https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Alvi Sofran: Batik dan Supercar Dua Dunia Satu Filosofi

Alfi Sofran menyebut ada kesamaan unik antara batik dan supercar: simbol seni, identitas, dan investasi bernilai tinggi yang mencerminkan gaya dan karakter.

Di tengah gemerlap dunia otomotif kelas atas dan dinamika pasar mobil supercar, ada satu sisi unik yang jarang terungkap dari para pelakunya: kecintaan pada warisan budaya, seperti batik.

Moch Alvi Sofran Naryatmo atau akrab disapa Alvi Sofran ini merupakan CMO Rocket Motor Company yang memiliki dua showroom otomotif – satu untuk mobil premium harian dan satu untuk mobil hobi – membagikan pandangannya tentang batik dan usaha otomotif yang ditekuninya sejak 2022 tersebut.

Alfi Sofran menyebut ada kesamaan unik antara batik dan supercar: simbol seni, identitas, dan investasi bernilai tinggi yang mencerminkan gaya dan karakter.
Alfi Sofran menyebut ada kesamaan unik antara batik dan supercar: simbol seni, identitas, dan investasi bernilai tinggi yang mencerminkan gaya dan karakter.

Dampak Pandemi dan Dinamika Pasar Mobil

Pria kelahiran Bandung, 14 Agustus 1989 ini membuka percakapan dengan refleksi tentang lonjakan penjualan mobil hobi saat pandemi COVID-19. Rocket Motor Company didirikan tahun 2022 yang notabene masih masa pandemi.

“Pas COVID-19 justru penjualannya naik, karena semua pengusaha nggak ada kegiatan. Jadi uangnya numpuk,” ujarnya. Uang yang tidak terpakai untuk perjalanan bisnis atau liburan beralih menjadi investasi dalam bentuk mobil hobi, yang kemudian mendorong lonjakan harga hingga 50-100%.

Namun, tren itu tidak berlanjut terus. Tahun politik 2023 dan transisi pemerintahan di 2024 menyebabkan para pengusaha kembali berhitung dan menahan diri.

“Sekarang memang agak menurun, karena alokasi hobi dialihkan ke bisnis. Tapi penurunan ini tidak balik ke awal. Harga masih lebih tinggi dibanding sebelum pandemi,” jelas Alfi.

Pasar pun memasuki fase koreksi. Harga tetap tinggi karena mengikuti inflasi dan kurs dolar, terutama untuk mobil-mobil import seperti Ferrari. Alfi menyebutkan, “Mobil entry level Ferrari sekarang sudah 9 miliar ke atas, padahal dulu cuma 2-3 miliar.”

Strategi Bertahan: Selektif dan Antisipatif

Menghadapi pasar yang melambat, Alvi memilih strategi cermat: lebih selektif dalam memilih unit. Untuk mobil klasik dan supercar, ia mengincar model yang rare agar nilainya lebih tahan terhadap gejolak pasar. Sementara untuk mobil premium harian, ia fokus pada model tahun 2020 yang sudah mengalami depresiasi harga, namun masih memiliki model yang sama dengan keluaran baru.

“Kita nggak bisa beli asal-asalan. Banyak yang jual karena butuh uang (BU), jadi harga rusak. Kita harus jeli,” jelasnya. Strategi showroom-nya juga disesuaikan dengan segmen pasar: satu fokus ke kendaraan harian, satu lagi ke kolektor dan hobi.

Komunitas: Tetap Solid di Tengah Kontraksi

Meski pasar melemah, komunitas pemilik mobil mewah tetap hidup. Morning coffee, riding, hingga kolaborasi olahraga seperti lari dan bersepeda jadi aktivitas rutin.

“Kita gabungin mobil sama olahraga, supaya tetap seru dan nggak bosen. Sosialisasi jalan, hobi jalan,” jelasnya. Aktivitas ini tak hanya mempererat komunitas, tapi juga jadi strategi alami untuk mempertahankan loyalitas pelanggan.

Optimisme dan Strategi Bertahan

Di tengah gejolak ekonomi dan pasar yang tidak pasti, Alvi tetap optimis. “Kita ini negara kaya. Banyak isu doang. Tapi masyarakat kita masih bisa beli, masih bisa makan,” tegasnya. Ia menekankan pentingnya strategi bertahan: mengatur gaya hidup, menghindari stres, dan hidup lebih seimbang.

“Liburan tetap, tapi jangan sampai boros. Yang biasa setahun empat kali jadi dua kali. Intinya bertahan, karena semua pasti ada waktunya,” ujarnya.

Batik dan Mobil: Dua Dunia, Satu Filosofi

Alvi menyamakan batik dengan mobil hobi: keduanya adalah seni.

“Batik itu seni, mobil klasik juga seni. Sama-sama eye-catching dan punya cerita,” katanya. Keduanya juga punya nilai investasi yang meningkat seiring waktu, apalagi jika dibuat secara handmade.

“Mobil klasik kebanyakan handmade, batik juga begitu. Nilainya makin tinggi karena keunikan dan proses pembuatannya.”

Batik favorit Alvi adalah batik prada, yang dikenal dengan struktur kainnya yang kaku dan detail emas yang mencolok. “Prada lebih membentuk karakter, maskulin,” ujarnya. Meski hanya memiliki sekitar 12 baju batik, ia memperhatikan detail seperti warna netral, motif binatang, dan keserasian dengan aksesoris seperti jam tangan dan sepatu.

Batik Sebagai Statement Pribadi

Alvi mengakui, batik sering menjadi pemantik percakapan saat menghadiri undangan atau acara formal. “Sering banget jadi conversation starter. Makanya saya suka match-in dengan jam tangan atau sepatu. Jadi bukan asal pakai,” katanya sambil tertawa.

Baginya, batik bukan sekadar kain, melainkan ekspresi karakter dan kebanggaan sebagai orang Indonesia. “Pakai batik itu auranya Indonesia banget. Kelihatan berkarakter.”

Dari roda-roda supercar hingga helai kain batik, cerita Alvi menunjukkan bahwa nilai, karakter, dan seni tidak hanya hadir dalam bentuk barang mewah, tapi juga dalam cara seseorang menjalani hidup. Di tengah perubahan zaman dan tantangan ekonomi, filosofi kesederhanaan, konsistensi, dan cinta terhadap budaya menjadi landasan yang kokoh – baik di jalanan maupun di hati.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik Gobang tampil memukau dalam balutan busana batik modern di IFW 2025, memadukan tradisi Betawi dengan gaya hidup urban.

Busana Batik Modern Batik Gobang di Indonesia Fashion Week 2025

Batik Sri Bekasi, pelopor batik khas Bekasi sejak 2015, mengangkat budaya lokal lewat motif unik dan pewarnaan ramah lingkungan.

Batik Bekasi: Kiprah Ibu Sri Sunarni Memperkenalkan Batik Khas Bekasi ke Nusantara