Nama Banyumas berasal dari kata โbanyuโ (air) dan โmasโ (emas). Konon, daerah ini dikenal subur, airnya melimpah, dan dianggap sebagai โtanah emasโ karena hasil pertanian serta perdagangannya yang makmur.

Selain itu, ada legenda rakyat yang menyebutkan seorang tokoh bernama Ki Banyumas sebagai cikal bakal nama daerah ini.
Banyumas sebagai Pusat Pemerintahan


- Pada abad ke-16, wilayah Banyumas merupakan bagian dari Kadipaten Pasirluhur.
- Setelah terjadi konflik internal, berdirilah Kadipaten Banyumas pada sekitar tahun 1582, dipimpin oleh Raden Jaka Kaiman yang bergelar Adipati Mrapat.
- Pusat pemerintahan kadipaten awalnya berada di Banyumas Lama (sekarang termasuk Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas).
Sebagai kota kabupaten, Banyumas Lama sempat menjadi pusat administratif dan perdagangan di wilayah Jawa Tengah bagian barat.
Masa Kolonial Belanda


- Tahun 1830, setelah Perang Diponegoro, Belanda menata ulang wilayah administratif di Jawa. Banyumas menjadi Karesidenan Banyumas dengan kota Banyumas Lama sebagai pusat pemerintahan.
- Di masa itu, dibangunlah benteng, pendopo, alun-alun, dan gereja tua, yang sebagian jejaknya masih bisa ditemukan.
- Banyumas menjadi pusat lalu lintas perdagangan karena dekat dengan Sungai Serayu, yang menjadi jalur transportasi penting.
Pemindahan Ibu Kota




- Tahun 1937, pemerintah Hindia Belanda memindahkan ibu kota kabupaten dari Banyumas Lama ke Purwokerto.
- Alasannya:
- Purwokerto lebih strategis karena dilewati jalur kereta api.
- Perkembangan ekonomi lebih pesat di Purwokerto.
- Banyumas Lama dianggap kurang berkembang sebagai pusat kota modern.
Sejak saat itu, Banyumas Lama kehilangan status administratifnya, tetapi tetap menjadi kota bersejarah yang menyimpan peninggalan budaya dan arsitektur kolonial.
Banyumas Lama Kini

Hari ini, Banyumas Lama dikenal sebagai kota tua dengan peninggalan sejarah yang masih bisa dilihat:
- Alun-Alun Banyumas Lama
- Museum Wayang Banyumas (bekas kabupaten)
- Bangunan kolonial peninggalan Belanda
- Kampung-kampung batik Banyumas yang menjaga tradisi lokal
Meskipun bukan lagi pusat pemerintahan, Banyumas Lama tetap menjadi simbol identitas sejarah dan budaya Banyumas, sekaligus daya tarik wisata sejarah di Jawa Tengah.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko
Artikel ini didukung secara personal oleh:
Bapak Darajat Machmud, Bapak Panji Bharata, Bapak Ikhsan Santosa, Ibu Diana Lukita Wati, Bapak Thomas Panji Susbandaru, Bapak Idhoy Dorry Herlambang, Bapak Eman Mulyaman, Bapak Nunu Nugraha, Bapak Putu Diyan, Bapak Ade Kurniawan, Bapak Handaru Dwi Yulianto, Bapak Nyoman Iswara, Bapak Bona Erickson, Bapak Tiwbon, Bapak Muhammad Natsir.
Terima kasih sebesar-besarnya atas dukungan dari pihak:
Waringin Group Hotel Management, Luminor Hotel Purwokerto, Harris Hotel & Convention Citylink Bandung, Batik Komar, dan Oakwood Hotel Bandung.

