https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Kiat Ekspansi Bisnis Ke Jepang

Japan-min

Menurut sejumlah pengusaha Jepang dan dari hasil studi, ada beberapa kiat yang perlu diketahui oleh pengusaha eksportir Indonesia khususnya dari kelompok UKM dalam memasuki pasar Jepang, antara lain sbb.:

Pola Permintaan

  1. Permintaan satu produk umumnya dalam jumlah relatif kecil namun jenis produknya yang diminta cukup banyak. Misalnya permintaan untuk furniture dari rotan, pihak importir Jepang akan memesan kursi sofa dari rotan misalnya 5 kointainer, namun masing-masing container jenis/modelnya akan relatif berbeda.
  2. Produk yang diminta harus sesuai dengan contoh yang disepakati dan apabila contoh yang disepakati berbeda dengan barang yang diterima, pengusaha Jepang akan kecewa dan biasanya kekecewaan dimaksud memerlukan waktu untuk terobati.
  3. Produk yang akan diekspor ke Jepang harus sesuai dengan standardisasi yang ditetapkan Pemerintah Jepang. Untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan standardisasi beberapa produk tertentu termasuk aturan impor lainnya, lihat lampiran III, dan apabila terdapat hal-hal yang belum jelas, bisa dilihat lebih lanjut pada website yang tersedia pada lampiran tersebut dan atau menghubungi Kantor Atperindag-Tokyo)

Selera Konsumen

  1. Konsumen Jepang sangat memperhatikan kualitas produk termasuk hal-hal yang kecil, misalnya pakaian, disamping dilihat model, bahan, ukuran, warna, cara mencuci/seterika, kualitas jahitan juga akan diperhatikan hal-hal kecil seperti tidak ada sisa-sisa benang yang nampak.
  2. Harga adalah faktor yang menentukan atau dengan kata lain daya saing produk harus tinggi.
  3. Konsumen Jepang sangat memperhatikan segi fashion dan selalu mencari sesuatu yang baru.

SistemPengangkutan/Delivery

  1. Jadwal pengiriman harus tepat waktu. Bila terjadi keterlambatan, maka kontrak yang terjadi dapat dibatalkan atau pihak eksportir membayar denda. Di Jepang, jadwal pengiriman diatur sedemikian rapi karena berpengaruh pada empat musim (dingin, semi, panas dan gugur).
  2. Apabila terjadi kerusakan setelah barang tiba di gudang importir, segera mengakui kesalahan itu dan menggantinya. Semua ini perlu dilakukan agar tetap memperoleh kepercayaan demi kepentingan bisnis jangka panjang.

Sistem Distribusi

  1. Importir-Wholesaler-Retailer-Konsumen. Misalnya untuk komoditi plywood, kertas dll.
  2. Importir-Retailer-Konsumen (Supermarket, Department Store, dan lain-lain), misalnya untuk produk bahan makanan, pakaian dll.
  3. Importir-Konsumen (mail order), misalnya untuk produk-produk alat olahraga, kesehatan dll.
  4. Untuk beberapa komoditi dan umumnya komoditi pertanian seperti plywood, kopi, karet, cokelat dan komoditi lainnya yang melakukan kegiatan impor adalah kelompok pengusaha besar Jepang atau yang dikenal dengan “Sogho Sosha”. Merekalah yang mendistribusikan komoditi yang diimpor kepada wholesaler. Sementara produk-produk manufacture umumnya dilakukan oleh importer umum.

Budaya Bisnis di Jepang

  1. Bangsa Jepang bangga melestarikan budayanya dan hal itu terwujud pula dalam budaya bisnis, misalnya menghargai senioritas, artinya mereka lebih menghargai apabila negosiasi bisnis dengan manajer atau pimpinan perusahaan yang senior.
  2. Pengusaha Jepang memerlukan waktu dalam mengambil keputusan dalam bisnis terutama terhadap mitra yang baru dan apabila telah terjadi kontrak, biasanya kontrak dagang akan terus berlanjut atau langgeng. Dengan kata lain, pengusaha Indonesia harus ulet dan sabar dalam melakukan negosiasi bisnis dengan pengusaha Jepang.
  3. Referensi dari pengusaha Jepang yang telah dikenal merupakan modal pula untuk mendapatkan mitra bisnis lainnya di Jepang.

Sistem Promosi

  1. Para pesaing Indonesia seperti China, Vietnam, Thailand, Malaysia dan beberapa negara lainnya aktif mempromosikan produk-produknya dengan mengirim langsung catalog dan contoh produk kepada para importir di Jepang, disamping itu mereka aktif pula mengikuti pameran-pameran dagang di Jepang. Bagi pengusaha Indonesia sistem ini belum banyak dilakukan. Untuk itu beberapa hal yang perlu dilakukan pengusaha Indonesia berkaitan dengan kegiatan promosi sbb.:
    Para pengusaha Indonesia khususnya pengusaha UKM agar menghubungi BPEN Depperindag (Tel. (021) 3865166 – (021) 3448164, Fax. (021) 3853658 dan URL: http://www.nafed.go.id) dan Kantor Kepala Dinas Perindustrian dan Peradagangan di daerah.
  2. Beberapa kegiatan pameran di luar negeri biasanya mendapatkan subsidi dari dana daerah walaupun tidak besar namun dapat meringankan beban pengusaha disektor UKM.
  3. Para pengusaha Indonesia harus berani mengeluarkan biaya untuk membuat sekaligus mengirim catalog dan contoh produk kepada para importir terkait di Jepang (Informasi mengenai para importir dan informasi yang diperlukan lainnya dapat menghubungi KBRI Tokyo cq. Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Tel. (81) (3) 34414201 Fax. (81) (3) 34471697 URL: http://www.indonesian-embassy.or.jp dan E-mail: hbagis17@yahoo.com)
  4. Akan lebih efektif apabila leaflet atau catalog dengan penampilan yang menarik dibuat dalam bahasa Jepang. Untuk membuat catalog dalam bahasa Jepang, saat ini relatif mudah di sejumlah percetakan di Indonesia.

Sistem Komunikasi

  1. Apabila eksportir Indonesia berkunjung ke Jepang, diharuskan membawa kartu nama secukupnya. Satu diantara kebiasaan pengusaha Jepang di saat awal perkenalan, saling memberikan kartu nama.
    Para pengusaha Jepang akan lebih menghargai apabila menggunakan bahasa mereka, untuk itu usahakan sedikit mengerti bahasa Jepang.
  2. Apabila ingin berkomunikasi guna memperkenalkan produk anda melalui surat, faksimili atau E-mail, hendaknya ditujukan langsung ke divisi atau bagian yang sesuai.
  3. Usahakan untuk merespon secepatnya setiap permintaan hubungan bisnis dengan bahasa Inggris yang baik dan apabila memungkinkan dengan bahasa Jepang. Pengusaha Indonesia dianjurkan untuk menunggu jawaban mereka dan hindari meminta jawaban secepatnya, kecuali sudah terlalu lama tidak ada tanggapan dari pihak buyer.

Sumber: Kementerian Perdagangan RI

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

badan ekonomi kreatif

Badan Ekonomi Kreatif Beri Pelatihan Dan Sertifikasi Batik di Kendal

Kemenperin Perkuat Litbang Untuk Daya Saing Industri Di Era MEA