Jika selama ini pameran batik di Hari Batik Nasional digelar di ruang tertutup dengan seremoni khusus, serta tersedia ragam booth, beda halnya dengan konsep Pameran di Alam Bebas yang digagas oleh Bayu Aria Wk, pemilik Hotwaxstudio Yogyakarta dan Pekalongan.

“Pameran ini bermula sejak 2016, sebuah konsep atau gagasan pameran batik secara online di Hotwaxstudio yogyakarta atau orang sering sebut, “Pameran di Bukit”, ujar pria kelahiran 7 Mei 1981 ini menjelaskan.
“Pameran ini bermula dari pemikiran tentang kesempatan berpameran untuk semua lapisan pegiat batik, khususnya sahabat batik yang baru merintis usahanya, baik dari seniman, mahasiswa seni batik, UMKM, dan umum.”
Bayu menjelaskan ide pameran ini dimunculkan karena mahalnya biaya sewa stand pada pameran-pameran besar batik dan tidak semua pegiat seni batik mampu mengikuti.
“Sebuah catatan penting dalam pameran ini, bahwa pameran ini saya anggap sebagai pameran seni rupa batik. Tidak ada levelitas karya, baik dari segi kehalusan teknis, lama produksi, maupun harga karya. Semua dilihat dan dikurasi dari sudut pandang proses berkarya dan sudut pandang seni (personal).”
Acara Rutin Tahunan
Pameran di Bukit awalnya dibuat di workshop Hotwaxstudio Bantul, dimulai sejak tahun 2016, berlangsung selama 3 tahun berturut turut hingga tahun 2018. Di tahun 2020 hingga 2024 baru-baru ini, lokasi kegiatan kemudian dipindahkan ke Telaga Hijau Ngrejek Wetan, Gunungkidul, Yogyakarta.

Apresiasi yg luar biasa dari para pecinta batik saat itu. Ajang unjuk karya bebas ini pun selain mengulas keunikan tiap karya, juga telah memberikan support besar untuk sahabat batik yg kebetulan karyanya terjual saat itu mulai dari ratusan ribu sampai ada yang per kain 30 juta rupiah.
Transaksi dilakukan secara online sehari usai kegiatan berlangsung melalui video dan foto kurasi yang dilakukan selama acara.
Peserta yang hadir dari kalangan seniman batik di daerah penghasil batik. Ada juga yang datang dari luar negeri untuk menyaksikan langsung kegiatan.
“Ada sahabat yg setelah terjual karyanya, bisa langsung untuk modal menikah, membangun studio batik, menyelesaikan tugas akhir kuliah, dan lain sebagainya,” ujarnya sambil tersenyum.
Upacara Di Tengah Telaga Kering
Pameran Batik di Hari Batik Nasional 2024 kali ini digelar di Telaga Hijau Ngrejek Wetan, Gunungkidul, Yogyakarta. Kondisi tanah retak dengan sedikit rumput di venue alam tersebut merupakan area tengah telaga yang sedang mengering di bulan Oktober.

Kegiatan pameran dimulai tanggal 1 Oktober sore hari dengan mendirikan tenda bersama-sama, diskusi santai tentang batik hingga larut malam. Esoknya pukul 7 pagi di tanggal 2 Oktober, dibuka dengan upacara bendera dilanjut pameran batik serta kurasi setiap karya oleh para kurator batik, terdiri dari dosen seni batik dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dosen Teknologi Batik Pekalongan, serta praktisi batik.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh mahasiswa / mahasiswi seni batik, UMKM, dan pecinta batik untuk melihat langsung serta terlibat dalam peringatan Hari Batik Nasional di alam bebas.
“Jadi kurasi di acara ini sangat lengkap dan menyenangkan. Setelah kurasi selesai, ada Diskusi Batok di tepi telaga. Kegiatan ini menjadi ajang saling belajar antar pegiat batik, dengan materi hasil kurasi ataupun hal lain,” pungkas Bayu Aria.
Penulis: Bayu Aria Wk
Foto: Dokumen Pribadi

