https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

16 Tahun Batik Chic – Keteguhan Novita Yunus Mengubah Kriya Menjadi Investasi Budaya

Batik Chic menunjukkan keteguhan Novita Yunus membangun karya kriya go global, mengalahkan Cina, dan jadikan batik sebagai investasi budaya.

Enam belas tahun bukan waktu yang singkat, tetapi bagi Novita Yunus, pendiri Batik Chic, perjalanan itu justru menjadi saksi bagaimana mimpi, disiplin, dan keberanian bisa mengubah seni kriya menjadi gerakan budaya. Meski berasal dari dunia perbankan, ia membawa bekal yang justru menjadi pondasi terpenting bagi bisnis kreatifnya: disiplin, manajemen risiko, dan jaringan. Tiga hal inilah yang membuat Batik Chic tidak tumbuh secara terburu-buru, tetapi bertumbuh “organik”, terukur, dan tetap setia pada nilai budaya.

Novita mengaku bahwa sejak awal ia memiliki tekad menjadikan batik sebagai karya yang dapat melangkah ke panggung global. Tahun pertama Batik Chic berdiri, ia sudah memberanikan diri pameran di Singapura. Respons pasar sangat positif—bahkan ia menerima pesanan seribu tas dalam satu waktu. Namun sebuah kejadian kecil menjadi alarm penting: seorang klien tanpa sadar meminta agar ia menggunakan motif batik negara lain. Novi menolak dengan tegas. Baginya, Batik Chic adalah rumah bagi batik Indonesia, bukan yang lain.

Namun tonggak terbesar justru muncul pada 2014. Seorang calon klien datang bukan untuk membeli tas, tetapi desainnya. Ia berniat memproduksi tas tersebut di Cina dan sanggup membuat seratus tas per bulan—jauh lebih besar dari kapasitas Batik Chic saat itu. Ketika Novi menolak, sang klien mengajukan tantangan yang hampir mustahil: “Saya butuh seribu tas per hari selama tiga bulan.”

Alih-alih mundur, Novi meminta dua minggu. Ia melakukan perjalanan maraton—Jakarta, Tajur, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Surabaya—mencari pengrajin yang mampu menghasilkan pola dan detail setara Batik Chic. Dalam waktu singkat, ia berhasil membentuk jaringan produksi baru, menstandarkan kualitas, dan membuktikan kepada klien bahwa Indonesia sanggup. Proyek “seribu satu malam” itu akhirnya terlaksana: setiap hari sebuah truk berisi seribu tas dikirim ke gudang klien. Bahkan gudang yang biasanya diisi produk Cina sempat penuh oleh karya Batik Chic.

Bagi Novi, itu adalah momen penanda: bahwa kualitas, kemitraan, dan keberanian bereksperimen dapat mengalahkan dominasi produksi massal negara lain. Dan itulah salah satu milestone terbesar dalam 16 tahun Batik Chic.

Dalam perjalanan panjang itu, Novi juga menyadari bahwa batik memiliki dinamika ekonominya sendiri. Ia menyebut batik sebagai investasi budaya. Harga batik karya baik naik pesat karena jumlah pengrajin berkualitas semakin sedikit, sementara peminatnya meningkat. Ia mencontohkan koleksi yang dulu ia beli seharga Rp200 ribu, hanya dalam tiga tahun nilainya melonjak menjadi Rp1,5 juta. Itulah bukti bahwa batik bukan hanya fesyen—ia adalah kekuatan ekonomi yang tumbuh dari tradisi.

Namun ia tidak menutup mata: daya beli menengah ke bawah sedang melemah, dan ratusan desainer merasakan tekanan serupa. Tetapi baginya, kreativitas tidak boleh berhenti. “Apa iya kita mau diam terus?” katanya. Sikap optimistis inilah yang membuat Batik Chic tetap relevan, tetap hidup, dan tetap menjadi inspirasi para perajin muda. Enam belas tahun Batik Chic bukan sekadar usia, melainkan sebuah pengingat bahwa perjalanan kreatif memang tidak pernah mudah. Tetapi seperti yang dibuktikan Novita Yunus, keteguhan untuk menjaga budaya, keberanian untuk bermimpi besar, dan disiplin untuk mengeksekusi adalah kunci agar batik Indonesia terus menemukan tempatnya di dunia.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Workshop Batik Pendulum menutup Sewindu APPBI dengan inovasi, kolaborasi, dan harapan baru bagi perkembangan batik tradisi dan kontemporer.

Workshop Batik Pendulum: Ketika Inovasi dan Tradisi Tak Harus Berseberangan

Dian Eka Harianti resmi pimpin Kelurahan Kebon Pala Jakarta Timur — warga berharap kepemimpinan baru bawa kebersihan, keamanan, dan harapan baru.

Lurah Wanita Pimpin Kelurahan Kebon Pala, Makasar, Jakarta Timur