
Batik tanah liek atau batik tanah liat merupakan batik khas Sumatera Barat yang memiliki kekhasan pewarnaan dengan menggunakan tanah liat. Batik ini telah memiliki pangsa pasar tersendiri namun sumberdaya manusia pembuatnya justru tak banyak. Berlatar-belakang hal tersebut Balai Diklat Industri (BDI) Padang menggelar pendidikan dan pelatihan bertema Diklat Membatik 3 in 1 Tanah Liat di Aula BDI Padang, 18 Mei lalu.
Kepala Balai Diklat Industri Padang Joni Afrizon menyebutkan batik tanah liat semakin meningkat permintaannya dan secara lokal punya pangsa pasar yang baik di Sumbar. Hal tersebut ditandai dengan adanya gerakan mengenakan busana batik di kalangan pegawai negeri maupun swasta, sekolah maupun institusi lain.
Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, BDI melihat dibutuhkannya standar mutu dan kualitas tenaga terampil yang dapat mengembangkan batik tanah liat tersebut. “Pelatihan bagi 70 orang ini, dalam rangka membentuk tenaga trampil membuat batik tanah liat dan sekaligus menempatkan mereka bekerja pada salah satu pusat batik tanah liat di Padang, yakni Ayesha Collection,” kata Joni.
Ditambahkan olehnya, diklat 3 in 1 merupakan konsep yang dikembangkan oleh Pusdiklan Industri Kementerian Perindustrian di seluruh BDI di Indonesia. Para peserta kelak akan dilatih, disertifikasi, dan kemudian ditempatkan bekerja di perusahaan industri yang ada. Kepala Pusdiklat Industri Kemenperin RI, Mujiyono yang membuka Diklat ini, juga menegaskan, penyelenggaraan pelatihan di BDI di Indonesia disesuaikan dengan spesialisasi masing-masing BDI. BDI Padang, ditetapkan punya spesialisasi bordir dan fasyen. “Ini mengacu pada potensi Sumbar yang memiliki kekayaan dan potensi industri bordir dan fashion yang terkenal keunggulannya,” katanya.
Ia menegaskan dengan spesialisasi yang ada dan siapnya tenaga-tenaga terampil di bidang bordir dan fashion, akan membantu program peningkatan industri bordir dan fashion nasional, khususnya Sumatera Barat.
Peserta diklat yang terlibat datang dari Kota Padang, Solok, dan Bukittinggi.

