Jumputan di Desa Wisata Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, Yogyakarta adalah salah satu kekayaan budaya lokal yang berkembang jadi daya tarik wisata edukatif dan ekonomi kreatif. Kampung ini nggak cuma jadi tempat produksi kain jumputan, tapi juga tempat belajar langsung proses kreatifnya!
Apa Itu Jumputan?
Jumputan adalah teknik pewarnaan kain tradisional dengan cara diikat (jumput), dicelup, lalu dikeringkan. Teknik ini menghasilkan pola yang unik dan artistik, sering disebut juga sebagai bagian dari tie dye Indonesia.
Tentang Kampung Wisata Tahunan
- Lokasi: Celeban UH 3 RT 38 RW 12, Kelurahan Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, Yogyakarta.
- Masuk nominasi ADWI 2024 (Anugerah Desa Wisata Indonesia).
- Dikelola oleh masyarakat lokal dengan semangat pelestarian budaya.
Berdiri dan dicanangkan sebagai desa wisata tahun 2010 silam, Desa Tahunan mengembangkan identitasnya. Desa Tahunan menjadi terkenal sebagai pusat seni pembuatan kain Jumputan, dengan tenaga terampil ratusan penduduknya.
Aktivitas Wisata Jumputan
Di sini, wisatawan bisa:
Belajar langsung membuat kain jumputan
- Ikut workshop bareng perajin lokal.
- Melakukan proses ikat-celup, pewarnaan, dan pengeringan.
Pelatihan Ecoprint & Daur Ulang
- Menggunakan bahan alami seperti daun dan bunga.
- Ramah lingkungan dan sangat digemari oleh anak muda & wisatawan asing.
Membuat suvenir khas jumputan
- Masker batik, totebag, dompet, dan pakaian kasual.
Produk Unggulan
- Kain jumputan siap pakai
- Fashion item: tunik, kemeja, outer
- Suvenir: tas, dompet, masker
- Paket edukatif untuk sekolah & wisata keluarga
Komunitas dan Dampak Sosial
- Dikelola oleh Kelompok Kerajinan Jumputan Kampung Tahunan
- Melibatkan ibu-ibu rumah tangga dan pemuda lokal
- Menghidupkan ekonomi berbasis budaya
Cocok Untuk:
- Wisata edukasi sekolah
- Study tour budaya
- Workshop komunitas & mahasiswa
- Produksi konten kreatif (YouTube, vlog, IG Reels)
Jumputan merupakan teknik pewarnaan kain tradisional yang sudah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia sejak dulu kala. Sebagai kain khas, Desa Tahunan tetap menghidupkan kain ini sebagai bagian dari ciri khas wilayahnya.

