https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Denny Malik Siapkan Musikal “Sangkala Nyi Mas Gandasari”, Angkat Kejayaan Nusantara ke Panggung Modern

Denny Malik siapkan musikal Sangkala Nyi Mas Gandasari, angkat budaya Cirebon ke panggung modern berstandar internasional.

Sutradara dan koreografer senior Denny Malik tengah menyiapkan pementasan musikal bertajuk Sangkala Nyi Mas Gandasari, sebuah pertunjukan yang mengangkat kisah legenda perempuan pejuang dari Cirebon ke panggung modern berstandar internasional. Pertunjukan digelar di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, 14 Juni 2026.

Denny Malik siapkan musikal Sangkala Nyi Mas Gandasari, angkat budaya Cirebon ke panggung modern berstandar internasional.
Denny Malik siapkan musikal Sangkala Nyi Mas Gandasari, angkat budaya Cirebon ke panggung modern berstandar internasional.

Bagi Denny, pertunjukan ini bukan sekadar proyek seni, melainkan upaya memperlihatkan kepada publik bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tidak kalah dari Broadway, Las Vegas, maupun industri hiburan Korea Selatan.

“Pertunjukan Nusantara itu masih sangat kurang. Padahal kita sebenarnya tidak kalah. Tantangannya adalah bagaimana membuat pertunjukan Indonesia bisa tampil dengan standar internasional,” ujar Denny dalam wawancara khusus.

Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya talenta yang luar biasa, khususnya di bidang vokal, tari, dan seni pertunjukan. Namun, selama ini Indonesia kalah dalam hal promosi dan pengemasan.

Karena itu, ia memilih mengangkat cerita yang benar-benar berasal dari Indonesia, bukan adaptasi karya luar negeri. Pilihan itu jatuh pada kisah Nyi Mas Gandasari, tokoh perempuan dari Cirebon yang dinilai memiliki potensi dramatik dan historis yang kuat.

“Kalau Kartini atau Cut Nyak Dien mungkin orang sudah tahu. Tapi Nyi Mas Gandasari, bahkan orang Sunda sendiri belum tentu mengenalnya,” katanya.

Denny Malik siapkan musikal Sangkala Nyi Mas Gandasari, angkat budaya Cirebon ke panggung modern berstandar internasional.

Denny menyebut kisah Gandasari justru menarik karena berada di persimpangan antara sejarah, legenda, dan hikayat Nusantara. Dalam proses kreatifnya, ia melakukan riset panjang dengan mendatangi maestro tari, mempelajari manuskrip, hingga mengunjungi museum dan situs sejarah.

Ia juga menekankan bahwa produksi ini tetap menjaga akar budaya Nusantara, terutama dalam aspek gerak tari dan estetika tradisional. Meski demikian, eksplorasi artistik tetap dilakukan agar pertunjukan tampil menarik dan relevan bagi penonton modern.

“Kalau dibuat terlalu realistis sesuai abad ke-15, tampilannya akan suram. Ini pertunjukan, jadi tetap harus menarik secara visual dan penuh warna,” ujarnya.

Dalam pementasan ini, Denny mengambil inspirasi dari kisah Joan of Arc, pahlawan perempuan Prancis yang menyamar menjadi laki-laki demi ikut berperang. Ia melihat kemiripan semangat perjuangan itu dengan sosok Nyi Mas Gandasari.

Menurut Denny, Gandasari digambarkan sebagai perempuan pemberani yang memiliki posisi istimewa karena menjadi anak angkat Sunan Gunung Jati dan Cakrabuana.

“Pada zaman itu perempuan keluar rumah saja sudah sulit, apalagi ikut perang. Itu yang membuat tokoh ini menarik,” katanya.

Meski mengangkat tokoh sejarah dan spiritual, Denny menegaskan bahwa Sangkala Nyi Mas Gandasari tetap dikemas sebagai hiburan. Penonton, menurutnya, harus mendapatkan pengalaman emosional yang lengkap: tertawa, tegang, sedih, hingga terharu.

Karena itu, unsur komedi, drama, dan aksi tetap dimasukkan dalam pertunjukan agar cerita terasa hidup dan tidak terlalu berat seperti pelajaran sejarah.

Produksi musikal ini juga dirancang dengan teknologi panggung modern, mulai dari multimedia, hidrolik, efek kabut, pencahayaan artistik, hingga tata panggung digital.

“Sekarang pertunjukan sudah kompleks. Semua detail harus dipikirkan supaya emosinya sampai ke penonton,” ujar Denny.

Dalam proses produksi, ia memilih fokus sebagai sutradara dan tidak ikut tampil di panggung. Menurutnya, penyutradaraan pertunjukan musikal membutuhkan konsentrasi penuh karena harus mengatur banyak elemen sekaligus.

Selain tantangan artistik, Denny juga menghadapi tantangan regenerasi pemain. Ia mengakui pola didik generasi lama berbeda dengan generasi muda saat ini, sehingga pendekatan terhadap para pemain Gen Z harus lebih adaptif tanpa menghilangkan disiplin.

Di balik ambisi besar tersebut, Denny mengungkapkan bahwa industri musikal Indonesia masih menghadapi persoalan klasik: biaya produksi yang tinggi dan minim dukungan.

“Harga tiket Rp200 ribuan sebenarnya belum menutup biaya produksi. Saya bikin musikal hampir tidak pernah untung. Yang penting produksinya jalan dan tidak berutang,” katanya.

Ia juga menyoroti minimnya dukungan pemerintah terhadap seni budaya nasional. Menurutnya, negara-negara seperti Korea Selatan mampu membangun industri hiburan karena adanya dukungan nyata dari pemerintah sejak awal.

Meski demikian, Denny memilih tetap berkarya dan tidak berhenti membuat pertunjukan budaya.

“Kalau menunggu dukungan datang, mungkin kita tidak akan bergerak. Jadi lebih baik terus berkarya dan menjaga budaya Indonesia tetap hidup,” tutupnya.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Menteri LH Moh Jumhur Hidayat dorong Vokasi UI cetak green talent dan tenaga kerja hijau hadapi krisis iklim global.

Menteri LH Dorong Vokasi UI Cetak Green Talent untuk Hadapi Krisis Iklim

Drama musikal Sangkala Nyimas Gandasari hadir di TIM Jakarta 14 Juni 2026, angkat budaya Cirebon dengan sentuhan modern.

Asri Welas Antusias Comeback ke Panggung Lewat Musikal Sangkala Nyi Mas Gandasari