Di balik suksesnya operasional Kereta Cepat Whoosh yang kini makin diminati masyarakat, ada peran penting yang jarang terlihat: Corporate Secretary. Bukan sekadar urusan dokumen atau kepatuhan, posisi ini memegang peranan strategis dalam membangun citra dan budaya perusahaan, terutama dalam perusahaan joint venture seperti KCIC. Dengan Batiklopedia.com, Corporate Secretary PT. KCIC Eva Chairunisa mengungkap tugas-tugasnya, tantangan, hingga filosofi di balik komunikasi publik yang dijalankan.

Apa sebenarnya tugas seorang Corporate Secretary di KCIC?
Tugas seorang Corporate Secretary (Corsek) di KCIC itu cukup luas. Kami tidak hanya menangani dokumentasi perusahaan atau aspek GCG (Good Corporate Governance), tapi juga membawahi fungsi Corporate Communication.
Jadi, selain memastikan perusahaan berjalan sesuai prinsip tata kelola yang baik, kami juga bertanggung jawab agar seluruh program dan kebijakan perusahaan bisa dikomunikasikan dengan baik—terutama kepada stakeholder eksternal seperti media, regulator, komunitas, dan masyarakat pengguna layanan.
Di sisi internal, kami juga memastikan jalur komunikasi berjalan lancar. Semua pegawai—baik karyawan tetap maupun outsourcing—harus memahami arah dan nilai-nilai perusahaan. Karena dalam layanan publik seperti Whoosh, semua pegawai adalah representasi langsung perusahaan.

Bagaimana bisa ditunjuk sebagai Corporate Secretary KCIC?
Saya memang sebelumnya di KAI, terakhir bertugas di DAOP 1 Jakarta di bidang kehumasan. Lalu pada Juni 2023 saya ditugaskan ke KCIC sebagai Corsek, karena saat itu Whoosh akan segera beroperasi pada Oktober 2023.
Penugasan ini tentu saya sambut sebagai berkah, sekaligus tantangan. KCIC adalah proyek strategis nasional dan menjadi pelopor transportasi berteknologi tinggi di Indonesia. Tapi saat itu, opini publik masih banyak yang negatif. Saya sadar, komunikasi publik harus dilakukan hati-hati dan strategis.

Lalu bagaimana strategi menghadapi krisis komunikasi tersebut?
Saya optimis karena sebelumnya pernah mengalami hal serupa saat revitalisasi KRL di KAI—yang juga penuh pro-kontra. Strategi kami saat itu, dan masih relevan di KCIC, adalah pendekatan langsung ke masyarakat.
Melalui program Whoosh Experience, masyarakat diberi kesempatan mencoba Whoosh secara gratis selama dua bulan. Kami ingin masyarakat merasakan langsung keunggulan Whoosh—cepat, nyaman, dan efisien. Opini mulai berubah sejak saat itu.
Kami juga luncurkan program Frequent Whoosher untuk penumpang rutin, dengan harga yang jauh lebih murah. Ada pula EduTrip, program edukasi untuk pelajar agar mengenal teknologi dan budaya transportasi baru, sekaligus menanamkan kedisiplinan.

