Di dunia kerja yang kerap menuntut keterampilan teknis spesifik, kisah seseorang yang memulai karier jauh dari jalur pendidikannya sering kali dipandang tak biasa. Namun di balik jalan memutar itu, kerap tersembunyi kekayaan pengalaman yang justru membentuk keunikan dalam profesi. Itulah yang tergambar dari perjalanan seorang profesional hospitality yang memulai langkahnya bukan dari lobi hotel, melainkan dari warnet dan rak DVD di Malang.

Cita-Cita yang Tak Sampai, Tapi Membuka Jalan Baru
Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Jurusan Broadcasting Universitas Merdeka Malang ini awalnya bercita-cita meniti karier di dunia penyiaran. Televisi dan radio adalah panggung impian, namun garis karir berbicara lain.
“Saya sempat jualan DVD, jadi penjaga warnet shift subuh, dan sempat juga kerja di media online yang akhirnya dibeli Gudang Garam,” kenangnya.
Tak berhenti di situ, ia juga pernah terjun ke dunia klaim asuransi kargo di Indah Kiat Pulp & Paper, bahkan menangani klien berbahasa Mandarin. Tapi bukan di situ hatinya tinggal.
“Saya pulang ke Malang, lalu ikut interview ke Surabaya. Saat ditawari kerja di Jakarta, saya ambil karena ingin dekat pacar saya—yang kini jadi istri saya,” tuturnya sambil tersenyum.

Dari Sosmed ke Strategi Korporat
Tahun 2014 menjadi titik balik. Ia masuk ke dunia perhotelan, dimulai dari mengelola media sosial di kantor pusat Waringin Group, sebuah perusahaan jasa operator hotel. Saat itu, Instagram dan Facebook baru saja naik daun. Perusahaan masih punya 3–4 properti untuk dipromosikan.
Sebagai orang komunikasi yang terbiasa dengan storytelling, ia merasa cocok.
“Saya suka ngomong, suka dunia iklan. Jadi cukup nyambung saat diminta pegang sosmed perusahaan,” katanya.
Dari media sosial, ia naik ke divisi Marketing Communication (Marcomm), dan mulai merumuskan strategi digital untuk mendukung brand-brand hotel seperti Hotel 88 dan Luminor. Ia sadar bahwa dengan anggaran marketing yang kecil, kekuatan terbesar mereka adalah kreativitas dan relasi.
“Saya keliling pokja wartawan, bangun hubungan, lalu tukar eksposur. Media tier 2, 3, bahkan 4 itu penting banget buat growth digital,” ujarnya.
Berpikir Besar di Tengah Keterbatasan
Mengelola branding dengan anggaran minim adalah tantangan tersendiri. Apalagi harus bersaing dengan OTA raksasa seperti Traveloka atau Agoda yang memiliki dana besar untuk SEO dan digital ads.
“Kita enggak bisa lawan mereka pakai uang. Tapi kita bisa pakai konten organik—artikel yang bisa dibaca kapan saja, muncul di Google selamanya,” katanya penuh keyakinan.
Di sinilah kekuatan artikulasi dan relasi yang diasah sejak kuliah komunikasi jadi aset tak ternilai.
Pandemi, Momen Uji Kepercayaan
Saat COVID-19 menghantam industri perhotelan, banyak hotel tutup. Tapi Waringin justru membuka hotel baru—di Purwokerto, Jakarta, dan Jambi.
“Itu momen ketika kepercayaan investor diuji. Tapi kami tetap dipercaya karena mereka tahu kami menjaga kualitas,” ujarnya.
Strategi digital pun semakin dioptimalkan, dari konten video hingga artikel yang memperkuat brand image. Bagi investor, konten adalah cermin profesionalisme dan konsistensi perusahaan.
Sosmed, AI, hingga Geopolitik Teknologi
Media sosial adalah dunia yang terus berubah. Algoritma bergeser, konten viral bisa tertunda efeknya. Ia menyadari, kerja tim media sosial bukan sekadar soal desain dan caption, tapi juga memahami psikologi platform.
“Konten yang sama belum tentu jalan di TikTok dan IG. Harus dipisah. Kita juga harus belajar algoritma, jam posting, bahkan belajar AI sekarang.”
Baginya, AI bukan sekadar tools, tapi medan perang geopolitik. Ia menyadari betapa cepatnya industri berubah. Desain grafis, penulisan artikel, bahkan kerja editorial kini bisa dibantu AI seperti ChatGPT dan tools visual lainnya.
“Kalau enggak ngerti cara prompt, selesai. Kita harus belajar. AI bukan ancaman, tapi peluang—asal kita adaptif.”
Batik dan Pendidikan
Sebagai orang yang bekerja di sektor hospitality, ia juga melihat peluang besar dari integrasi budaya dalam dunia layanan. Ia menyayangkan minimnya pengetahuan masyarakat tentang batik, yang hanya dilihat sebagai seragam hari Jumat.
“Sayang banget. Kita ngomong cinta batik, tapi enggak tahu prosesnya. Kenapa enggak dimasukkan ke kurikulum sekolah?”
Ia membayangkan, jika membatik bisa menjadi kegiatan ekstrakurikuler seperti pencak silat atau seni lukis, anak-anak akan lebih sadar dan bangga terhadap budayanya sendiri.
Beberapa hotel resort memang sudah mengajak UMKM untuk memberikan workshop membatik sebagai bagian dari aktivitas menginap. Tapi ia ingin kolaborasi ini meluas, tak hanya di hotel bintang lima.
“Hotel dan UMKM bisa kolaborasi bikin kelas batik untuk tamu. Jadi selain menginap, mereka juga dapat pengalaman budaya.”

Jalan Panjang Yang Terang
Perjalanan kariernya bukanlah jalan lurus. Dari broadcast ke dunia hotel. Dari penjaga warnet ke manajer komunikasi. Tapi justru dari jalan yang berliku itulah ia memetik kekuatan—bahwa adaptasi, relasi, dan semangat belajar adalah kunci bertahan dalam dunia yang terus berubah.
“Bukan soal seberapa besar anggaran kita. Tapi seberapa jauh kita mau belajar, menyiasati, dan membangun dengan apa yang kita punya.” Dari sudut kamar hotel yang nyaman, dari sosial media yang ramai, dari artikel yang ditulis di tengah malam—ia membuktikan bahwa komunikasi bukan sekadar teori. Tapi cara untuk terus menyambung hidup, menyambung makna, dan menyambung kreativitas.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

