Pekalongan – Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-19, Museum Batik Kota Pekalongan menggelar pameran spesial bertajuk Mbabar Mustiko dengan tema Titi Larasing Rasa. Pameran yang menampilkan karya-karya maestro batik dari berbagai daerah ini resmi dibuka pada Kamis malam (24/7/2025) oleh Wakil Wali Kota Pekalongan, Hj Balgis Diab, didampingi Kepala Dinparbudpora Sabaryo Pramono dan Kepala Museum Batik Nurhayati Sinaga.

Pameran ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan HUT Museum Batik yang telah berdiri sejak tahun 2006 sebagai salah satu garda terdepan pelestarian warisan budaya batik Indonesia.
“Alhamdulillah, di usia ke-19 ini, Museum Batik bisa menghadirkan karya-karya terbaik dari para maestro batik dari seluruh Indonesia, terutama dari Pulau Jawa. Tema Titi Larasing Rasa menyatukan lintas generasi dan lintas daerah,” ujar Balgis dalam sambutannya.
Ia juga mengajak masyarakat Pekalongan dan seluruh Indonesia untuk mengunjungi pameran ini sebagai bentuk apresiasi sekaligus kontemplasi terhadap filosofi batik yang kaya makna. “Batik adalah cermin kebijaksanaan lokal. Di tengah digitalisasi, kita ingin batik tetap hidup, relevan, dan lestari hingga generasi mendatang,” tegasnya.
Wawalkot Balgis juga menekankan peran penting Museum Batik Pekalongan dalam sejarah pengakuan batik oleh UNESCO. Ia menyebut bahwa Museum Batik Pekalongan merupakan pionir yang turut mengantar batik sebagai warisan budaya tak benda dunia, bersama Museum Batik di TMII Jakarta.
Senada dengan itu, Kepala Dinparbudpora Kota Pekalongan, Sabaryo Pramono, menyampaikan apresiasinya terhadap kiprah Museum Batik yang selama hampir dua dekade terus berkomitmen menjaga eksistensi batik.
“Semoga Museum Batik terus menjalankan tanggung jawabnya dalam pelestarian, pengembangan, dan edukasi batik kepada masyarakat luas,” ujar Sabaryo.
Rangkaian perayaan HUT ke-19 Museum Batik juga dimeriahkan dengan pameran koleksi batik dari 16 kolektor asal Kota dan Kabupaten Pekalongan, Cirebon, dan Yogyakarta, serta beragam lomba untuk pelajar sebagai upaya menanamkan kecintaan generasi muda terhadap batik.
Museum Batik Pekalongan sendiri merupakan bagian penting dari identitas Kota Pekalongan sebagai Kota Kreatif Dunia versi UNESCO dalam bidang kriya dan seni rakyat. Dengan semangat kolaboratif dan lintas generasi, museum ini terus mengukuhkan perannya sebagai pusat pelestarian batik di Indonesia.