Tantangan terbesar apa yang dihadapi dalam mengelola komunikasi KCIC?
Tantangan terbesarnya adalah menyatukan dua budaya, karena KCIC ini joint venture antara Indonesia dan Tiongkok. Ada pegawai dari Indonesia dan juga dari pemegang saham China. Butuh komunikasi yang kuat agar persepsi dan budaya kerja bisa disatukan.
Contohnya, soal aturan gate ditutup lima menit sebelum keberangkatan. Di Tiongkok, itu sudah hal biasa. Tapi di Indonesia, masyarakat masih sering protes. Tantangan kami adalah menjelaskan aturan seperti ini dengan pendekatan yang bisa diterima masyarakat, tanpa menimbulkan resistensi.
Bagaimana memastikan seluruh unit patuh terhadap regulasi dan tata kelola perusahaan?
Kami aktif melakukan sosialisasi ke seluruh unit. Kami tidak hanya mengawasi, tapi juga memberikan dukungan agar semua memahami dan memenuhi standar GCG. Bila ada dinamika di lapangan yang membutuhkan aturan baru, kami usulkan. Intinya, kami memastikan kebijakan manajemen dijalankan dengan konsisten dan adil.
Padahal latar belakang Anda bukan komunikasi, tapi bisa sangat fasih mengelola isu publik. Apa kuncinya?
Betul, latar belakang saya bukan dari komunikasi. Tapi saya percaya, komunikasi itu adalah bagian dari hidup. Sejak lahir kita sudah berkomunikasi. Tinggal bagaimana membentuk pola komunikasi yang baik.
Kuncinya dua: menghargai orang lain dan memiliki etika. Kalau dua hal ini dijalankan, komunikasi di perusahaan akan berjalan lancar. Terutama di posisi seperti Corsek dan Humas yang menjadi support system semua unit—kita tidak bisa bekerja secara eksklusif.
Kalau soal capaian, bagaimana mengukur keberhasilan fungsi Corporate Secretary?
Itu memang tidak bisa diukur dengan angka seperti unit komersial atau ticketing. Tapi kita bisa lihat dari perubahan citra KCIC dan kepercayaan publik. Ketika opini positif meningkat, volume penumpang ikut naik. Itu artinya komunikasi publik berhasil.
Kami punya alat seperti media monitoring untuk melihat porsi pemberitaan positif atau negatif. Tapi ukuran sesungguhnya adalah ketika masyarakat percaya pada layanan kami—dan itu tercermin dari meningkatnya jumlah pengguna Whoosh, bahkan mencapai 26.000 penumpang di hari-hari libur seperti kemarin. Di weekday, rerata 16 ribu penumpang terangkut.

Soal motif batik Megamendung yang jadi ciri khas Whoosh, apa latar belakang penyematannya?
Motif megamendung disematkan di kereta Whoosh bukan tanpa alasan. Awalnya, pemilihan motif ini merupakan hasil diskusi bersama—bukan hanya dari KCIC, tapi juga dengan regulator dan pemegang saham. Karena ini proyek strategis nasional, maka aspek visual seperti motif batik juga dibahas serius.
Megamendung itu bukan sekadar ornamen. Itu batik khas Cirebon, mewakili budaya Jawa Barat, wilayah operasional Whoosh. Filosofinya pun dalam: awan mendung adalah simbol kesejukan dan harapan akan turunnya hujan—yang membawa kemakmuran.
Sama seperti Whoosh, kami berharap kehadiran kereta cepat ini tidak hanya memberi kemudahan transportasi, tapi juga membawa manfaat ekonomi, pariwisata, hingga mendukung transisi energi hijau. Dan secara pribadi, saya bangga setiap memakai batik Megamendung. Rasanya seperti mengenakan identitas perusahaan.
Jika dikaitkan, adakah filosofi antara batik dengan perjalanan KCIC?
Ada. Batik itu proses. Orang sering hanya melihat hasil akhirnya, padahal proses membuat batik itu panjang—perlu ketelitian, kesabaran, dan kerja detail. Sama dengan pekerjaan kami di KCIC.
Sebagai moda transportasi baru di Indonesia, kita tidak bisa buru-buru. Harus sabar menghadapi masyarakat, sabar melayani, sabar dalam membentuk budaya baru. Sama seperti pembatik: semakin sabar dan detail, hasilnya akan bernilai tinggi. Hasil kerja yang baik akan membentuk citra perusahaan yang baik, lalu menumbuhkan kepercayaan.
Begitu masyarakat percaya, mereka akan kembali menggunakan layanan kita. Itu berbanding lurus dengan peningkatan volume penumpang dan pendapatan. Dulu saat awal operasi, harga tiket sempat diragukan. Tapi kita terus edukasi, harga Rp150 ribu dinilai mahal, tapi sekarang dengan harga Rp350 ribu, volume penumpangnya bisa tembus 26.000 per hari.
Pesan untuk para perajin batik?
Perajin batik harus lebih kreatif dalam pemasaran. Sekarang ini zamannya digitalisasi. Nggak perlu lagi sewa toko atau pasang iklan di media konvensional. Gunakan media sosial, manfaatkan platform digital, bahkan dari rumah pun bisa.
Saya tahu ada banyak yang berhasil. Awalnya cuma jualan kecil-kecilan, modalnya terbatas, tapi karena konsisten memasarkan lewat media sosial, sekarang bisa beli kendaraan sendiri. Artinya apa? Potensinya besar, asal mau belajar dan kreatif.
Jadi tetap optimis. Meski kondisi ekonomi sedang menantang, peluang tetap ada. Orang yang suka belanja online itu banyak. Tinggal bagaimana kita sebagai pelaku UMKM bisa menangkap peluang itu.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

