https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Prof. Dr. Kasiyan: AI dalam Batik, Tantangan dan Praksis Budaya

AI hadir dalam batik, kata Prof. Kasiyan, harus jadi alat yang menjaga nilai budaya, bukan menggantikannya, demi praksis yang bermakna.

Di tengah riuh sorakan apresiasi untuk peluncuran buku Revolusi Batik Artificial Intelligence karya Komarudin Kudiya, suasana aula di Swiss-BelResort Dago, Bandung sore itu menghangat. Tak sekadar merayakan sebuah terobosan, acara ini menjadi panggung refleksi—tentang bagaimana teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), bisa masuk ke jantung tradisi membatik tanpa mencabut akarnya.

AI hadir dalam batik, kata Prof. Kasiyan, harus jadi alat yang menjaga nilai budaya, bukan menggantikannya, demi praksis yang bermakna.

Prof. Kasiyan, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta tak mengaku sebagai ahli batik, namun jelas ia datang dengan bekal pandangan kultural yang tajam.

“Pak Komar ini akan mengembangkan budaya membatik dengan teknologi yang sekarang, yaitu artifisial. Culture-nya tetap ada, nilai-nilainya tetap ada, tapi bagaimana membuatnya mengikuti pertimbangan zaman,” ujarnya, menggarisbawahi bahwa terobosan ini bukan sekadar soal teknis, tetapi juga filosofi.

Bagi Prof. Kasiyan, kunci dari penerapan AI pada batik terletak pada kata pro—prompt, atau instruksi yang diberikan kepada mesin. Salah langkah sedikit saja, hasil visual bisa melenceng jauh dari nilai estetika batik. Ia menekankan bahwa AI hanyalah alat; sentuhan manusia dengan touch experience dan touch knowledge tetap menjadi jiwa dari karya itu.

Namun, pembicaraannya tak berhenti pada aspek teknis. Prof. Kasiyan mengajak audiens mundur jauh ke masa silam, membandingkan AI dengan temuan-temuan teknologi awal seperti kapak genggam.

“Dulu, dalam konteks zamannya, itu luar biasa. Sama seperti AI hari ini—mengguncang kesadaran kita,” katanya. Bedanya, jika teknologi masa lalu berperan membantu fisik manusia, AI menyentuh dimensi yang lebih esensial: akal dan kesadaran.

Ia menyebut akal sebagai anugerah tertinggi Tuhan kepada manusia—privilege yang bahkan malaikat tak miliki. Karena itu, ketika AI mulai memasuki wilayah kreativitas dan pengambilan keputusan, tantangan utamanya adalah menjaga agar dimensi ruhani dan refleksi manusia tidak tersingkir. Di sinilah Prof. Kasiyan mengangkat istilah praksis—bukan sekadar praktis. Praksis, menurutnya, adalah tindakan yang menyatukan aksi dan refleksi, sehingga setiap penggunaan teknologi tetap berpijak pada nilai dan makna.

Dengan gaya bercerita yang ringan, ia bahkan menyinggung contoh sehari-hari—dari penggunaan rice cooker hingga kebiasaan mengunci pintu rumah—untuk menunjukkan betapa sulitnya mengubah mindset terhadap teknologi baru. Perubahan, katanya, selalu membawa beban psikologis, apalagi jika menyentuh keyakinan dan kebiasaan yang telah mendarah daging.

Menutup pandangannya, Prof. Kasiyan mengajak semua pihak melihat AI bukan sebagai ancaman, melainkan tantangan yang bisa menjadi berkah jika dikelola dengan tepat. “Harapannya, kehadiran teknologi AI dalam konteks batik ini menjadi bagian dari proses kebudayaan, bukan akhir darinya,” ucapnya. Sore itu, di antara kain-kain batik yang memamerkan kolaborasi antara tangan manusia dan algoritma, pesan Prof. Kasiyan menggaung jelas: teknologi boleh berubah, tetapi nilai dan ruh budaya harus tetap tegak. AI hanyalah alat—manusia, dengan akal dan kesadarannya, tetaplah sang pembatik sejati.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Integrasi AI dan batik jaga nilai budaya, percepat desain, lindungi HAKI, tarik minat Gen Z lewat buku Revolusi Batik AI.

Peluncuran Buku “Revolusi Batik Artificial Intelligence” Soroti Kolaborasi Budaya dan Teknologi

Indra Sofyan dorong pelestarian batik di era AI dengan HAKI, edukasi Gen Z, dan wisata budaya seperti Kampung Batik di Bandung.

Dr. Iendra Sofyan, ST., M.Si: Menjaga Warisan Batik di Era AI dengan HAKI dan Literasi Generasi Muda