https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Batik Tasikmalaya, Simbol Keterbukaan Antar Tradisi

Batik
Oleh Bimo Nugroho, Founder Batiklopedia.com
Dinamisasi masyarakatnya tertular dalam karya batik Tasikmalaya. Alam dan masyarakatnya menginspirasi warna dan motif khasnya, hingga batik Tasikmalaya penuh pukau dan makna.

 

 

 

Secara historis dan tradisi, masyarakat Tasikmalaya unggul dalam menata pertemuan antar tradisi, budaya dan dinamis dalam menghadapi perkembangan zaman.

Tasikmalaya secara etimologis berasal dari dua kata: Tasik dan Laya. Artinya dalam bahasa Sunda adalah Keusik Ngalayah, yakni pasir yang terhampar dimana-mana. Bisa jadi keberadaan wilayah ini bermula dari pasca meletusnya Gunung Galunggung tahun 1822 yang menjadikan wilayah di sekitarannya penuh dengan pasir letusan tersebut. Kota Tasikmalaya sejak 1913 telah menjadi Kota Administratif, terbagi menjadi dua wilayah: Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya.

Kota Tasikmalaya memiliki luas wilayah 171, 56 kilometer persegi, terbagi menjadi delapan kecamatan yakni: Chidieung, Cipedes, Tawang, Indihiang, Kawalu, Cibeureum, Tamansari, dan Mangkubumi. Untuk mendapatkan citra dari wilayah ini, berbagai obyek wisata alam yang bisa disambangi antara lain: Gunung Galunggung, Kampung Naga, Karang Tawulan, Pantai Selatan, dan masih banyak lagi. Semuanya terletak di Kabupaten Tasikmalaya.

Secara historis dan tradisi, masyarakat Tasikmalaya unggul dalam menata pertemuan antar tradisi, budaya dan dinamis dalam menghadapi perkembangan zaman. Aneka kerajinannya menunjukkan hal demikian seperti kelom geulis, payung Tasik, anyaman mendong, bambu, dan bordir.

Era kemunduran batik Tasikmalaya terjadi ketika dihilangkannya monopoli bahan baku dan pemasaran yang dilakukan oleh Koperasi Mitra Batik.

Keunggulan tersebut kemudian melahirkan perkembangan batik sunda khas Tasikmalaya yang datang dari luar wilayahnya. Kekhasannya muncul dari motif-motif yang dilahirkannya dan diambil dari panorama alam dan tradisi khas setempat. Puncak kejayaan industri batik Tasikmalaya boom dii tahun 1960-an. Berbagai koperasi batik bertumbuhan dan mengayomi para perajinnya untuk terus berproduksi.

Era kemunduran batik Tasikmalaya terjadi ketika dihilangkannya monopoli bahan baku dan pemasaran yang dilakukan oleh Koperasi Mitra Batik. Para pengusaha batik kesulitan untuk mendapatkan bahan baku dan terjadinya kenaikan bahan baku kain mori sehingga menyulitkan modal para pengusahanya. Di tahun 1990-an, industri batik Tasikmalaya menurun tajam dan menyuramkan masa depan batik Tasikmalaya.

Berdasarkan wilayah, pengerjaan batik Tasikmalaya didasari atas pengelompokan kerja yang dibuat oleh bangsawan, saudagar, dan masyarakat biasa. Tetapi lama-kelamaan pengelompokan tersebut pun runtuh seiring zaman. Sentra pembatikan Tasikmalaya awalnya berada di wilayah Pangluyungan, Bojong, Buninagara, Gudang Jero/Balakecrakan, Martadinata, Cipedes, dan Ciroyom.

Untuk motif-motif dan warna khas batik Tasikmalaya, diilhami dari konsep artistik yang integral, yakni antara keseimbangan, keselarasan, keserasian, dan mampu lestari.

Di daerah pedalaman, batik Tasikmalaya dihidupkan oleh daerah-daerah seperti: Cikalong, Karangnunggal, Cikatomas, Parigi, dan desa pedalaman lainnya yang tersebar di wilayah Tasikmalaya.

Akhir tahun 1990-an, industri batik Indonesia kembali bangkit dan menunjukkan eksistensinya dalam ketahanan ekonomi mikro Indonesia. Begitupula yang terjadi pada industri batik Tasikmalaya. Permintaan berdatangan sehingga menuntut tumbuhnya kembali industri tersebut yang sempat terpuruk. Tasikmalaya kini memiliki 27 unit usaha batik dengan serapan tenaga kerja 446 orang. Namun hal itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar yang tinggi.

Untuk motif-motif dan warna khas batik Tasikmalaya, diilhami dari konsep artistik yang integral, yakni antara keseimbangan, keselarasan, keserasian, dan mampu lestari. Motif batik yang pada awalnya bersifat dari lambang keseimbangan dan kosmologis, menjadi acuan dari keseluruhan motif batik yang ada dalam batik Tasikmalaya. Unsur luar yang mempengaruhi motif batik Tasikmalaya datang dari Purwokerto dan Banyumas, yang terkenal dengan motif batik Bianyuan. Pengaruh itu dari semula ditiru kemudian dikembangkan menjadi motif khas batik Tasikmalaya. Dalam penamaannya, Bianyuan berubah menjadi Bibianyuan, yang artinya meniru gaya batik asal Purwokerto dan Banyumasan.

