https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Industri Kopi Indonesia Bergairah, Perlukah Sertifikasi Penyangrai Kopi?

Kemenperin dorong kualitas kopi Indonesia lewat sertifikasi roasting dan penguatan IKM di tengah tren konsumsi yang terus naik.

Aroma kopi Indonesia kini tidak hanya menggoda lidah, tetapi juga menjadi penanda kebangkitan industri yang semakin matang dan kompetitif. Dalam satu dekade terakhir, perubahan gaya hidup masyarakat turut mengangkat kopi dari sekadar minuman menjadi bagian dari pengalaman dan identitas.

Melihat tren ini, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) terus memperkuat fondasi industri kopi nasional. Upaya ini tidak hanya difokuskan pada sektor hulu, tetapi juga menyentuh seluruh rantai nilai—dari proses pengolahan hingga kualitas produk akhir di tangan konsumen.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa perubahan perilaku konsumen menjadi faktor penting. Kini, penikmat kopi tidak lagi sekadar mencari kafein, melainkan mengejar cita rasa, karakter, dan cerita di balik setiap cangkir.

Konsumsi Meningkat, Standar Ikut Naik

Data dari International Coffee Organization menunjukkan bahwa konsumsi kopi Indonesia tumbuh hingga 50,02 persen dalam 10 tahun terakhir. Sementara itu, riset Euromonitor mencatat pertumbuhan kafe mencapai 16 persen per tahun—sebuah angka yang mencerminkan pesatnya budaya ngopi di ruang-ruang urban.

Fenomena ini mendorong standar baru dalam industri. Konsumen kini semakin kritis, mengenali profil rasa, hingga metode penyeduhan. Dalam konteks ini, proses penyangraian (roasting) menjadi titik krusial yang menentukan kualitas akhir kopi.

Penguatan SDM: Dari Biji ke Cita Rasa

Sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas, Ditjen IKMA menggelar fasilitasi sertifikasi kompetensi bagi para penyangrai kopi di Amuya Coffee Academy, Kemayoran. Kegiatan ini diikuti oleh pelaku industri kecil dan menengah (IKM) dari wilayah Jabodetabek.

Menurut Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, program ini bertujuan meningkatkan kompetensi teknis sekaligus daya saing pelaku IKM kopi. Penyangraian bukan sekadar proses teknis, tetapi seni yang membutuhkan presisi, pengalaman, dan pemahaman mendalam terhadap karakter biji kopi.

Hal senada disampaikan oleh Afrizal Haris yang menilai sertifikasi sebagai bentuk pengakuan resmi atas keterampilan pelaku industri. Dengan standar kompetensi yang teruji, pelaku usaha memiliki peluang lebih besar untuk menembus pasar yang lebih luas.

Potensi Besar, Tantangan Nyata

Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), terdapat lebih dari 1.500 unit IKM olahan kopi dan puluhan industri besar yang bergerak di sektor ini. Selain itu, terdapat 21 sentra kopi yang tersebar di berbagai daerah, menjadi bukti kekayaan potensi yang dimiliki Indonesia.

Di tingkat global, Indonesia masih kokoh sebagai produsen kopi terbesar keempat dunia, di bawah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Data Badan Pusat Statistik mencatat ekspor kopi olahan Indonesia mencapai 117,5 ribu ton pada 2024, dengan pasar utama seperti Malaysia, Tiongkok, hingga Arab Saudi.

Namun, di balik angka tersebut, tantangan tetap ada—mulai dari konsistensi kualitas, inovasi produk, hingga adaptasi terhadap selera pasar global yang terus berubah.

Dari Komoditas ke Kebanggaan

Transformasi industri kopi Indonesia hari ini menunjukkan pergeseran penting: dari sekadar komoditas menjadi produk bernilai tambah tinggi. Upaya peningkatan kualitas, sertifikasi, dan penguatan SDM menjadi fondasi untuk membawa kopi Indonesia naik kelas. Di setiap cangkir kopi, kini tersimpan lebih dari sekadar rasa. Ada kerja keras petani, keahlian roaster, dan strategi industri yang terintegrasi. Semua itu membentuk satu narasi besar—bahwa kopi Indonesia bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dibanggakan di panggung dunia.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

AMDATARA gelar lomba desain batik nasional bertema keberlanjutan air dan budaya sebagai identitas seragam organisasi.

AMDATARA Gelar Lomba Desain Batik Nasional

Pop Up Store Kobe 2026 hasilkan potensi Rp17 miliar, bukti fesyen Indonesia makin kompetitif di pasar Jepang yang ketat.

Fesyen Indonesia Tembus Pasar Jepang, Pop Up Store Kobe 2026 Catat Potensi Rp17 Miliar