Setelah mengeluarkan kemasan edisi batik dan wastra Nusantara di produk Oreo September lalu, Mondelez Internasional sebagai produsen Oreo melanjutkan kemudian dengan program Oreo Berbagi dalam kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) kepada 1450 perajin dan pengusaha batik di Cirebon.

Digelar di Aston Cirebon (11/11), event ini dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Cirebon, Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB), Paguyuban Perajin dan Pengusaha Batik Cirebon (P3BC), dan siswa-siswi SMK 1 Gunung Jati.
Oreo Berbagi melalui program CSR mendonasikan Rp 1 Miliar untuk mendukung kegiatan usaha batik kepada 1450 perajin dan pengusaha batik Cirebon dalam bentuk kompor untuk mencanting serta alat pengolahan limbah batik.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Cirebon Hilmy Riva’i di Cirebon, mengatakan, saat ini dana bantuan CSR senilai Rp1 miliar itu sudah disalurkan untuk 1.450 perajin batik di delapan desa di Cirebon.
“Dana CSR ini difokuskan pada penyediaan alat produksi ramah lingkungan dan fasilitas pengolahan limbah,” ujarnya.
Riva’i menuturkan, sebagian besar pelaku industri batik di wilayah Cirebon, masih memerlukan edukasi secara intensif tentang pengelolaan limbah yang benar. Harapan dari pemanfaatan donasi ini diharapkannya sebagai upaya agar dampak negatif produksi batik terhadap lingkungan bisa dikurangi.
“Kami berkolaborasi dan mengucapkan terima kasih atas dukungan dari Oreo yang turut serta dalam membangun industri batik yang berkelanjutan dan ramah lingkungan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha dan Pengrajin Batik Indonesia (APPBI) Komarudin Kudiya mengatakan, daerah Cirebon, sejak dulu dikenal sebagai daerah produsen batik dengan motif batik Mega Mendung yang khas.
Meskipun demikian, disayangkan olehnya APPBI mencatat pengusaha maupun perajin batik di Cirebon mengalami penurunan hingga 30-35 persen, sehingga diperlukan upaya bersama agar regenerasi di bidang ini bisa berjalan.
“Pemerintah, sektor swasta dan APPBI terus berupaya agar regenerasi perajin batik di Cirebon bisa diisi oleh anak muda,” tuturnya.
Dia menilai penyaluran dana CSR ini, dapat membantu membangkitkan kembali semangat perajin batik di Cirebon dan memperkuat daya saing industri ini di pasar yang lebih luas.
Head of Corporate Communications and Government Affairs Mondelez Indonesia Khrisma Fitriasari menambahkan pihaknya berkomitmen untuk memberikan dukungan terhadap industri batik di Cirebon.

Atas dasar itu, pihaknya mempromosikan motif batik khas Mega Mendung pada produk biskuitnya untuk mendukung keberlanjutan dan pelestarian budaya batik ini.
“Sebagai produk yang lahir di Indonesia, kami terpanggil untuk turut berperan dalam mendukung pengrajin batik, sehingga budaya batik Nusantara tetap berkembang,” ujar Khrisma.

