https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Panji Bharata: Bubur Ayam, Bulking, Dan Batik

Senior Manager Operation PT. Pelabuhan Tanjung Priok, Panji Bharata.

Di dunia kerja, idealisme sering kali harus berhadapan langsung dengan kenyataan. Naik turun karier tidak selalu soal jabatan atau gaji, tetapi tentang bagaimana seseorang bisa tetap setia pada nilai-nilainya, meski lingkungan tak selalu ramah. Panji Bharata adalah contoh seseorang yang meniti jalan panjang: dari berjualan bubur ayam, mengelola tangki timbun di perkebunan dan pelabuhan, hingga konteksnya dengan filosofi batik via cara ia bekerja.

Senior Manager Operation PT. Pelabuhan Tanjung Priok, Panji Bharata.
Senior Manager Operation PT. Pelabuhan Tanjung Priok, Panji Bharata.

Dari Bubur Ayam ke Dunia Teknik

Tahun 1994, di masa awal kuliah di Teknik Mesin Universitas Trisakti, Panji belum pernah membayangkan akan bekerja di sektor perkebunan atau bahkan pelabuhan. Saat itu, sembari kuliah, ia membantu tantenya berjualan bubur ayam. Menggunakan becak motor dan mobil Katana sebagai warung berjalan, Panji menikmati perannya bukan sebagai juru masak, melainkan sebagai pencuci mangkuk dan pemodal.

“Saya senang melayani orang. Bukan soal dagangnya, tapi interaksi dan kerja kerasnya,” katanya mengenang. Spirit melayani inilah yang diam-diam menjadi pondasi karakter kerjanya: siap turun tangan, siap kerja dari dasar.

Merantau ke Medan: Tantangan dan Tekanan

Setelah lulus dan mendapat gelar S1 Teknik Mesin, Panji diterima di anak perusahaan PTPN di Medan sebagai asisten teknik. Tantangan langsung datang. Di minggu pertama, ia sempat menangis dan ingin pulang ke Jakarta karena tak betah kehidupan rantau. Tapi sang ibu percaya dirinya sanggup melampaui fase tersebut.

Bahkan ibunya menyimpan semua surat panggilan kerja yang datang ke rumah. “Dia tahu kalau saya tahu, saya pasti pulang,” ujar pria kelahiran 8 Mei 1976 tersebut mengenang.

Kurun 2 tahun ia mulai betah dan bahkan menyukai hidup di rantau hingga jarang pulang.

Seiring waktu, ia dipercaya mengelola fasilitas tangki timbun (bulking) di Belawan dan Dumai—mencakup lebih dari 100 ribu ton kapasitas dan puluhan tangki. Namun, idealismenya sering berbenturan dengan budaya kerja di sana. Beberapa kali ia membongkar praktik curang, tapi justru ia yang dimutasi. “Saya tuh kayak duri buat mereka yang main kotor,” katanya.

Salah satu puncaknya adalah ketika ia harus pindah tugas secara mendadak di tengah program kehamilan sang istri. “Gagal. Bini saya sampai marah besar,” kenangnya dengan getir. Panji mencari cara agar bisa kembali ke tempat semula. Ia naik satu level, mencari dukungan dari atasan yang lebih tinggi. Hasilnya: hanya dua bulan setelah dipindahkan, ia kembali ke posisi semula.

Dari Teknik ke Strategi Bisnis

Pengalaman pahit di lapangan membuatnya ingin memahami dunia kerja dari sisi strategis. Ia lalu melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 di IPB, mengambil jurusan Strategic Management and Business Planning. “Saya ingin tahu bagaimana perusahaan bisa tumbuh. Saya pakai pendekatan balance scorecard,” ujarnya.

Dari sini, ia belajar tentang pentingnya keseimbangan antara strategi, proses bisnis, SDM, dan keuangan. Ilmu ini kelak menjadi bekalnya saat menyeberang ke salah satu BUMN besar: Pelindo.

Eksekusi Seorang Visioner

Saat masuk ke Pelindo, Panji sudah bukan teknisi biasa. Ia seorang profesional dengan syarat tegas: jabatan setara VP, status karyawan tetap, dan kompensasi yang sepadan. Ia dipercaya mengawal transformasi operasional terminal curah cair pasca-IPO.

Di sana, ia mencetuskan berbagai inovasi, termasuk sistem mobile batching dengan sensor otomatis, yang mempercepat proses bongkar muat tanpa perlu jembatan timbang. Ia juga memimpin transformasi enam pilar—dari sistem, SDM, infrastruktur, keselamatan, hingga budaya kerja.

“Sekarang Pelindo makin kompleks. Birokrasinya panjang. Tapi tetap, kinerja bongkar muat harus naik. Kalau kita lambat, customer bisa pindah ke pelabuhan lain,” katanya.

Batik dan Etos Kerja

Di balik kesibukannya, Panji menyimpan kegemaran yang cukup unik: batik. Ia bukan kolektor fanatik, tapi pencinta bentuk dan keseimbangan. “Saya suka batik Madura. Tajam warnanya. Saya juga suka motif simetris. Kalau dikancing, nyambung motifnya,” katanya.

Setiap Jumat, ia rutin memakai batik. Bukan karena peraturan, tapi karena panggilan budaya. Ia mencari batik yang tak umum—agar ketika dipakai, tak ada yang mengenakan motif serupa. “Bikin lebih pede aja rasanya,” ujarnya.

Batik, menurut Panji, bukan sekadar busana, tapi refleksi nilai hidup. “Batik itu sabar dan teliti. Sama seperti kerja saya,” ucapnya. Sebagai pribadi perfeksionis, Panji mengaku sering memeriksa ulang pekerjaan orang lain sebelum menyetujuinya. “Harus yakin nggak ada yang salah,” tegasnya.

Ia juga punya pandangan terhadap para perajin batik. Menurutnya, idealisme perajin itu mulia, tapi pasar tetap harus dipertimbangkan. “Kalau tetap keras kepala, bisa mati. Tapi kalau punya dua jalur produk—yang heritage dan yang mengikuti tren—dia bisa survive.”

Dari mangkuk bubur hingga tangki timbun, Panji Bharata telah melalui banyak fase. Tapi satu hal yang tetap: ketekunan dan kesetiaan pada nilai. Dalam hidup yang terus berubah, ia memilih untuk terus belajar—seperti batik yang terus berkembang tanpa meninggalkan akarnya.

Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Ade Kurniawan DP, VP Sales & Marketing Sinergi Informatika Semen Indonesia

Ade Kurniawan DP: Sales, Batik, Dan Kerja Pintar

buku primbon jawa

Kelahiran Jumat Wage: Bintang Prabu Anom, Cahaya Ikhlas dalam Jalan Kehidupan