Xiamen — Hubungan strategis Indonesia dan Rusia semakin diperdalam melalui kerja sama di berbagai sektor, khususnya industri. Hal ini ditegaskan dalam pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Perindustrian RI Faisol Riza dan Vice Minister of Industry and Trade Rusia, Aleksei Vladimirovich Gruzdev, di sela BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) 2025 di Xiamen, Tiongkok.
Kedua pihak membahas finalisasi sejumlah nota kesepahaman (MoU), termasuk kerja sama di bidang industri perkapalan. Selain itu, rencana investasi juga mencakup pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir, jaringan rel kereta api, produksi gas industri, serta kerja sama aluminium dan kawasan industri.
Di sektor pertanian, Rusia melalui perusahaan Uralchem, Uralkali, dan PhosAgro berkomitmen meningkatkan pasokan pupuk ke Indonesia guna memperkuat ketahanan pangan nasional.
Indonesia juga menyampaikan kesiapan menjadi Partner Country INNOPROM 2026 di Rusia sebagai bagian dari transformasi menuju industri berteknologi tinggi dan berdaya saing global. Selain itu, peluang kerja sama dibuka di sektor farmasi, peralatan medis, metalurgi, dan krisotil.
Dirjen KPAII Kemenperin, Tri Widjajanto, menekankan bahwa Rusia adalah mitra strategis Indonesia di kawasan Eurasia, terlebih hubungan diplomatik kedua negara kini memasuki usia 75 tahun. Ia juga menegaskan pentingnya dukungan Rusia terhadap keanggotaan Indonesia di BRICS sebagai upaya memperkuat perekonomian nasional.
Secara ekonomi, hubungan kedua negara menunjukkan tren positif. Pada 2024, nilai perdagangan bilateral nonmigas Indonesia–Rusia mencapai USD3,3 miliar, sementara total investasi Rusia di Indonesia sebesar USD262,7 juta. Angka ini mencerminkan potensi besar pengembangan investasi dan kerja sama industri di masa depan.

