Jakarta, 17 September 2025 — Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pentingnya percepatan adopsi industri 4.0 di sektor manufaktur guna memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar domestik dan global. Hal ini disampaikan dalam acara Indonesia 4.0 Conference & Expo 2025 di Jakarta, Rabu (17/9).
Menurut Menperin, transformasi digital di sektor manufaktur dapat meningkatkan efisiensi produksi, produktivitas, hingga kualitas produk. “Adopsi teknologi digital bukan sekadar biaya, melainkan investasi strategis untuk keberlanjutan industri,” ujarnya.
Sejak 2018, Kemenperin telah mendorong program industri 4.0, namun penerapannya masih terbatas karena sebagian industri menilai digitalisasi sebagai beban. Dari sisi internal, Kemenperin pun disebut perlu berinovasi lebih jauh dalam mengembangkan model penerapan industri 4.0.
Agus mengungkapkan, meski peringkat World Digital Competitiveness Ranking 2024 Indonesia naik ke posisi 43 dari 67 negara, serta Global Innovation Index 2024 menempatkan Indonesia di peringkat 54 dari 133 negara, pencapaian tersebut belum memuaskan.
Ia menekankan perlunya ekosistem inovasi yang lebih kuat melalui riset, publikasi ilmiah, paten, digitalisasi, hingga produktivitas tenaga kerja. Tahun ini, Kemenperin mencatat hanya 15 inovasi baru dari industri yang terdaftar dalam penghargaan rintisan teknologi (Rintek).
Berdasarkan laporan dari 29 National Lighthouse Industry 4.0, digitalisasi terbukti memberikan dampak signifikan. Antara lain peningkatan produktivitas hingga 101%, percepatan peluncuran produk hingga 600%, peningkatan pendapatan 4%–200%, hingga pengurangan emisi gas rumah kaca 190%.
“Pencapaian ini menunjukkan bahwa transformasi digital mendukung pertumbuhan bisnis sekaligus memperkuat fondasi pembangunan ekonomi berkelanjutan,” kata Agus.
Ia berharap semakin banyak industri nasional yang dapat menjadi bagian dari Global Lighthouse Network yang diinisiasi WEF, sehingga Indonesia mampu bersaing di level internasional.
Menperin optimistis, kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat akan mempercepat terwujudnya Indonesia Emas 2045 sebagai pusat industri modern berdaya saing global.

