.
Menurut kajian tersebut, belum adanya standar teknis yang diterapkan secara bersama menyebabkan kualitas Merawit di lapangan masih beragam. Faktor pengalaman perajin, kontrol produksi, hingga kualitas bahan menjadi penyebab utama perbedaan hasil.
Di sisi lain, pasar batik juga menghadapi tantangan akibat semakin banyaknya kain bercorak batik yang diproduksi menggunakan teknik cetak. Kondisi ini membuat sebagian konsumen sulit membedakan antara batik tulis dengan tekstil bermotif batik, sehingga penilaian sering kali hanya didasarkan pada harga dan tampilan visual.
Dalam konteks tersebut, Merawit dinilai dapat menjadi identitas visual yang memperlihatkan proses pembuatan batik tulis secara autentik. Garis-garis halus yang dihasilkan melalui canting menjadi bukti keterampilan, waktu, dan ketelitian yang tidak dapat direplikasi secara massal.
Kajian itu juga menekankan pentingnya perlindungan identitas Merawit melalui standar mutu yang jelas. Standar tersebut diharapkan tidak membatasi kreativitas perajin, tetapi menjadi acuan minimum agar setiap produk yang menggunakan nama Merawit memiliki kualitas yang konsisten.
Selain standardisasi, peneliti merekomendasikan empat langkah penguatan, yakni peningkatan pelatihan teknik membatik bagi generasi muda, penyusunan standar mutu visual, diversifikasi produk berbasis karakter Merawit, serta penguatan narasi produk melalui label, katalog digital, dokumentasi proses, hingga sertifikasi.
Pemanfaatan teknologi digital juga dinilai dapat mendukung pelestarian Merawit melalui dokumentasi motif, foto makro, video proses pembuatan, dan katalog daring. Namun, teknologi diposisikan sebagai sarana memperluas literasi masyarakat, bukan menggantikan keterampilan tangan para perajin.
Dengan standar mutu yang kuat, Merawit diharapkan tidak hanya menjadi identitas Batik Cirebon, tetapi juga mampu meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap keaslian batik tulis sekaligus memperkuat posisi produk budaya Indonesia di pasar nasional maupun internasional.

