Ketika berbicara tentang batik tulis, Pamekasan di Madura bukan sekadar daerah penghasil batik—ia adalah napas budaya, denyut ekonomi rakyat, dan contoh nyata betapa tradisi dapat bertahan sekaligus berkembang.
Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) Komarudin Kudiya pada sesi webinar Caretanah Sabut menceritakan dirinya bersama para pengurus APBBI pernah hadir langsung ke Pasar 17 Agustus Pamekasan, sebuah ruang budaya yang hidup, bukan hanya tempat transaksi. Pasar ini buka dua kali seminggu, namun denyutnya seperti tidak pernah padam. Para perajin datang bukan sekadar untuk berjualan, melainkan membawa identitas dan kehormatan budaya.
Pasar Batik Tulis Terbesar di Dunia
Pada akhir 2019, berdasarkan data empiris dan pengamatan langsung, kami sepakat menetapkan pasar ini sebagai pasar batik tulis terbesar di Indonesia—bahkan dunia. Keputusan ini bukan klaim kosong. Kami membandingkan dengan Cirebon, Pekalongan, Yogyakarta, hingga Solo.
Perbedaannya jelas: pasar-pasar itu bercampur dengan berbagai tekstil bercorak batik, termasuk printing.
Di Pamekasan? Tidak ada batik printing sama sekali.
Yang hadir hanya karya tulis otentik, hasil tangan dan hati.
Lebih mengagumkan lagi, 6.000 perajin batik hidup dan berkarya di wilayah itu. Mereka tidak sekadar membatik sebagai profesi—mereka memakai batik setiap hari sebagai pakaian keseharian. Batik bukan busana; ia adalah jati diri.
Harga yang Menggambarkan Perjalanan
Di Pasar 17 Agustus, kita menemukan spektrum harga yang mencerminkan proses panjang kreativitas dan keterampilan:
- Rengsi (reng-rengan + isen) — kain sarung atau panjang yang sudah dililin, diberi motif, belum diwarnai
Mulai Rp50.000 - Batik dengan satu atau dua kali pewarnaan
Sekitar Rp100.000 - Batik colet, pewarna rapin, remazol, atau prosion
Rp150.000–Rp200.000 - Karya premium
Hingga Rp2 juta–Rp3 juta
Subhanallah, kain sebesar itu, nilai budaya sebesar itu, masih bisa kita temukan dengan harga sangat terjangkau—sungguh bukti kerendahan hati budaya Madura.
Tradisi yang Terjaga, Ekonomi yang Bangkit
Batik Pamekasan dan Madura pada umumnya—termasuk Tanjung Bumi dan Bangkalan—masih tumbuh dengan sangat baik. Di tengah gempuran modernisasi dan industri tekstil cepat, mereka berdiri tegak membawa panji keaslian.
Mereka adalah teladan bahwa budaya bukan hanya warisan, tetapi juga modal ekonomi rakyat.
Pamekasan mengajarkan kita bahwa batik bukan sekadar komoditas—ia adalah doa, kesabaran, dan kebanggaan.
Semoga kesejahteraan para perajin terus meningkat, dan pasar 17 Agustus tetap menjadi mercusuar batik tulis dunia.
Terima kasih kepada semua pihak yang terus mendukung batik Indonesia. Semoga dalam pertemuan mendatang, kita dapat kembali menghadirkan tokoh-tokoh batik inspiratif lainnya untuk memperkuat ekosistem budaya kita.
Batik hidup karena kita menjaga, menghargai, dan menggunakannya. Mari terus membatikkan Indonesia.

