Workshop Batik Pendulum yang digelar di Gedung Kepatihan Pakualaman Yogyakarta ini menjadi simbol bagaimana batik mampu bergerak luwes di antara tradisi dan inovasi.
Batik Pendulum menghadirkan pendekatan eksperimental yang tetap berpijak pada esensi batik. Menggunakan corong pendulum yang digantung pada rangka besi, malam cair panas dilepaskan dan mengikuti ayunan alami. Dari gerak itulah muncul garis-garis melengkung yang spontan, organik, dan estetis di atas kain putih. Proses ini mempertemukan fisika gerak dengan filosofi batik tradisional—sebuah perjumpaan unik yang menegaskan bahwa inovasi dapat tumbuh tanpa meninggalkan akar budaya.
Nuansa internasional terasa ketika Dr. Laretna Larasati tiba bersama rombongan mahasiswa asing yang tengah mempelajari seni tekstil. Ketertarikan mereka begitu besar, terutama setelah melihat bagaimana teknik ini menggabungkan kontrol manusia dengan kebebasan pola. Dua mahasiswa mencoba langsung mengayunkan pendulum, dan kekaguman mereka terlihat jelas saat menyaksikan pola-pola organik terbentuk. Momen tersebut mempertunjukkan daya tarik batik Indonesia yang tak mengenal batas usia, negara, maupun latar budaya.
Sebelum sesi praktik berlangsung, peserta mendapatkan lima buku eksklusif Batik Pendulum karya Komarudin Kudiya. Buku tersebut menjadi bekal penting bagi peserta untuk memahami sejarah, filosofi, serta eksplorasi awal teknik pendulum. Pembagian buku ini juga menegaskan bahwa Batik Pendulum bukan sekadar eksperimen visual, tetapi bagian dari perjalanan inovasi panjang yang menghidupkan ekosistem batik kontemporer Indonesia.
Suasana workshop semakin hangat dengan kehadiran Komunitas Arts For Children (AFC) Yogyakarta. Anak-anak berusia 10–15 tahun itu mencoba mengayunkan pendulum dengan pendampingan ketat. Sorakan kecil mereka ketika melihat garis unik terbentuk menunjukkan bahwa kreativitas dapat menjadi jembatan generasi. Workshop ini membuktikan bahwa mengenalkan batik kepada anak-anak tidak harus kaku—ia bisa menyenangkan, eksploratif, dan aman.
Antusiasme juga datang dari para perajin dewasa. Perajin dari Kudus bahkan menyampaikan minat untuk membawa pulang corong pendulum demi mengembangkan teknik ini di daerahnya. Hal ini memperlihatkan potensi besar Batik Pendulum sebagai medium pengembangan identitas lokal. Setiap daerah dapat memadukan gerak pendulum dengan kekhasan motif, warna, atau filosofi budaya masing-masing.
Gerak ayunan pendulum melambangkan perjalanan APPBI: stabil, berpola, namun terus bergerak ke arah masa depan yang lebih luas. Aliran malam mencerminkan keberlanjutan tradisi, sementara garis-garis unik yang tercipta menjadi metafora harmoni keberagaman Nusantara.
Workshop ini menyampaikan pesan penting: inovasi tidak pernah bertentangan dengan tradisi; eksperimen adalah bagian dari perkembangan batik; dan generasi muda harus diberi ruang untuk mencoba hal baru. Dari ruang workshop itu, lahir optimisme untuk masa depan batik Indonesia—bahwa kolaborasi, kreativitas, dan keberanian mencoba dapat membawa batik menuju babak baru yang lebih visioner.
Ditulis oleh: Komarudin Kudiya

