Bandung – NuArt Sculpture Park di Bandung diproyeksikan menjadi salah satu pusat seni dan kebudayaan nasional yang memperkuat ekosistem museum, ruang seni, serta kolaborasi budaya di Indonesia. Hal itu mengemuka dalam kunjungan Menteri Kebudayaan Fadli Zon ke kawasan seni yang didirikan oleh maestro pematung Nyoman Nuarta di Jawa Barat, Jumat (3/7).
Dalam kunjungan tersebut, Fadli Zon meninjau berbagai koleksi karya monumental Nyoman Nuarta, fasilitas galeri, museum, hingga ruang pertunjukan yang tengah dikembangkan sebagai bagian dari penguatan fungsi NuArt Sculpture Park sebagai ruang budaya yang terbuka bagi masyarakat.
Pada kesempatan itu, Fadli Zon mengapresiasi dedikasi Nyoman Nuarta yang selama puluhan tahun tidak hanya menghasilkan karya-karya seni monumental, tetapi juga membangun ruang budaya yang berfungsi sebagai tempat pembelajaran, apresiasi, dan kolaborasi lintas generasi.
“Inisiatif seperti NuArt Sculpture Park merupakan kontribusi nyata bagi kemajuan kebudayaan nasional. Ini bukan hanya museum yang menampilkan karya-karya maestro Nyoman Nuarta, tetapi juga sebuah ruang peradaban yang memperlihatkan bagaimana seni mampu merekam perjalanan bangsa sekaligus menginspirasi generasi masa depan,” ujarnya.
Menurutnya, kiprah Nyoman Nuarta telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan seni rupa Indonesia melalui berbagai karya monumental yang kini menjadi ikon nasional. Beberapa di antaranya adalah Garuda Wisnu Kencana di Bali, karya seni di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Mandalika, Museum Nasional Indonesia, serta sejumlah ruang publik di berbagai daerah.
Fadli Zon juga menilai semangat Nyoman Nuarta dalam membangun ruang seni secara mandiri menjadi contoh penting bagi penguatan ekosistem kebudayaan nasional.
“Pak Nyoman Nuarta tidak pernah berhenti berkarya. Semangat seperti inilah yang kita harapkan terus tumbuh di kalangan seniman Indonesia. Ketika para budayawan mengambil inisiatif membangun ruang-ruang budaya secara mandiri, maka ekosistem kebudayaan nasional akan berkembang semakin kuat,” katanya.
Sementara itu, Nyoman Nuarta menjelaskan bahwa pengembangan NuArt Sculpture Park didorong oleh keinginannya menghadirkan pusat seni yang mampu mengakomodasi berbagai disiplin seni sekaligus memenuhi kebutuhan Kota Bandung akan fasilitas seni yang representatif.
“Bandung membutuhkan sebuah art center dengan fasilitas yang memadai. Harapan saya, tempat ini dapat menjadi rumah bersama bagi para seniman untuk berkarya, berpameran, dan berkolaborasi, sekaligus menjadi contoh bagi daerah-daerah lain dalam membangun ruang seni yang hidup,” ujar Nyoman Nuarta.
Ia berharap NuArt Sculpture Park tidak hanya menjadi tempat memamerkan karya seni patung, tetapi juga berkembang sebagai ruang interaksi kreatif yang mempertemukan seniman, akademisi, komunitas, hingga masyarakat umum dalam berbagai kegiatan budaya.
Kunjungan tersebut turut dihadiri Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayudha, Penasihat Menteri Bidang Pengembangan Strategi dan Optimalisasi Pengelolaan Museum sekaligus Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana, Direktur Sejarah dan Permuseuman Prof. Agus Mulyana, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat Retno Raswaty.
Selama ini NuArt Sculpture Park dikenal sebagai salah satu destinasi seni kontemporer terkemuka di Indonesia. Kawasan ini menampilkan perjalanan kreatif Nyoman Nuarta melalui berbagai karya patung monumental sekaligus mengembangkan fungsi sebagai museum, galeri seni, ruang pertunjukan, dan area interaksi publik.
Pengembangan kawasan tersebut dinilai sejalan dengan upaya memperkuat ekosistem kebudayaan Indonesia melalui kolaborasi antara pelaku budaya, museum, komunitas seni, dan ruang kreatif di berbagai daerah. Dengan pendekatan tersebut, NuArt Sculpture Park diharapkan menjadi model pengembangan ruang budaya yang inklusif, berkelanjutan, sekaligus mampu meningkatkan daya saing seni dan budaya Indonesia di tingkat global.


