Bermula dari kejadian tragis kecelakaan yang menimpanya sewaktu berusia dua tahun ia mendapatkan dirinya pincang kehilangan salah-satu anggota tubuhnya. Ibunya tewas dalam kecelakaan tersebut. Amanul Diah Ayu, yang kini duduk sebagai siswa kelas 6 SDN 5 Pesanggaran, Banyuwangi harus pasrah di usia belianya kehilangan satu kakinya akibat kecelakaan tersebut. Ayahnya, tak pernah lagi mengunjunginya sejak ia berusia enam tahun. Ayu, begitu nama panggilannya kini hidup bersama neneknya yang berusia 70 tahun.
Sudah tiga kali kaki palsu yang terbuat dari kayu diganti karena pertumbuhan tubuhnya. Dengan kaki palsu tersebut, ia dapat menempuh perjalanan menuju sekolah sejauh satu kilometer dari rumah neneknya. Dan semangatnya bersekolah menjadikan dirinya 10 besar dan hendak menggapai cita-citanya sebagai seorang dokter.
Dalam prestasinya, Ayu kerap murung dan memilih menghabiskan waktu senggangnya dengan menulis puisi. Salah-satu puisi yang mungkin akan menyentuh pembaca yang budiman adalah berkisah tentang kehidupannya yang ia alami sebagai seorang disabilitas.
Jangan Panggil Aku Pincang
Dulu hidupku sangat bergembira
Kecil, bersih tak berdosa
Namun setelah kecelakaan
Hidupku berubah, selalu kesepian
Aku diejek tapi tak pernah terhiraukan
Memilih berlalu, meski merengek
Demi cita-citaku
Aku bangkit dari pilu
Kawan, jangan panggil aku pincang
Karena takdirNya pun tak pernah lancang
Terima kasih Tuhan kau sudah menyadarkanku
Kupilih jalan lurusMu
Disarikan dari sumber: https://news.detik.com/berita-jawa-timur/3199481/kisah-ayu-remaja-dengan-puisi-jangan-panggil-aku-pincang

