Sebagai produk makanan di Indonesia, Oreo kali ini memperkenalkan kemasan terbarunya yang menyematkan motif batik sebagai bagian desain kemasannya. Salah satu motif batik yang disematkannya adalah motif Mega Mendung asal Cirebon.

Kebudayaan batik yang populer dan telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Indonesia ini serta merta menjadi daya tarik tersendiri, lebih-lebih disematkan pada produk makanan anak-anak, Oreo.
Perihal penyematan motif batik tersebut diungkap oleh Senior Marketing Manager Biscuits Mondelez Indonesia Dian Ramadianti. Di sesi door stop kegiatan Oreo Berbagi di Aston Cirebon (11/11), Batiklopedia.com berusaha bertanya lebih jauh.
Batiklopedia: Kenapa Oreo memasukkan motif batik ke dalam kemasannya? Ada tujuan-tujuan tertentu kah? atau apa yang mau dicapai dari cara ini?
Dian Ramadianti: Oreo itu sudah jadi bagian dari konsumen Indonesia. Konsumen Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dengan berbagai macam jenis kebudayaannya, kepribadiannya, segala macam itu yang harus dilestarikan. Tujuan sebenarnya hanya melestarikan.
Nah, melestarikan itu sebetulnya apa sih? Kita ini khan hadir untuk ibu dan anak. Kebudayaan itu biasanya baru terkenal dan dipakai oleh anak-anak saat mereka sudah dewasa. Karena seperti misalnya kain batik dan sebagainya itu dipakai pada usianya, buat mereka terasa tua khan. Kita gunakan motif itu juga yang ceria-ceria yang mampu masuk ke anak-anak. Sehingga anak-anak itu sejak dini sudah terbiasa melihat hasil karya budaya dari Indonesia yang dirasa, kok seru ya? Itu ide kreatifnya dulu.
Batiklopedia: Bagaimana awalnya proses riset dari cara ini hingga akhirnya terbersit menyematkan motif batik dan wastra Nusantara?
Dian Ramadianti: Kami punya beberapa riset, kemudian kami ambil yang bisa merepresentasikan populasi terbesar sih di Indonesia. Kita ada 13.600 pulau, kalau mau ambil semuanya, akan ada banyak ide tentang bagaimana packaging-nya gitu. Untuk tahun pertama ini, ada 4 gambar. Ada keberlanjutannya nanti, rencananya seperti itu.
Jadi dimulai dengan pulau Jawa, pulau Sumatera, pulau Sulawesi, dan sebagainya. Sehingga orang-orang di Indonesia yang memang beragam yang suka dengan Oreo itu merasa terwakili. Di Jawa sendiri motif batik ada banyak, tapi kita mulai dengan Mega Mendung dulu.
Batiklopedia: Apa yang menarik dari motif Mega Mendung hingga akhirnya disematkan pada kemasan?
Dian Ramadianti: Tujuan awalnya melestarikan. Melestarikan dalam hal ini adalah yang perlu diangkat. Seperti batik Jawa itu yang terkenal parang, dan sebagainya. Orang sudah tahu. Jadi mungkin sudah cukup. Tapi utamanya kita manfaatkan rasa ingin tahu anak-anak itu untuk mendapatkan interest-nya dulu buat karya-karya Indonesia yang seru-seru. Nanti setelah mereka bertanya, mama ini apa? Mamanya akan cerita.
Yang kita angkat sebenarnya yang berpotensi menarik perhatian buat anak-anak dan cocok dijadikan rasa ingin tahu anak-anak.
Batiklopedia: Artinya secara riset yang dilakukan, di wilayah pesisir utara itu paling populer kalau bisa dikenalkan motif-motif batiknya?
Dian Ramadianti: Nggak begitu juga kok. Karena khan kita punya rencana untuk ke depannya ada lagi, dan ada lagi. Jadi nanti jika ada inputan motif mana lagi yang kita angkat, boleh juga lho.
Batiklopedia: Lalu apa program ke depannya dari Oreo ini untuk mengenalkan motif-motif batik yang disematkan di kemasan?
Dian Ramadianti: Programnya cukup menyeluruh kalau kita planning begitu ya. Jadi dari packaging-nya tadi mewakili pulau-pulau terbesar di Indonesia. Karena sekarang ini Cirebon punya Mega Mendung, sesungguhnya cerita background Cirebon itu kaya sekali yang nanti akan digali. Dari hasil galian itu batik itu sebenarnya salah satu cara teknik lukis khan, dan storytelling gitu. Nanti harapannya 3-5 tahun ke depan ada motif baru yang top juga dari Cirebon.
Dan di seluruh Indonesia kita mengajak pemuda-pemuda yang memang punya bakat menggambar untuk ikut lomba karya wastra Indonesia. Jadi mudah-mudahan ini satu cycle penuh.
Sebagai gambaran umum, Oreo yang diproduksi oleh Mondelez Internasional merupakan biskuit yang memiliki pangsa pasar keluarga yang menghubungkan ikatan orangtua dan anak melalui selera anak akan camilan kesukaannya. Melalui pengenalan motif batik dan wastra Nusantara pada kemasannya, akan muncul conversation antara anak ke orangtuanya. Dan hal ini yang dimaksud oleh Dian Ramadianti sebagai upaya pelestarian batik dan wastra Nusantara sejak dini.

