Jakarta – Peneliti batik Dr. Komarudin Kudiya bersama Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), Afif Syakur, resmi meluncurkan buku Batik Tiga Negeri di Pameran Puspa Nuswantara, Jakarta International Conventio Center (11/7), sebagai upaya mendokumentasikan salah satu mahakarya dalam sejarah batik Indonesia. Buku tersebut diharapkan menjadi referensi akademis sekaligus memperkuat pelestarian Batik Tiga Negeri sebagai warisan budaya bangsa.
Peluncuran buku dihadiri kolektor, pemerhati batik, keluarga besar pembatik, rekan media, serta pelajar SMK Negeri 58 Jakarta. Dalam kesempatan itu, Afif Syakur menegaskan bahwa Batik Tiga Negeri merupakan karya yang lahir melalui proses panjang dan melibatkan sejumlah daerah dengan keunggulan teknik pewarnaan yang berbeda.
Menurut Afif, dokumentasi ilmiah menjadi langkah penting agar sejarah Batik Tiga Negeri tidak hilang ditelan zaman. Kajian akademis juga diperlukan untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai nilai sejarah, filosofi, serta batasan dalam upaya pelestarian batik.
“Batik Tiga Negeri adalah salah satu mahakarya batik Indonesia. Kita perlu mendokumentasikan dan mengkajinya secara akademis agar generasi mendatang memahami nilai penting yang terkandung di dalamnya,” ujar Afif.
Ia mengakui Batik Tiga Negeri memiliki kualitas yang sangat tinggi, tetapi sulit berkembang secara luas karena proses pembuatannya tidak efisien. Produksi yang harus melewati beberapa daerah membuat biaya menjadi tinggi sehingga kurang kompetitif di pasar modern.
Afif yang berasal dari keluarga pembatik generasi keempat mengatakan keluarganya pernah memproduksi Batik Tiga Negeri dengan melakukan penyesuaian teknik, dari proses pencelupan berulang menjadi teknik colet. Meski demikian, semangat untuk mempertahankan kualitas tetap dijaga sebagai bentuk penghormatan kepada para maestro batik terdahulu.
Sementara itu, Dr. Komarudin Kudiya menjelaskan buku tersebut merupakan hasil penelitian mengenai perjalanan Batik Tiga Negeri yang berlangsung lebih dari 125 tahun. Ia menelusuri akar sejarahnya sejak berkembangnya jalur perdagangan di pesisir utara Jawa pada abad ke-15 hingga abad ke-19 yang menghubungkan Lasem, Pekalongan, Cirebon, dan Batavia.
Menurut Komarudin, Batik Tiga Negeri merupakan kain yang proses pewarnaannya dilakukan di tiga kota berbeda. Warna merah dikerjakan di Lasem menggunakan akar mengkudu, warna biru indigo berasal dari Pekalongan, sedangkan warna soga diselesaikan di Solo atau Yogyakarta menggunakan kayu soga.
“Karena prosesnya berpindah-pindah kota, Batik Tiga Negeri menjadi simbol pertemuan budaya Jawa, Tionghoa, dan Eropa dalam satu lembar kain,” kata Komarudin.
Ia menambahkan, perpindahan proses produksi tersebut tidak hanya dipengaruhi tradisi, tetapi juga kondisi alam. Kandungan mineral air di setiap daerah menghasilkan karakter warna yang berbeda sehingga kualitas pewarna alami sulit direplikasi di tempat lain.
Komarudin juga mengungkapkan bahwa Batik Tiga Negeri mencapai masa kejayaan sejak akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Selain menjadi simbol kemewahan, batik ini memiliki kedekatan dengan masyarakat Sunda sebagai bagian dari seserahan pernikahan dan digunakan sebagai ikat kepala dalam tradisi ketangkasan domba.
Lebih jauh, penelitian dalam buku ini juga menunjukkan bahwa keluarga-keluarga pembatik Batik Tiga Negeri telah menerapkan konsep branding jauh sebelum istilah tersebut dikenal luas. Mereka menggunakan label dan identitas merek yang kini justru menjadi bagian bernilai tinggi bagi para kolektor.
Melalui peluncuran buku Batik Tiga Negeri, Komarudin Kudiya dan Afif Syakur berharap dokumentasi sejarah ini dapat menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat, memperkuat riset batik Indonesia, sekaligus mendorong pelestarian salah satu karya batik paling kompleks dan bernilai dalam perjalanan budaya Nusantara.


