Di masyarakat modern yang serba praktis, melihat proses pembuatan batik bisa dianggap sebagai atraksi budaya. Proses yang dikerjakan secara tradisional tersebut terkesan rumit dan merepotkan di kala teknologi tekstil sudah makin modern.

Popularitas batik membuat sebagian pengusaha mengambil keuntungan dari pamor batik. Dan hal tersebut bak gayung bersambut dengan ketidaktahuan konsumen tentang batik itu sendiri. Contoh paling jelas adalah tekstil motif batik atau akrab dikenal batik printing.
Keberadaan batik printing menghajar pasar batik tradisional dengan harga yang jauh lebih murah dan kualitas cetak kain lebih baik. Penetapan batik oleh UNESCO sebagai warisan budaya non-bendawi mengacu pada hal-hal yang padahal bertolak-belakang dengan batik sebagai produk atau wujud material.
Non-bendawi mengacu pada aspek yang bersifat abstrak, immaterial, atau konsep yang tidak bisa disentuh atau dilihat secara langsung. Dalam konteks ini, non-bendawi adalah gagasan, emosi, nilai, atau hal-hal lain yang tidak memiliki wujud fisik.
Dalam ranah filsafat, non-bendawi bisa juga dikaitkan dengan konsep-konsep metafisik atau spiritual yang berada di luar batasan materi dan fisik. Misalnya, keyakinan religius tentang jiwa atau kesadaran sering kali dianggap sebagai sesuatu yang non-bendawi.
Nah, proses pembuatan batik memiliki hal-hal tersebut, dipertahankan karena beberapa alasan penting yang terkait dengan aspek budaya, ekonomi, dan identitas nasional.
Warisan Budaya dan Identitas Nasional
Proses pembuatan batik mencerminkan nilai-nilai, kearifan lokal, serta keahlian tradisional yang telah diwariskan turun-temurun. Mempertahankan proses batik berarti menjaga identitas dan jati diri bangsa Indonesia dalam bentuk budaya dan tradisi.
Seni dan Kerajinan Tradisional
Pembuatan batik merupakan bentuk seni yang memerlukan keahlian dan kesabaran tinggi. Proses ini tidak hanya menghasilkan pakaian atau kain, tetapi juga menciptakan karya seni yang unik, karena setiap helai batik tulis memiliki karakteristik yang berbeda. Pelestarian proses ini mendukung kelangsungan seni tradisional.
Nilai Filosofis dan Simbolik
Setiap motif batik memiliki makna filosofis yang mendalam, mencerminkan berbagai aspek kehidupan seperti kesejahteraan, harmoni, dan kebijaksanaan. Contoh, motif Parang menggambarkan kekuatan dan perjuangan, sedangkan motif Kawung melambangkan keseimbangan dan kesucian. Dengan mempertahankan proses batik, kita juga melestarikan makna-makna simbolik tersebut dan menghargai makna simbolik baru lainnya sebagai buah ide dan gagasan tentang kearifan lokal.
Sumber Pendapatan dan Pemberdayaan Ekonomi Lokal
Industri batik melibatkan banyak perajin lokal, terutama di daerah-daerah yang dikenal sebagai pusat pembuatan batik, seperti Yogyakarta, Solo, Pekalongan, dan Cirebon. Dengan mempertahankan proses tradisional, masyarakat lokal tetap bisa mendapatkan sumber penghidupan dan mata pencaharian. Hal ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui industri kreatif.
Pendidikan dan Peningkatan Kesadaran Budaya
Mempertahankan proses pembuatan batik berarti juga melestarikan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diajarkan kepada generasi muda. Ini penting agar generasi mendatang memiliki kesadaran terhadap warisan budaya mereka dan dapat terus menghargai serta melestarikannya.
Keunikan di Pasar Global
Dalam dunia yang semakin global, batik memiliki daya tarik unik sebagai produk yang berbeda dari tekstil lainnya. Proses pembuatan yang rumit dan detail yang khas membuat batik menjadi komoditas yang berharga dan diakui di pasar internasional. Keunikan ini memberi peluang untuk memperkuat daya saing produk Indonesia di kancah global.
“Batik disebut batik jika ada proses pencantingan dan perintangan warna dengan malam (lilin),” ujar pemilik usaha Batik Komar, Komarudin Kudiya menanggapi keadaan komoditas batik yang tak terbendung dewasa ini.
Mempertahankan proses batik berarti menjaga warisan budaya yang tak ternilai, mendukung ekonomi kreatif, dan melindungi tradisi serta menghargai kearifan lokal Indonesia.
Dapatkan Informasi Menarik Lainnya di:

