Jakarta – Peneliti batik sekaligus akademisi, Dr. Komarudin Kudiya, meluncurkan buku Batik Tiga Negeri bersama Afif Syakur sebagai upaya mendokumentasikan salah satu karya paling monumental dalam sejarah batik Indonesia. Buku tersebut mengulas perjalanan panjang Batik Tiga Negeri yang lahir dari kolaborasi tiga sentra batik berbeda dan berkembang lebih dari satu abad.
Peluncuran buku dilakukan bersama Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), Afif Syakur, di hadapan kolektor, pemerhati batik, keluarga besar pembatik, media, serta pelajar SMK Negeri 58 Jakarta di Pameran Puspa Nuswantara, Jakarta International Convention Center (11/07).
Komarudin menjelaskan, akar sejarah Batik Tiga Negeri dapat ditelusuri sejak berkembangnya jalur perdagangan di pesisir utara Jawa pada abad ke-15 dan semakin kuat pada abad ke-17 hingga abad ke-19. Jalur perdagangan yang menghubungkan Lasem, Pekalongan, Cirebon, hingga Batavia melahirkan tradisi batik dengan karakter yang saling melengkapi.
Menurutnya, perkembangan Batik Tiga Negeri tidak dapat dipisahkan dari peran keluarga besar Oey, Coa, dan Lim yang menjadi pelopor pengembangannya. Tradisi tersebut berlangsung selama lebih dari 125 tahun, mulai sekitar 1889 hingga 2014.
“Batik Tiga Negeri merupakan kain batik yang proses pembuatannya dilakukan di tiga kota berbeda. Warna merah dikerjakan di Lasem, biru indigo di Pekalongan, sedangkan warna soga diselesaikan di Solo atau Yogyakarta,” ujar Komarudin.
Ia menjelaskan, proses produksi yang berpindah dari satu kota ke kota lain menjadikan Batik Tiga Negeri sebagai simbol pertemuan budaya Jawa, Tionghoa, dan Eropa dalam satu lembar kain. Keistimewaan lainnya terletak pada penggunaan pewarna alami, yaitu akar mengkudu untuk warna merah, tanaman indigo untuk warna biru, serta kayu soga untuk menghasilkan warna cokelat.
Komarudin mengatakan setiap warna memiliki makna filosofis dalam budaya Jawa. Warna biru melambangkan ketenangan, merah mencerminkan semangat kehidupan, sedangkan soga menjadi simbol kebijaksanaan dan kematangan. Karena itu, Batik Tiga Negeri tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan pesan budaya yang mendalam.
Ia juga menjelaskan bahwa proses pewarnaan harus dilakukan di tiga kota karena dipengaruhi kondisi alam dan keahlian lokal. Kandungan mineral air di setiap daerah menghasilkan karakter warna yang berbeda sehingga sulit direplikasi di tempat lain.
Menurut Komarudin, Batik Tiga Negeri mencapai masa kejayaannya sejak akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Batik ini bahkan memiliki kedekatan dengan masyarakat Sunda dan menjadi bagian dari tradisi seserahan pernikahan maupun ikat kepala dalam tradisi ketangkasan domba di Jawa Barat.
Selain itu, keluarga-keluarga pembatik Batik Tiga Negeri telah menerapkan konsep branding sejak masa lampau melalui penggunaan label, kemasan, dan identitas merek pada setiap kain. Label asli yang masih melekat pada batik kuno kini bahkan memiliki nilai koleksi yang tinggi.
Komarudin menegaskan, meski secara ekonomi proses produksinya tidak efisien karena melibatkan tiga kota, pewarna alami, dan tingkat kerumitan tinggi, Batik Tiga Negeri merupakan salah satu pencapaian tertinggi dalam tradisi batik Indonesia. Melalui buku tersebut, ia berharap sejarah, filosofi, dan nilai budaya Batik Tiga Negeri dapat dipahami generasi muda sekaligus memperkuat upaya pelestarian batik sebagai warisan budaya bangsa.


