Di balik sehelai kain batik, ada sejarah, perjuangan, dan idealisme yang tak selalu kasat mata. Bagi Yongki Wahyono, batik bukan sekadar bisnis, melainkan napas kehidupan yang diwariskan lintas generasi sejak tahun 1898. “Saya itu turunan batik dari buyut saya. Dulu warnanya masih pakai warna alam. Baru pindah ke sintetis waktu zaman Belanda,” kisahnya membuka percakapan.
Menjaga Batik Klasik Cirebon

Sebagai putra Trusmi—desa batik legendaris di Cirebon—pria kelahiran tahun 1982 ini memiliki ikatan emosional dengan motif dan teknik klasik yang makin jarang disentuh generasi kini. Ia menyebut berbagai sentra batik seperti Wotgali, Gamel, Panembahan, Kalitengah, hingga Ciwaringin yang tengah berkembang. “Tapi tetap, secara kualitas belum bisa menandingi Trusmi,” tegasnya.
Meski memiliki galeri di Bekasi, jejak batik Cirebon tetap menjadi pijakan utama. Salah satu spesialisasinya adalah teknik batik tulis halus dengan pewarnaan alami. “Saya lagi angkat motif Merawit. Satu titik satu canting nol. Lilinnya harus mateng betul, bukan yang ngumpal. Itu yang bikin batik jadi seni, bukan sekadar kain jadi uang,” ujarnya dengan nada serius.
Dari ASN ke Dunia Batik
Kisah Yongki juga berliku. Ia sempat menjadi ASN di bidang keuangan. “Gaji saya cuma Rp150 ribu. Bayar kos di Jogja pun susah. Akhirnya orang tua nyuruh saya ketemu Ibu Poppy (Poppie Dharsono), bawa batik. Sekali ketemu, laku 15 juta. Dari situ saya sadar, rezeki saya bukan di pegawai negeri,” kenangnya.
Pameran demi pameran ia jalani, dari Adiwastra, Inacraft, hingga Rumah Pesona Kain. Batik karyanya bahkan pernah dikenakan oleh Ratu Elizabeth. Namun bukan tanpa jatuh bangun. Saat pandemi COVID-19 melanda, ia harus merumahkan 400-an karyawan. “Saya sampai minta pengadilan agar gaji dibayar sesuai kemampuan. Kalau enggak, aset bisa habis semua,” tuturnya getir.
Mempertahankan Idealisme di Tengah Tekanan Pasar

Meski tergoda untuk memproduksi batik cap atau print demi efisiensi, Yongki tetap teguh. “Saya nggak mau bikin cap. Orang bilang, ngapain bikin susahin diri sendiri. Tapi saya udah terlanjur cinta batik tulis. Rezeki datang dari Allah,” ungkapnya.
Ia mengaku menjual karya dengan harga berkisar 15–50 juta rupiah. Tak selalu laku setiap hari, tapi selalu ada pembeli tetap. “Biasanya on call. Kayak kemarin adiknya Pak Presiden butuh batik untuk beliau. Kalau saya nawarin duluan, malah nggak diangkat,” ujarnya sambil tertawa.
Menata Ulang Ekosistem dan Kolaborasi
Yongki mengkritisi ekosistem pemasaran batik yang kini cenderung komersial dan tidak berpihak pada pengrajin. Ia menyayangkan mahalnya biaya event seperti JCC, yang mencapai puluhan juta. “Kenapa enggak kayak dulu, di mana Depsos atau BUMN yang tanggung biaya? Sekarang kita malah dipecah belah sama EO,” katanya.
Harapannya sederhana namun tajam: agar para pelaku batik bersatu. “Kalau untuk event-event besar, kenapa sih kita enggak bareng? Supaya batik kita bisa tetap hidup, bukan cuma jadi barang mahal yang akhirnya dilupakan,” ujarnya.
“Saya idealis. Saya pengen batik tulis tetap hidup. Orang nyebut saya mahal, ya emang ini bukan barang massal. Saya pengen orang beli batik, bukan cuma kain. Tapi juga sejarah, proses, dan rasa,” pungkas Yongki Wahyono

