Di sebuah sudut Desa Papringan, Banyumas, berdiri sebuah galeri yang menjadi saksi perjalanan panjang sebuah komunitas pembatik—Galeri Batik Papringan. Meski resmi diresmikan pada 2014, akar keterampilan membatik di desa ini sudah mengalir sejak lama, diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurut Fitriyani, pembatik yang tengah bertugas menjaga galeri, awalnya para perempuan desa hanya membatik secara mandiri di rumah masing-masing. “Mereka dulu hanya membatik saja, belum punya kemampuan untuk menjual sendiri,” tuturnya. Prosesnya sederhana—mencanting motif di kain, namun belum mampu melakukan pewarnaan atau penjualan mandiri.

Perubahan besar datang ketika Program Nasional Madani (PNM) sempat membina mereka, meski berjalan singkat. Tongkat estafet pembinaan kemudian diambil alih oleh Bank Indonesia (BI). Lewat pembinaan intensif, para pembatik tak hanya diajarkan teknik pewarnaan (nyelup) dan manajemen produksi, tetapi juga dibekali keterampilan pemasaran. Bahkan, BI menghibahkan sebuah gedung yang kini menjadi Galeri Batik Papringan.
Kini, Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang menaungi galeri memiliki sekitar 30 anggota, meski yang aktif berkarya hanya 10–15 orang. Seluruhnya berasal dari desa yang sama.
Motif Khas dan Ciri Batik Papringan
Batik tulis menjadi kebanggaan utama galeri ini, dengan ciri cantingan yang halus dan rapi—sesuatu yang sudah menjadi tradisi turun-temurun di Pafringan. Dibanding daerah lain seperti Tegal yang dikenal masih agak kasar, batik Pafringan diakui detailnya presisi.

Motif andalan adalah Serayuan, terinspirasi dari Sungai Serayu yang mengalir di belakang desa. Selain itu, ada motif Pring Sedapur, Lumbon (daun talas), Bawor Kelintung (menggabungkan tokoh wayang khas Banyumas dengan nuansa petualangan), serta motif tradisional seperti Kawung dan Sido Mukti yang diberi sentuhan lokal.
Harga batik tulis di sini bervariasi, mulai Rp400 ribu hingga Rp1,2 juta. Karya dengan harga tertinggi biasanya menggunakan pewarnaan alami dan kain berkualitas tinggi seperti kereta kencana dari Pekalongan.
Jejak Pameran dan Wisata
Meski produk ini jarang dibeli warga lokal karena harga batik tulis yang cukup tinggi, Galeri Batik Papringan telah dikenal luas oleh komunitas batik nasional. Berkat dukungan BI dan dinas terkait, mereka rutin mengikuti pameran di berbagai kota, dari tingkat kabupaten hingga ke Semarang dan Jakarta. Banyak pengunjung galeri justru datang dari luar daerah, termasuk mahasiswa asing.
Lokasi galeri yang berada di tepi Sungai Serayu sebenarnya sempat dirancang menjadi bagian wisata susur sungai. Bahkan dermaga di belakang galeri pernah digunakan kapal wisata, meski kini aktivitas itu tak dilakukan lagi.
Warisan yang Terus Berkembang
Meski sebagian besar stok terbaik sering dibawa ke Jakarta untuk pameran, galeri ini tetap menjadi pusat aktivitas dan pembelajaran membatik di desa. Generasi muda di Papringan tumbuh dengan terbiasa melihat proses membatik, hingga akhirnya mencoba sendiri.
Dengan warisan keterampilan yang rapi, motif khas yang lekat dengan alam Banyumas, dan jejaring pemasaran yang kian meluas, Galeri Batik Papringan bukan sekadar tempat jual beli kain. Ia adalah titik temu antara tradisi, pemberdayaan, dan kreativitas yang terus hidup di tepian Sungai Serayu.
Lokasi: F7P7+P4P, Kalisuren, Papringan, Kec. Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53192