Warna kuning saheap merupakan salah satu warna khas batik Ciroyoman.

Bibianyuan memiliki warna khas merah dominan, disandingkan dengan warna biru, coklat, dan hijau. Ini jauh berbeda dengan warna pada batik Bianyuan. Bibianyuan kemudian melahirkan alirannya sendiri yang diadaptasi oleh berbagai daerah di Tasikmalaya seperti Ciroyoman (batik asal Ciroyom), Esahan (batik asal Cipedes), atau Sukapuraan (batik asal Sukapura).

Ciroyoman memiliki komposisi warna utama dan dominan yakni warna biru atau hijau. Warna keduanya adalah merah. Pada tahap akhir pewarnaan, diproses dengan cara ngagadung atau memberikan warna kuning saheap (kuning samar halus). Warna kuning saheap merupakan salah satu warna khas batik Ciroyoman.

Esahan masih menggunakan warna khas kuning seperti Ciroyoman diantara warna utama seperti merah, hijau, dan biru pekat. Istilah menguningkan warna pada warna utama disebut lomay. Perbedaan warna utama terjadi pada batik Sukapuraan yang mengkomposisikan warna merah, hitam, dan putih. Akhiran an pada gaya batik khas wilayah ditujukan seperti menunjukkan seolah-olah atau memiripkan satu dengan lainnya. Dikenal pula teknik pewarnaan seperti Sawoan, yakni warna merah tua dominan kecoklatan seperti sogan dari batik Jawa. Ada juga teknik Cangkring, yakni proses pewarnaan merah yang diakhiri dengan warna hitam. Dalam pembatikan, hal ini merupakan kewajaran untuk menentukan kekhasan batik pada tiap daerah penghasilnya.

Motif flora dan fauna pada batik Tasikmalaya diambil secara lokal hingga memunculkan motif khas seperti: Cacingan, Antanan, Keladi/Taleus atau Sente, Kadaka, Awi Ngaramat, Lancah Maung, Ramat Lancah, Nusa Indah, Wijaya Kusumah, rereng Loder, Sekungan, Kancing Gunung, dan Delapan Penjuru Angin atau dikenal 8 PA.

Tidak seperti di Jawa Tengah atau Yogyakarta yang mengenal batik berdasarkan strata sosial, batik Tasikmalaya tidak khusus menjadikan motif-motif batiknya bermakna filosofis tertentu. Namun muncul kepercayaan di kalangan masyarakat jika menggunakan batik motif tertentu akan mendapatkan sesuatu yang diharapkan seperti keberuntungan atau keberkahan.Contoh motif tersebut antara lain adalah Pisan Bali yang mendatangkan rezeki melimpah kala berdagang. Juga motif Bangau Rawa yang memberikan berkah bagi para petani, pedagang, dan masyarakat tradisi yang mempercayainya.

Istilah motif Lereng diadaptasi menjadi Rereng, menunjukkan pengaruh batik Jawa merasuk ke dalam jiwa pembatikan batik Tasikmalaya. Namun batik Tasikmalaya tidak memiliki isen-isen atau isian ornamen yang detil diantara motif utama. Batik Tasikmalaya motifnya cenderung kosongan selain motif utamanya. Insiprasi motif lainnya yang menyadur batik Jawa adalah ragam hias flora dan fauna serta teknik warna bangbiron (bang: merah, biron: biru). Motif flora dan fauna pada batik Tasikmalaya diambil secara lokal hingga memunculkan motif khas seperti: Cacingan, Antanan, Keladi/Taleus atau Sente, Kadaka, Awi Ngaramat, Lancah Maung, Ramat Lancah, Nusa Indah, Wijaya Kusumah, rereng Loder, Sekungan, Kancing Gunung, dan Delapan Penjuru Angin atau dikenal 8 PA.

Batik pada tiap wilayah produksi seperti merepresentasikan alam maupun masyarakatnya. Karena batik ditumbuhkan oleh cipta, rasa dan karsa manusia yang hidup pada daerah tersebut dan diwujudkan dalam bentuk hasil karya yang berusaha memunculkan kearifan lokal.

Nantikan liputan khas eksplorasi dan eksploitasi batik Indonesia kami di:

Cover Batik Explorer Small-min

Ikuti terus kami di:

Twitter

Facebook

Batiklopedia.com

Sumber referensi: Buku Batik Pesisir Selatan Jawa Barat

 

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Desa Industri Mandiri

Desa Industri Mandiri Bangkitkan IKM Berbasis Bioteknologi

Ini Alasan Pemerintah Tentang Pembatalan 3.143 Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah