Cianjur, Jawa Barat — Direktorat Pengamanan Obyek Vital (Pamobvit) Polda Jawa Barat melakukan kunjungan ke Situs Cagar Budaya Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jumat (27/8). Kunjungan dipimpin oleh Direktur Pamobvit Polda Jabar, Kombes Pol Thomas Panji Susbandaru, sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya serta menjaga keamanan kawasan wisata bersejarah.
Gunung Padang dikenal sebagai salah satu situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara. Terletak di ketinggian 885 meter di atas permukaan laut, situs ini terdiri dari ribuan batu andesit yang tersusun dalam bentuk terasering. Hasil penelitian menyebutkan, konstruksi awal Gunung Padang diperkirakan sudah ada sejak 4.000–7.000 tahun sebelum Masehi, bahkan diyakini lebih tua dibandingkan Candi Borobudur.
Selain bernilai sejarah, Gunung Padang juga menjadi destinasi wisata unggulan Jawa Barat. Setiap tahun, ribuan wisatawan lokal dan mancanegara datang untuk menyaksikan keunikan batu berundak serta suasana khas yang menyelimutinya. Kondisi itu membuat kawasan ini membutuhkan pengamanan dan pengelolaan yang serius, baik dari sisi budaya maupun lingkungan.
Dalam kunjungannya, Kombes Pol Thomas Panji Susbandaru menekankan pentingnya keseimbangan antara pelestarian dan pengembangan pariwisata.
“Wisata itu positif sifatnya. Yang utama adalah menjaga kelestarian alam, budaya, dan sejarah agar bisa diwariskan untuk anak cucu kita. Soal bisnis, itu urusan belakang,” ujarnya.
Thomas menambahkan, beberapa bagian situs ke depan akan direstorasi dengan tetap menjaga keaslian. “Harapannya, masyarakat di sini juga ikut memberikan proteksi, termasuk pemerintah. Pemerintah pasti akan ikut melindungi. Jadi, ke depan memang dibutuhkan proteksi, baik dari masyarakat maupun pemerintah,” pungkasnya.
Kunjungan ini juga menjadi ruang dialog antara kepolisian, pengelola, dan masyarakat sekitar. Nanang, Juru Kunci Situs Gunung Padang, mengungkapkan pandangannya mengenai filosofi angka lima yang banyak ditemukan pada struktur situs.
“Ada lima terasering, lima undakan, batu-batunya berbentuk segi lima, dikelilingi lima bukit, dan menghadap lima gunung. Bahkan saya menyebutnya sebagai simbol kehidupan,” tutur Nanang.
Ia kemudian membagikan lima pesan bijak yang menurutnya berkaitan erat dengan pariwisata:
- Dengan ilmu, hidup lebih mudah.
- Dengan agama, hidup lebih terarah.
- Dengan budaya, hidup lebih beradab.
- Dengan seni, hidup lebih indah.
- Dengan wisata, hidup lebih lengkap.
“Wisata itu perjalanan. Wisatawan artinya orang yang melakukan perjalanan. Dari Jakarta yang penuh kemacetan hingga ke Gunung Padang ini, itu adalah perjalanan wisata yang lengkap,” tambahnya.

