Dalam beberapa waktu terakhir, terdengar wacana bahwa daya beli batik—baik dari sisi konsumen maupun pelaku—sedang menurun. Namun, narasi ini terbagi menjadi dua sudut pandang: pemerintah yang melihat tren makro, dan pelaku industri yang memotret realita di lapangan. Mari kita ulas perbandingannya.
Perspektif Pemerintah: Tetap Optimistis, Tapi Waspada
Ekspor Batik Kembali Menguat: Pada triwulan pertama 2025, ekspor batik menunjukkan kenaikan signifikan menjadi US$7,63 juta, naik 76,2% dibanding tahun sebelumnya (Antara News).
Dorongan Inovasi dan Penguatan Pasar Domestik
- Pemerintah mendorong inovasi: dari teknologi CNC untuk batik, IPAL kecil, hingga katalog motif digital untuk penguatan branding dan efisiensi produksi (Antara News).
- Batik kini dianggap sebagai identitas modern generasi muda, bukan hanya busana seremonial (Antara News).
- Langkah digitalisasi, termasuk aplikasi pendukung dan ekosistem batik, diluncurkan untuk memperkuat pelestarian dan pemasaran domestik (Antara News).
Secara garis besar, pemerintah melihat peluang ekspor dan potensi inovasi sebagai jalan keluar agar industri batik tetap kompetitif dan daya beli konsumen domestik bisa bangkit.
Perspektif Pengusaha Batik (APPBI): Realita di Lapangan, Tantangan Nyata
Jumlah Perajin dan Usaha Terus Menurun
- Sejak pandemi, jumlah perajin batik tradisional turun drastis—dari sekitar 131.000 menjadi 70.000, penurunan hampir 50% (https://www.idxchannel.com/).
- Data APPBI mencatat pengusaha batik dari 4.171 pada 2020 menyusut menjadi hanya 2.503 usaha pada 2024 (naker.news).
Tekanan dari Batik Tiruan Impor
Produk batik tiruan dari luar negeri, khususnya China, dibanderol sangat murah—sekitar Rp 17.000 per meter. Ini memukul daya saing batik asli (naker.news).
Strategi Bertahan: Diversifikasi Produk
- APPBI menyarankan agar pengrajin tidak terlalu idealistis. Selain batik premium masterpiece, diperlukan juga produksi batik di kelas menengah-bawah agar tetap terjangkau konsumen (batiklopedia.com).
- Pelatihan kualitas produk dan digitalisasi pemasaran juga diberikan oleh APPBI agar perajin bisa lebih kompetitif dan survive saat daya beli menurun (harnessracingsoftware.com, hearyourlife.com).
Perbandingan Ringkas
| Perspektif | Pemerintah | Pelaku Industri (APPBI) |
| Ekspor Batik | Fluktuatif: Turun tahun-ke-tahun namun naik di 2025 | Tertekan, persaingan kuat dengan produk impor |
| Inovasi | Dorongan teknologi & digitalisasi | Fokus menjaga kualitas & diversifikasi produk |
| Jumlah Perajin | Tidak disebutkan menurun | Turun drastis (~50%) pasca-pandemi |
| Strategi Pasar | Menjadikan batik bagian gaya hidup modern | Menawarkan segmen menengah agar tetap terjual |
Versi Pemerintah
Melihat peluang ekspor, dukungan teknologi, dan potensi pasar generasi muda, pemerintah optimis bahwa industri batik masih dapat tumbuh. Namun, tren penurunan ekspor di beberapa periode menjadi sinyal kewaspadaan.
Versi Pengusaha Batik
Di lapangan, realita jauh lebih keras: jumlah pengrajin menyusut dramatis, daya saing terganggu oleh produk murah impor, dan penurunan daya beli pelanggan terasa nyata. Namun, strategi adaptasi—dengan diversifikasi produk dan digitalisasi—kini menjadi kunci bertahan. Daya beli batik tidak sekadar soal harga—melainkan juga soal keberlanjutan ekosistem: regenerasi perajin, struktur pasar, dan inovasi yang responsif terhadap kebutuhan zaman. Sinergi antara dukungan pemerintah dan adaptasi pelaku industri menjadi penentu utama agar batik terus bernyawa dan bernilai, baik di pasar global maupun dalam rumah kita sendiri.

