https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Batik Garut, Kekinian Yang Sempat Larut Dalam Kekalahan

Batik
Oleh Bimo Nugroho, Founder Batiklopedia.com
Menangkap peristiwa kekinian dan menyadurnya dalam ragam motif batik, merupakan gaya para pembatik batik Garut. Namun kekinian mereka harus terkalahkan oleh teknologi modern dan bangkit kembali dengan kekhasannya.

 

 

 

Pengaruh batik Jawa mempengaruhi batik Garut, meski pada perjalanannya batik Garut bertransformasi dengan kekhasannya.

Di era kolonial Belanda, Garut dikenal dengan julukan Swiss Van Java oleh karena keindahan alam dan hasil pertaniannya. Berjarak 40 kilometer dari Kota Bandung, wilayah Garut berada pada ketinggian 700 – 750 meter di atas permukaan laut hingga iklim sekitarannya sejuk. Garut dikelilingi pula oleh gunung berapi seperti: Gunung Karacak (1838 meter), Gunung Cikuray (2821 meter), Gunung Guntur (2249 meter), dan Gunung Papandayan (2622 meter).

Di zaman Sultan Agung, Garut menjadi wilayah penting pasokan logistik balatentara Kerajaan Mataram saat mengepung Banten dan Batavia. Rantai sejarah perkembangan batik Garut diduga bermula dari masa tersebut. Sedangkan nama Garut sendiri bermula dari era kolonial Belanda, yakni semasa Belanda menguasai Kabupaten Balubur Limbangan Garut pimpinan Gubernur Jenderal Herman W. Daendels tahun 1811. Pemimpin wilayah tersebut sebelumnya adalah Tumenggung Wangsakusumah II dan akhirnya turun tahta atas kekalahan tersebut.

Tahun 1813, Kabupaten Balubur Limbangan Garut diubah menjadi Kabupaten Garut dengan R.A.A. Adiwijaya atau Dalem Cipeujeuh menjadi bupati pertamanya. Adiwijaya memerintah dari 1813 sampai dengan 1821. Wilayah Garut yang memiliki potensi pertanian yang unggul, dijadikan lahan pertanian dan perkebunan oleh Belanda, hingga akhirnya dibuka akses dan sarana transportasi dalam bentuk kereta api untuk mengangkut hasil-hasil pertanian dan perkebunannya.

Dalam komposisi motif atau corak batik khas Garut, digambarkan secara naturalis dengan inspirasi dari dunia flora dan fauna wilayah sekitar. Terkadang motif khas tersebut dibaurkan dengan motif dari wilayah lain sebagai penegasnya.

Pengaruh batik Jawa mempengaruhi batik Garut, meski pada perjalanannya batik Garut bertransformasi dengan kekhasannya. Batik Garut menonjol dari teknik warnanya seperti gading atau gumading, biru tua, merah tua, hijau tua, coklat kekuningan, dan ungu tua. Warna gumading adalah ciri terkuat dari batik khas Garut dan menjadi warna latar semua batik Garutan. Warna ini tidak dimiliki daerah lain dan juga disebut lepaan.

Sedangkan warna akulturasi yang mengacu pada teknik warna Pekalongan atau Cirebon, batik Garut mengadaptasi warna merah darah, merah muda, ungu muda, dan biru muda.

Dalam komposisi motif atau corak batik khas Garut, digambarkan secara naturalis dengan inspirasi dari dunia flora dan fauna wilayah sekitar. Terkadang motif khas tersebut dibaurkan dengan motif dari wilayah lain sebagai penegasnya. Tak sedikit produksi batik Garut terdapat motif yang ditemui pada motif batik Solo, Yogyakarta, Cirebon, Indramayu, Pekalongan, bahkan peranakan seperti Cina.

Sedangkan pengaruh batik khas Indramayu terdapat pada motif Merak Ngibing, motif yang menjadi ciri khas unik batik Garut selain motif Lancah (laba-laba), Buku Awi (ruas bambu), dan lain sebagainya.

