Akhir Januari 2026 menjadi momen reflektif bagi keluarga besar Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APBBI). Di tengah suasana keprihatinan akibat berbagai bencana yang melanda sejumlah wilayah Indonesia sejak akhir tahun lalu, komunitas perajin batik ini memilih mengawali tahun dengan doa sekaligus aksi nyata.
Kabar banjir di Pekalongan—khususnya kawasan Pantura seperti Krapyak dan Wiradesa yang dikenal sebagai sentra batik—menjadi perhatian tersendiri. Banyak perajin terdampak, namun harapan tetap dijaga agar mereka terus berkarya dan mempertahankan mata pencaharian keluarga.
Wakil Ketua APPBI Agus Purwanto menjelaskan dalam suasana penuh empati tersebut, APBBI melanjutkan program sosial Sedekah Batik untuk Sesama yang telah diinisiasi sejak Desember 2025. Program ini mengajak para perajin mendonasikan karya terbaiknya untuk dijual kembali melalui Bursa Batik APBBI. Hasil penjualan kemudian disalurkan kepada masyarakat terdampak bencana.
Agus menjelaskan, program ini bukan kali pertama dilakukan. Beberapa tahun lalu, gerakan serupa hadir saat bencana Gunung Semeru. Semangat solidaritas itu kini kembali digerakkan, membuktikan bahwa batik bukan sekadar karya seni dan identitas budaya, tetapi juga sarana kepedulian sosial.
Melalui Bursa Batik Peduli Sumatra Seri 1, dana sekitar Rp27 juta berhasil dihimpun. Antusiasme para perajin yang mendonasikan batik serta para pecinta batik yang membelinya menjadi energi utama keberhasilan program ini.
Pada 25 Januari 2026, tim HPBBI bersama Sanggar Seni Batik Pendopo Medan menyalurkan bantuan ke Desa Lintang, Tamiang, Aceh. Bantuan berupa paket kebutuhan pokok, sarana ibadah, pakaian, serta makanan dan minuman untuk anak-anak diserahkan secara langsung. Perjalanan yang memakan waktu sekitar tiga jam itu ditempuh sebagai wujud amanah dan tanggung jawab kepada para donatur.
Bagi APBBI, transparansi juga menjadi komitmen penting. Laporan penghimpunan dan penyaluran dana dibagikan kepada anggota sebagai bentuk akuntabilitas.
Di tengah tantangan awal tahun, gerakan ini menjadi pengingat bahwa solidaritas dapat tumbuh dari karya tradisi. Batik kembali menunjukkan perannya—bukan hanya membalut tubuh, tetapi juga menghangatkan sesama.

