https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Selain Batik, Tempe Disiapkan Jadi Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO

Selain batik, Indonesia menyiapkan tempe untuk didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan budaya takbenda dengan target ratifikasi 2026.

Indonesia kembali menyiapkan langkah penting dalam diplomasi budaya. Setelah batik diakui dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda, pemerintah kini mempersiapkan tempe untuk menyusul masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda (WBTb) atau Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO.

Melalui Kementerian Kebudayaan, proses pengajuan tempe sebagai warisan budaya dunia tengah dipersiapkan secara matang. Targetnya, proposal ini dapat diratifikasi pada sidang Warisan Budaya Takbenda UNESCO yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2026.

Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah TD Retnoastuti, menjelaskan bahwa proses pengusulan tempe sebenarnya telah dimulai sejak tahun lalu. Pemerintah, kata dia, harus melakukan seleksi yang sangat ketat mengingat keterbatasan kuota dari UNESCO.

“Setiap negara hanya diperbolehkan mengajukan satu proposal nominasi tunggal setiap dua tahun. Karena itu, Indonesia harus menentukan prioritas di antara ribuan potensi warisan budaya takbenda yang kita miliki,” ujar Endah saat ditemui dalam Seminar Budaya Tempe di Kompleks Kemendikbudristek, Jakarta, Jumat, 19 Desember.

Dalam proses seleksi tersebut, tempe akhirnya dipilih karena dinilai paling siap untuk diajukan. Kesiapan itu tidak hanya terlihat dari kekuatan riset dan dokumentasi, tetapi juga dari dukungan luas para pemangku kepentingan.

“Data tempe sudah sangat lengkap. Mulai dari kajian ilmiah, dokumentasi sejarah dan praktik budaya, hingga dukungan nyata dari komunitas produsen, akademisi, dan masyarakat,” kata Endah.

Lebih dari sekadar produk pangan, tempe diposisikan sebagai bagian dari sistem pengetahuan lokal yang hidup dan diwariskan lintas generasi. Dalam proposal yang disiapkan, tempe tidak hanya dipahami sebagai makanan sehari-hari masyarakat Indonesia, tetapi juga sebagai hasil interaksi panjang antara budaya, lingkungan, dan kearifan lokal.

Fermentasi kedelai yang menjadi dasar pembuatan tempe menyimpan pengetahuan tradisional yang berkembang selama berabad-abad. Nilai-nilai kebersamaan, keberlanjutan, hingga akses pangan yang terjangkau menjadi bagian tak terpisahkan dari praktik budaya tempe di berbagai daerah.

Jika proses pengajuan berjalan lancar, tempe akan menjadi Warisan Budaya Takbenda asal Indonesia ke-17 yang diakui UNESCO. Sebelumnya, Indonesia telah mencatatkan berbagai warisan budaya seperti keris, batik, wayang, angklung, noken, pinisi, pantun, gamelan, jamu, hingga kolintang.

Pengakuan ini diharapkan tidak hanya memperkuat posisi tempe di mata dunia, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga dan melestarikan budaya pangan tradisional. Pemerintah pun berharap pengajuan ini dapat mendorong keberlanjutan ekosistem tempe, mulai dari petani, perajin, hingga pelaku industri kecil.

Dengan dukungan penuh dari masyarakat dan para pemangku kepentingan, tempe diharapkan segera menyusul komoditas budaya Indonesia lainnya yang telah lebih dahulu mendapat pengakuan dunia, sekaligus mempertegas identitas Indonesia sebagai bangsa dengan kekayaan budaya yang hidup dan relevan hingga hari ini.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

CAAIP menyalurkan bantuan sosial korban banjir di Sumatera, menjangkau Sumbar, Aceh Singkil, dan Tapanuli sebagai wujud solidaritas alumni.

CAAIP Salurkan Bantuan Sosial untuk Korban Bencana di Sumatera, Jangkau Sumbar, Aceh Singkil, hingga Tapanuli

Empat warisan budaya Bangka Belitung ditetapkan sebagai WBTb Indonesia 2025, menegaskan kekayaan budaya daerah dan identitas nasional.

Empat Warisan Budaya Bangka Belitung Ditetapkan sebagai WBTb Indonesia 2025