Untuk motif Solo dan Yogyakarta, motif yang didapat pada batik Garut adalah Kawung, Parang (Lereng / Rereng), Limar dan Sidomukti. Motif rereng yang memiliki daya jual tinggi oleh perajin batik Garut dikombinasikan dengan variasi kreatif seperti Rereng Calung, Rereng Surutu (cerutu), Rereng Pita, Rereng Sapatu, dan Rereng Dokter. Hal yang sama terjadi pada motif Sidomukti dengan kombinasi Sidomukti Kopi Tutung (biji kopi gosong), Sidomukti Malati, Sidomukti Papatong (capung), Sidomukti Payung, Sidomukti Sawat, dan lain sebagainya.

Dari Cirebon, batik Garut menyadur motif Arjuna Menekung dan Keraton Galuh. Kedua motif tersebut terdapat unsur wadasan (batu karang), ciri khas batik Cirebon. Ada juga balagbag atau motif Papangkah/Papatran. Pekalongan pun menyumbangkan inspirasi, tetapi bukan pada motif melainkan teknik pewarnaannya. Pewarnaan khas Pekalongan digunakan pada motif Terang Bulan, Angkin, dan Banji. Sedangkan pengaruh batik khas Indramayu terdapat pada motif Merak Ngibing, motif yang menjadi ciri khas unik batik Garut selain motif Lancah (laba-laba), Buku Awi (ruas bambu), dan lain sebagainya.

Penamaan motif batik khas Garut ada juga yang didasarkan atas pemesan atau pemakai pertama. Misalkan saja Rereng Camat yang dibuat berdasarkan pesanan istri camat, atau Rereng Dokter yang dibuat berdasarkan pesanan istri Dokter. Kejadian-kejadian tertentu pun dapat dijadikan penamaan motif batik. Contohnya adala motif Drintin (berasal dari bahasa Belanda, Dieren Tuin. Artinya kebun binatang) yang dilabeli untuk merayakan keberadaan Kebun Raya Kota Bandung, Keriting Irian untuk menyambut kembalinya Irian Jaya ke pangkuan Republik Indonesia.

Sama halnya dengan batik Tasikmalaya, batik Garut mengalami masa kejayaan di era 1960-an. Namun cepat meredup di era 1970-an oleh hempasan ombak produk tekstil motif batik atau populer disebut-sebut (meski salah penamaan), yakni batik printing.

Motif-motif boleh hadir dalam kebaruan, namun pembatik Garut cukup kreatif mempertahankan gaya lama dengan kebaruan. Penamaan motif masih menjadi cara memperbanyak ragam motif batik Garutan. Gaya lama yang dipertahankannya adalah dalam hal komposisi warna dan kreasi motif. Tak heran jika tiba-tiba muncul nama motif Akuarium, Taman Laut, atau Mojang Priangan.

Merak Ngibing Garut cukup ternama ketimbang Merak Ngibing asal Indramayu. Yang mendongkraknya adalah teknik pewarnaannya. Dengan kata lain barang lama selera baru. Hal itu yang membuat batik Garut unik karena menangkap peristiwa terbaru dan selera yang senantiasa berubah. Batik Garut dibuat untuk kebutuhan sandang sehari-hari dan dijadikan sebagai sinjang bagi berbagai golongan masyarakat tanpa menyertakan makna filosofis, agama atau kepercayaan tertentu.

Sama halnya dengan batik Tasikmalaya, batik Garut mengalami masa kejayaan di era 1960-an. Namun cepat meredup di era 1970-an oleh hempasan ombak produk tekstil motif batik atau populer disebut-sebut (meski salah penamaan), yakni batik printing. Serta-merta di tahun 1980-an batik Garut mati suri karena tak ada yang berproduksi di wilayah tersebut.

Batik Garut mulai terangkat di tahun 2000-an ketika masyarakat mulai mengidentifikasikan kembali keragaman batik Indonesia. Batik Garut yang semula hilang kembali dimunculkan. Produksi batik tulis khas Garut harus beradu berani menantang kekalahannya di masa lalu dengan memproduksi pula batik cap agar harga jualnya terjangkau meski masih kalah murah dengan tekstil motif batik.

Nantikan liputan khas eksplorasi dan eksploitasi batik Indonesia kami di:

Cover Batik Explorer Small-min

Ikuti terus kami di:

Twitter

Facebook

Batiklopedia.com

Sumber referensi: Buku Batik Pesisir Selatan Jawa Barat

 

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Ini Alasan Pemerintah Tentang Pembatalan 3.143 Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah

Batik Ciamis, Kisah Manis Yang Berjuang Hidup Kembali