Oleh: Iwan Santosa
Motif batik ini diangkat dari naskah kuno Bujangga Manik. Inovasi ini merupakan hasil riset tim akademisi Universitas Kristen Maranatha, dipimpin oleh Dr. Dra. Ariesa Pandanwangi, M.Sn. Tim ini bertahun-tahun mempelajari naskah-naskah kuno di keraton, museum, dan perpustakaan. Salah satu yang paling istimewa adalah naskah Bujangga Manik, sebuah manuskrip abad ke-15 yang justru lama tersimpan jauh di Inggris, di perpustakaan Bodleian Library, Oxford.


Menghidupkan Naskah yang Lama Tertidur
Naskah Bujangga Manik adalah kisah perjalanan spiritual seorang bangsawan Pakuan bernama Perebu Jaka Pakuan. Dalam bentuk puisi, ia mencatat 450 nama tempat di Jawa dan Bali, menggambarkan sungai, gunung, dan desa dengan detail geografis yang membuat banyak peneliti heran. Ia bukan sekadar tokoh sastra, tetapi saksi perjalanan zamannya.
Namun naskah berharga itu terjebak dalam keterbatasan: sulit diakses publik, ditulis dalam Sunda Kuno, dan hanya dipahami kalangan tertentu. Di sinilah tantangan para peneliti bermula. Mereka ingin menghadirkan kembali warisan tersebut dalam bentuk yang indah, akrab, dan mampu menyapa generasi masa kini. Jawabannya: mengalihvisualkannya menjadi batik kontemporer.
Proses Alih Visual: Dari Lontar ke Kain Batik
Transformasi naskah kuno menjadi motif batik bukan pekerjaan spontan. Ada proses ilmiah panjang berbasis teori bahasa rupa, sebuah pendekatan untuk membaca bentuk visual dalam teks tradisional. Prosesnya mencakup beberapa tahap penting:

1. Identifikasi Baris Puisi dan Makna Kontekstual
Peneliti harus memahami isi naskah terlebih dahulu. Setiap bait dibaca, diteliti maknanya, dan dicatat bagian mana yang memiliki potensi visual. Misalnya, ketika naskah menggambarkan genderang perjalanan atau perahu layar yang membawanya dari satu daerah ke daerah lain.
2. Alih Suara dan Alih Bahasa
Naskah berbahasa Sunda Kuno diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Tahap ini krusial karena kesalahan menerjemahkan dapat mengubah konteks visual yang ingin ditampilkan. Peneliti menggunakan referensi terjemahan sebelumnya dari Tien Wartini dan Undang Ahmad Darsa.
3. Eksplorasi Visual Berbasis Kearifan Lokal
Motif tidak boleh sekadar “indah”, tetapi harus mewakili makna aslinya. Tim peneliti menggali ikonografi Sunda, simbol-simbol perjalanan, dan elemen geografis yang relevan. Mereka menafsirkan bait puisi ke dalam bentuk ilustrasi awal.
4. Digitalisasi dan Pemurnian Motif
Setelah bentuk visual dasar tercipta, peneliti melakukan digitalisasi. Tahap ini memungkinkan motif distilir, disempurnakan, dan diuji kesesuaiannya dalam pola batik. Digitalisasi juga menjadi jembatan antara riset akademis dan produksi batik modern.
5. Penyusunan Pola Batik Final
Hasil digitalisasi disusun dalam pola batik yang siap diproduksi. Dari proses inilah lahir motif seperti Perahu Layar yang menggambarkan perjalanan sang pangeran, serta Genderang yang melambangkan ritme langkah spiritualnya mengembara dari Pakuan hingga Bali.
6. Implementasi pada Kain
Tahap akhir adalah eksekusi oleh para pembatik. Dengan canting dan pewarna alami, motif-motif yang sebelumnya hanya hidup dalam naskah lontar akhirnya hadir sebagai kain batik kontemporer—wujud baru dari warisan lama.
Ketika Batik Menjadi Penghubung Waktu
Kehadiran batik Bujangga Manik membuat sebuah naskah kuno yang nyaris terlupakan dapat hidup kembali dalam bentuk yang indah, relevan, dan bernilai ekonomi bagi UMKM. Bahkan, maestro batik Komarudin Kudiya memberikan apresiasi mendalam atas metode ilmiah yang diterapkan.
Kisah Bujangga Manik bukan hanya tentang seorang pengembara, melainkan juga tentang perjalanan budaya. Dari daun lontar di Oxford, kembali menjadi batik di Bandung—ia menemukan rumah barunya. Melalui sains dan seni, generasi hari ini tak hanya membaca sejarah, tetapi dapat memakainya, membawanya dalam kehidupan sehari-hari, dan meneruskan warisan itu ke masa depan.
Iwan Santosa, S.T., M.Kom., MIPR adalah praktisi media & kehumasan, Ketua Pelaksana Resona Saintek UK Maranatha, dan Anggota Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia. Tulisan ini tidak hanya ekspresi kecintaannya pada batik, juga merupakan bagian dari program Pemberdayaan Sains dan Teknologi dalam Pelestarian Budaya Asli Indonesia, didukung oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Republik Indonesia melalui Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek).

