Pada helaian kain sepanjang sembilan meter itu tergambar sebuah perjalanan: bukan sekadar rangkaian tokoh dan adegan wayang, melainkan metafora tentang keberanian memasuki “belantara” untuk membangun sesuatu yang baru. Kain tersebut adalah Babat Alas Wanamarta, sebuah karya batik merawit kolaboratif yang dibuat pada 2004 oleh Katura bersama 17 perajin lain dari Cirebon — dipamerkan dalam gelaran Batik Merawit Cirebon di Museum Tekstil Jakarta.

Asal-usul cerita
“Babat Alas” termasuk dalam ragam cerita tradisional Jawa yang sering tampil dalam wayang atau pertunjukan lisan: kisah perpindahan, pembukaan lahan, dan usaha menaklukkan rimba sebagai metafora perjuangan masyarakat yang hendak memulai hidup baru — baik dalam konteks migrasi, pendirian desa, maupun upaya sosial-politik. Versi-versi “Babad” (sejarah-legendaris Jawa) memang beragam, tetapi benang merahnya adalah narasi pembangunan dari wilayah yang dianggap liar atau belum tersentuh peradaban. Babat Alas Wanamarta sebagai lakon wayang memiliki akar tradisi ini dan sering dipentaskan sebagai pengiring upacara selamatan atau peristiwa komunitas.
Dalam konteks panggung dan musik tradisi, lansekap bunyi gamelan—lancaran, sulukan, dan gendhing—membingkai cerita sehingga penonton tidak hanya “mendengar” narasi tetapi juga “merasakan” suasana belantara, perjuangan, dan akhirnya tatanan sosial baru yang lahir dari usaha kolektif. Rekaman dan dokumentasi pertunjukan lakon-lakon semacam ini masih dapat ditemui dalam arsip wayang dan pertunjukan karawitan.
Mengapa kisah ini diangkat menjadi motif batik?
Motif batik sering memuat narasi—bukan hanya dekoratif—karena batik tradisional berfungsi sebagai medium komunikasi budaya: menyimpan sejarah, status sosial, rasa, dan harapan kolektif. Mengangkat Babat Alas Wanamarta ke dalam batik merawit berarti menerjemahkan cerita tentang ketekunan, risiko, solidaritas, dan pembaruan menjadi pola visual yang dapat “dibaca” oleh pemakai dan penikmat. Dalam proyek 2004, 18 perajin bekerja bersama untuk menerjemahkan adegan-adegan wayang itu menjadi komposisi motif yang panjang, memadukan figur wayang, flora-fauna belantara, dan ornamen simbolik yang menegaskan narasi.

Teknik merawit dan estetika Katura
“Kata merawit merujuk pada teknik khas Cirebon yang ditandai garis-garis halus (tali air) berwarna lebih tua dari warna dasar — sebuah teknik yang menuntut kesabaran dan ketelitian,” jelas Lilis Katura, salah satu perajin Cirebon pada kutipan media Antara. Pada kain Babat Alas Wanamarta, teknik merawit digunakan untuk menegaskan detail tekstur daun, urat kayu, dan pola kain wayang sehingga memberi kedalaman visual mirip goresan lukis halus dalam format batik. Teknik ini juga menjadi penanda kultural: merawit adalah identitas Cirebon yang kini telah mendapat perhatian sebagai indikasi geografis seni batik setempat.
Makna kolektif karya kolaboratif (Katura + 17 perajin)
Ketika puluhan tangan berkumpul untuk membuat satu kain panjang, hasilnya bukan hanya produk tekstil, melainkan dokumen komunitas: bergantian memberi motif, menyelaraskan palet warna, dan menjaga kesinambungan narasi visual di sepanjang kain. Pilihan cerita Babat Alas Wanamarta sangat tepat — karena tema “membangun dari belantara” selaras dengan semangat para perajin yang mempertahankan keterampilan tradisional di tengah tantangan ekonomi modern. Karya kolaboratif ini menjadi simbol gotong-royong kreatif sekaligus pesan bahwa pelestarian budaya memerlukan kerja kolektif.
Warna, komposisi, dan penggunaan motif
Ciri khas batik merawit pada kain ini tampak dari penggunaan garis-garis halus yang memberi efek “tenunan” dan gradasi warna yang kaya namun terkontrol. Komposisi biasanya memadukan figur wayang sebagai fokus naratif, dikelilingi oleh motif tumbuhan dan ornamen geometris yang menuntun mata pembaca kain menyusuri cerita. Pilihan warna yang lebih tua pada lapisan merawit menegaskan kedalaman—seolah setiap lapisan warna memegang memori tertentu dari cerita.
Mengapa Babat Alas Wanamarta penting untuk dikenalkan ulang?
Di era di mana tampilan visual dan narasi digital mendominasi, menjadikan motif tradisional seperti Babat Alas Wanamarta sebagai bahan pameran dan dokumentasi membantu menjembatani generasi. Kain 2004 itu kini menjadi artefak yang mengajarkan bahwa batik bukan sekadar kain; ia adalah catatan sosial, pengingat nilai kolektif, dan sarana kebudayaan yang adaptif. Pameran seperti Batik Merawit di Museum Tekstil membantu publik meraham peran pengrajin—seperti Katura dan rekan—sebagai penjaga memori budaya sekaligus perintis inovasi estetika.

