Abdul Syukur bukan sekadar seorang pembatik muda berbakat, melainkan sosok yang menyuarakan kegelisahan paling mendasar dalam dunia batik hari ini—kehilangan makna. Pemilik workshop Nitik Taman Lumbini di Kasongan, Yogyakarta, ia mengaku saat ditemui Batiklopedia.com di Gelar Batik Nusantara 2025, dirinya tengah rehat dari produksi batik karena tekanan ekonomi dan tantangan dalam sistem produksi mandiri.

Meskipun demikian, ia mengaku tak mutung. Semangatnya untuk tetap hidup dalam dunia batik tak pernah padam. Rehatnya justru menjadi titik balik, membawa kesadaran bahwa perjuangan di dunia batik adalah panggilan batin yang tak bisa ditinggalkan.
Ketika diundang oleh Yayasan Batik Indonesia (YBI) untuk menghadiri acara Gelar Batik Nasional 2025, Abdul justru mendapatkan penghargaan sebagai Pembatik Muda Berprestasi. Ia kaget, karena dalam masa rehat pun ia tetap dianggap aktif di dunia batik. Yang berhenti mungkin hanya produksi batik saya, di sisi lain, ia masih berada di lingkaran batik, mendampingi pembatik lain, mengedit buku batik, dan tetap berdiskusi dengan komunitas batik.
Kegelisahan tentang Batik Masa Kini
Bagi Abdul, kegelisahan terbesar adalah ketika batik hari ini hanya dilihat sebagai produk ekonomi semata. Padahal, menurutnya, batik adalah olah pikir, olah batin, dan olah ekonomi. Ia menyayangkan ketika batik hanya menjadi “gambar” tanpa makna. “Batik harus punya motif, dan motif itu harus punya maksud,” ujarnya tegas.
Ia mencontohkan bagaimana motif tradisional seperti poleng, tambal pamiluto, dan parang barong punya muatan filosofis dan spiritual yang dalam. Namun hari ini, motif-motif itu sering kali dipandang jadul atau mistik, padahal sesungguhnya menyimpan ilmu pengetahuan dan makna hidup yang relevan.
Strategi Bertahan dan Menghidupkan Generasi Muda

Di tengah krisis ekonomi dan tantangan produksi, Abdul sempat mencoba membuat batik cap untuk menopang produksi batik tulis. Namun ia menyadari bahwa sistem produksi mandiri tanpa kolaborasi sangat berat dijalankan. Ia pun memutuskan rehat sejenak untuk mencari ide segar, berdiskusi dengan tokoh-tokoh batik, dan merumuskan strategi baru.
Salah satu misinya kini adalah menghidupkan kembali SDM muda dalam dunia batik. Ia menjadikan pameran batik sebagai ruang silaturahmi dan edukasi. Ia ingin generasi muda tidak sekadar mengenakan batik, tapi juga memahami sejarah, makna, dan nilai di balik motif-motifnya.
Pendidikan dan Literasi Batik: Tantangan Besar

Abdul juga prihatin terhadap minimnya literasi batik di kalangan masyarakat. Ia menyoroti kurangnya dokumentasi dan ruang curhat bagi para pembatik untuk menyuarakan kondisi mereka. Ia mendukung gagasan mengumpulkan narasi-narasi dari pembatik, pengguna, dan pelaku industri batik dalam berbagai forum agar suara mereka terdengar dan dipahami secara luas.
Melawan Arus Budaya Instan
Dalam peradaban yang serba cepat dan instan, Abdul merasa tugas beratnya adalah mengembalikan batik sebagai karya yang sarat makna. Ia ingin membangun kesadaran bahwa setiap motif batik adalah narasi yang mengandung nilai spiritual, sosial, dan budaya. “Motif bukan sekadar gambar. Itu adalah simbol. Ada nilai yang harus dibaca,” ucapnya.
Abdul Syukur bukan hanya pembatik. Ia berusaha niteni dengan pemaknaan batik. Di tengah arus pasar dan budaya instan, ia terus berjuang menghidupkan kembali ruh batik—dari motif hingga filosofi, dari produksi hingga pendidikan. Suaranya menggema sebagai pengingat bahwa batik bukan sekadar kain bermotif, tapi narasi hidup yang harus dijaga dan diwariskan.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

