Jakarta — Kementerian Perindustrian menegaskan komitmen mendorong transformasi industri fesyen menuju arah yang lebih ramah lingkungan melalui penyelenggaraan Sustainable Fashion Festival (SFF) 2025 di Denpasar, Bali, 2–3 Agustus lalu.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, potensi industri kecil dan menengah (IKM) sektor fesyen dapat menjadi motor penerapan konsep berkelanjutan. “Transformasi ini tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru yang melibatkan komunitas lokal, desainer muda, hingga pelaku IKM di berbagai daerah,” ujarnya di Jakarta, Selasa (9/9).
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menyebut festival ini merupakan hasil kolaborasi Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) dengan TRI Cycle. “Festival ini mendapat sambutan antusias dari berbagai lapisan masyarakat dan menjadi wadah edukasi, kreativitas, sekaligus aksi nyata menuju fesyen berkelanjutan,” katanya.
Selama dua hari, SFF 2025 dikunjungi 866 orang dan menghadirkan beragam program, termasuk fashion show dari delapan sustainable brand, pameran karya pemenang Indonesia Fashion and Craft Award (IFCA), serta workshop ecoprint, plastic fusion, dan crochet. Festival juga menampilkan talkshow edukatif, Clothes Swap yang mengumpulkan 760 kilogram pakaian bekas, serta Bazar IKM dengan 39 brand dari berbagai daerah yang mencatat transaksi lebih dari Rp58 juta.
Kepala BPIFK Dickie Sulistya Aprilyanto menjelaskan, ajang ini juga menjadi peluncuran dua inisiatif baru TRI Cycle, yaitu Rekynd Hub dan Brickini. Rekynd Hub bergerak di pengelolaan tekstil dengan konsep circularity, sementara Brickini mengolah limbah pakaian renang hasil kolaborasi dengan Parongpong Raw Lab.
“Dua inisiatif ini menegaskan posisi SFF sebagai pusat inovasi keberlanjutan berbasis komunitas,” ujar Dickie.
Menurut Reni, antusiasme publik menunjukkan meningkatnya minat terhadap fesyen berkelanjutan. “Kami optimistis industri fesyen Indonesia memiliki masa depan cerah dengan pendekatan inklusif dan berdaya saing global,” katanya.

