Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya sebagai pusat bisnis dan perdagangan di Indonesia Timur, lahirlah sebuah karya budaya yang mempertegas identitas lokal masyarakatnya. Batik Suroboyo menjadi simbol kreativitas warga Kota Pahlawan dalam menghadirkan cendera mata khas yang sarat filosofi.
Batik khas Surabaya ini dipopulerkan oleh Hj. Putu Sulistiani Prabowo, seorang perempuan yang awalnya memiliki ketertarikan pada seni lukis. Berbekal semangat belajar dan kecintaannya pada budaya daerah, ia mulai mendalami seni membatik sejak 1998 dengan mengunjungi berbagai sentra batik di Pulau Jawa.
Dari proses panjang tersebut, lahirlah Batik Suroboyo dengan motif utama ayam Sawunggaling dan daun semanggi. Kedua simbol itu dipilih karena sangat melekat dengan sejarah dan identitas Surabaya. Ayam Sawunggaling menggambarkan keberanian dan semangat juang masyarakat Surabaya, sedangkan daun semanggi menjadi ikon kuliner sekaligus budaya lokal kota tersebut.
Berbeda dari batik klasik Solo atau Yogyakarta yang identik dengan warna sogan, Batik Suroboyo tampil lebih berani melalui warna-warna cerah dan tegas. Karakter warna ini disebut merepresentasikan watak warga Surabaya yang terbuka, sportif, dan penuh semangat.
Putu Sulistiani tidak berhenti pada satu motif saja. Ia terus mengembangkan corak baru dengan tetap mempertahankan unsur khas Surabaya. Berbagai kreasi ayam bekisar hingga ikon kota lainnya mulai dituangkan dalam kain batik tulis yang dikerjakan secara handmade.
Produksi batik dilakukan di galeri sekaligus workshop miliknya di kawasan Jemursari Utara Surabaya. Para pengunjung dapat melihat langsung proses membatik, mulai dari menggambar pola, mencanting malam, hingga proses pewarnaan. Transparansi proses ini menjadi bagian dari edukasi budaya sekaligus daya tarik wisata kreatif.
Dalam satu bulan, workshop Batik Suroboyo mampu menghasilkan puluhan lembar kain batik dengan tingkat kerumitan yang berbeda. Harga produknya bervariasi, mulai ratusan ribu rupiah untuk bahan katun hingga jutaan rupiah untuk kain sutra eksklusif.
Perjalanan Batik Suroboyo membuktikan bahwa budaya lokal dapat berkembang di kota metropolitan sekalipun. Di tengah arus modernisasi, batik tetap mampu hadir sebagai identitas daerah yang membanggakan.
Lebih dari sekadar produk fesyen, Batik Suroboyo menjadi media untuk menceritakan sejarah, karakter masyarakat, dan semangat Kota Pahlawan kepada generasi muda maupun wisatawan yang datang ke Surabaya.Sumber:
Pusakanesia Blog – “Batik Suroboyo”
