Tak pernah terlintas di benak seorang dr. Darajat, Sp. THT-KL bahwa hari ini ia akan menjadi dokter, apalagi dokter militer. Sejak kecil, cita-cita utamanya adalah menjadi penerbang. Selepas SMA, ia bersama beberapa teman mendaftar di Curug, sebuah sekolah penerbangan bergengsi. Tiga jurusan tersedia di sana: Penerbang, Teknik Mesin, dan Pengatur Lalu Lintas Penerbangan. Sayang, dari rombongan yang mendaftar, hanya satu orang yang lolos—dan itu pun bukan dirinya.
Tidak menyerah, ia mencoba jalur UMPTN dengan memilih jurusan kehutanan, terinspirasi dari hobinya mendaki gunung dan impian berpetualang di rimba Kalimantan. Namun hasilnya kembali sama: gagal. Ia pun memutuskan untuk menunda kuliah setahun.

Tak disangka, jalan hidupnya berbelok lewat sebuah kebetulan. Seorang teman SMA meminta ditemani mendaftar ke fakultas kedokteran di universitas swasta. Dari sana, langkah kaki membawa mereka ke Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang baru saja membuka fakultas kedokteran. Biaya kuliah yang terjangkau—bahkan ada potongan khusus bagi anak tentara—membuatnya tergoda untuk ikut mendaftar.
“Awalnya cuma ikut teman,” kenangnya sambil tersenyum.
Namun siapa sangka, itu menjadi pintu masuk ke profesi yang akan ia tekuni sepanjang hidup.
Dari KOAS ke Baju Loreng
Setelah meraih gelar sarjana kedokteran, ia menjalani masa KOAS di berbagai rumah sakit besar: Gatot Subroto, Mintoharjo, RS Polri Sukanto, dan RS Margono Purwokerto. Saat itulah sebuah pengumuman kampus mengubah arah kariernya: pendaftaran Perwira Beasiswa TNI dibuka.
Meski orang tuanya seorang tentara, tak pernah ada paksaan untuk mengikuti jejak mereka.
“Pikir saya sederhana: kalau lulus, alhamdulillah. Kalau tidak, ya tetap jadi dokter,” ujarnya.
Ternyata ia lulus. Setelah KOAS, ia langsung melapor ke Kodam, mengikuti pendidikan militer di Magelang, dan resmi dilantik sebagai Letnan Dua.

Misi di Medan Sulit
Penugasan sebagai dokter militer membawanya berkeliling Indonesia: Palembang, Lampung, Bengkulu, Bandung, Ambon, Purwokerto, Semarang, Magelang, hingga kembali lagi ke Purwokerto. Namun dua daerah meninggalkan kesan paling mendalam: Aceh dan Papua.
Tahun 2004, pemilik pangkat Letnan Kolonel CKM ini ditempatkan di Aceh, saat konflik dengan Gerakan Aceh Merdeka masih berlangsung. Penempatan di Tapaktuan membuatnya selamat dari terjangan tsunami, tetapi dua hingga tiga minggu kemudian ia dikirim dan baru melihat langsung kehancuran di Meulaboh.
“Masyarakat setempat waktu itu awalnya antipati, tapi dengan adaptasi budaya dan pendekatan kemanusiaan, hubungan jadi membaik,” kenangnya.
Di Papua, tantangannya berbeda. Malaria menjadi musuh terbesar, bahkan ia sendiri pernah terjangkit hingga harus diinfus di kedua tangan. Perjalanan darat kerap terhambat lumpur, membuat evakuasi pasien memakan waktu cukup lama. Hampir semua prajurit pernah merasakan sengatan penyakit itu.

Menjadi Spesialis dan Ketua Komite Medis
Setelah masa dinas dan dua kali ikut operasi penugasan, ia mengajukan diri untuk sekolah spesialis THT di Universitas Padjadjaran, Bandung. Lulus, ia kembali ke lapangan, bertugas di Ambon (2014–2017), lalu mengikuti sekolah perwira lanjutan di Jakarta.
Kini, di Purwokerto, ia menjabat Ketua Komite Medis, mengawasi pelayanan dokter, melakukan verifikasi kredensial, menyusun SOP, hingga membahas kasus melalui rapat klinik dan morning report.
Menjaga Keseimbangan
Di luar jam dinas, ia membuka praktik di Klinik Brayan Sehat, selain menjadi spesialis THT, juga melayani MCU perusahaan. Sebelumnya ia juga melayani di rumah sakit umum, namun kini memilih mengatur ritme kerja agar tetap punya waktu untuk keluarga.
“Bagi saya, hidup harus seimbang. Pekerjaan penting, tapi keluarga adalah sumber energi. Capek sebesar apa pun, begitu bertemu anak istri, rasanya lelah hilang,” tuturnya.
Filosofi Batik dan Kehidupan
Bagi dirinya, filosofi batik mencerminkan jalan hidup yang ia jalani. Pakem dan tradisi perlu dijaga, namun adaptasi terhadap perkembangan zaman adalah kunci.
Di kedokteran militer, ia belajar bahwa setiap daerah punya budaya dan tantangan berbeda, dan hanya mereka yang mampu menyesuaikan diri yang dapat bertahan.
Seperti batik yang memadukan motif klasik dengan sentuhan modern tanpa kehilangan identitas, begitu pula ia memadukan disiplin militer dengan sentuhan kemanusiaan dalam setiap tugasnya.
Perjalanannya membuktikan satu hal: kadang jalan hidup tidak selalu mengikuti rencana awal, tapi setiap tikungan membawa pelajaran berharga—asal kita mau melangkah.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

