https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Dudung Aliesyahbana: Batik, Ekspetasi, dan Masa Depan Batik Indonesia Untuk Dunia

Dudung Aliesyahbana maknai batik sebagai refleksi spiritual, warisan budaya, dan medium kontemplasi yang relevan di era digital.

Di antara derasnya gelombang tradisi dan inovasi, batik Indonesia sedang berdiri di titik yang menentukan: apakah ia akan terus hidup, atau hanya dikenang? Sebagai pembatik yang telah melalui jalan panjang sejak sebelum pengakuan UNESCO pada 2009, saya percaya: batik akan tetap hidup jika kita bersedia menghidupkannya, bukan sekadar melestarikannya.

Dudung Aliesyahbana maknai batik sebagai refleksi spiritual, warisan budaya, dan medium kontemplasi yang relevan di era digital.
Dudung Aliesyahbana maknai batik sebagai refleksi spiritual, warisan budaya, dan medium kontemplasi yang relevan di era digital.

Saya pernah disebut pembatik “liar”, bahkan “murtad”, hanya karena saya memilih jalur berbeda. Tapi saya tidak marah. Saya menghormati semua persepsi—baik yang ingin menjaga warisan, maupun yang membuka ruang pembaruan. Karena budaya tidak bisa dibekukan. Budaya itu hidup, dan yang hidup pasti tumbuh, berubah, dan berdialog dengan zamannya.

Warisan Bukan Berarti Mandek

Mereka yang menjaga pakem dan teknik lama adalah penjaga gerbang sejarah. Mereka penting. Tapi itu tidak berarti kita menolak teknologi atau ide baru. Jangan sampai kita bangga batik diakui dunia sebagai warisan budaya tak benda, tapi justru menolak perkembangan di dalam negeri. UNESCO sendiri tidak membakukan bentuk batik, tapi menekankan pada nilai-nilainya: keterampilan yang diwariskan, alat tradisional seperti canting dan malam, serta makna-makna budaya yang melekat.

Jadi, mau pakai fraktal, AI, atau bahkan Chat GBT untuk eksplorasi desain—silakan. Tapi proses batiknya harus tetap memegang akar, harus ada unsur keterampilan manusia dan alat tradisional di situ.

Bukan Spanduk, Tapi Jiwa

Batik bukan sekadar motif. Ia adalah folk art — seni rakyat. Motif-motif seperti kawung, parang, dan megamendung adalah milik publik, bukan milik satu daerah atau kelompok. Saya heran ketika ada yang ingin mematenkan motif warisan leluhur. Yang kita warisi adalah nilai dan keterampilan, bukan benda atau hak atas bentuk.

Jika ingin menciptakan motif baru berdasarkan imajinasi pribadi, silakan. Itulah proses kreatif. Tapi jangan mencetaknya secara massal dengan mesin printing lalu menyebutnya batik. Itu spanduk bermotif batik, bukan batik.

Jangan Ejek Penjaga Warisan, Juga Jangan Cemooh Inovator

Saya melihat dua kesalahan sering terjadi: yang muda mengejek yang tua karena dianggap kolot, dan yang tua mencemooh yang muda karena dianggap menghina tradisi. Dua-duanya salah. Tanpa orang-orang konservatif, kita tidak tahu dari mana kita berasal. Tanpa inovator, kita tidak tahu akan ke mana batik dibawa.

Batik yang hidup adalah batik yang punya akar kuat dan sayap lebar.

Contohnya warna kimia. Dulu dianggap penyimpangan. Tapi faktanya, justru menyelamatkan batik dari kepunahan. Hari ini, kesadaran akan warna alami malah tumbuh kembali, sebagai bagian dari kesadaran ekologis. Artinya, perkembangan teknologi pun bisa membawa kita kembali ke nilai lama dengan cara baru.

Batik, Hari Ini dan Nanti

Batik bukan hanya untuk ritual seperti tujuh bulanan atau pernikahan. Kalau kita hanya memakainya untuk acara adat, ia akan cepat punah. Batik harus menyatu dalam kehidupan sehari-hari: dipakai, dijual, dibicarakan, bahkan dieksplorasi dalam ruang akademik—sosiologi, desain, arsitektur, sampai teknologi digital.

Saya selalu bilang pada generasi muda: jangan cuma ambil ekonominya. Kuasai filosofinya, prosesnya, maknanya. Masuklah lewat pintu mana pun yang kamu bisa. Karena batik itu lintas disiplin.

Tentang Halal? Jangan Dibodohi

Soal sertifikasi halal untuk batik? Saya bilang itu pembodohan. Dalam fikih Islam sudah jelas cara menyucikan najis. Tak perlu label halal di kain. Apakah air liur anjing yang kena kain batik akan membuat kita haram pakai? Cuci tujuh kali, yang terakhir pakai tanah. Selesai.

Kalau karena tak ada sertifikasi lalu batik kita dilarang ekspor? Saya jawab: saya nggak niat ekspor. Batik saya bukan buat semua orang. Batik saya yang memilih siapa pemakainya.

Menjaga, Menghidupkan, Mewariskan

Saya sering bilang, kita ini generasi jembatan. Tidak lagi di masa lalu, belum sampai ke masa depan. Jangan hanya pamer kejayaan dulu. Kalau lampu sudah padam, penonton sudah bubar, jangan terus teriak-teriak di panggung.

Sudah waktunya kita mendidik yang muda. Ceritakan pengalaman. Ajarkan nilai. Bawa mereka pulang pada jati dirinya, bukan sekadar diajari cara membatik.

Karena kalau belum pulang, kita belum tahu siapa diri kita.

Batik akan hidup jika ia punya akar, punya ruang tumbuh, dan punya penerus. Jangan kita jadi generasi yang hanya membingkai masa lalu, tapi enggan merancang masa depan.
Dudung Aliesyahbana

Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Perjalanan dokter TNI dari cita-cita penerbang, misi di medan konflik, hingga menemukan keseimbangan hidup dan filosofi batik.

dr. Darajat,Sp.THT-KL: Penerbang, Dokter Militer, dan Batik

Slamet Hadipriyanto - pengelola generasi ketiga Batik Hadipriyanto - menyalakan kembali semangat yang diwariskan keluarganya sejak sebelum kemerdekaan

Slamet Hadipriyanto: Menjaga Cablaka Banyumas di Tengah Gelombang Zaman