https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Nyoman Iswara: Batik, Bajaj, Dan Boardroom

General Manager Fave Hotel Gatot Subroto, Nyoman Iswara, bicara batik, bajaj, dan boardroom.

Sebagian orang menggantungkan gelar sarjana sebagai tiket menuju karier cemerlang, General Manager Fave Hotel Gatot Subroto Nyoman Iswara adalah salah satu yang menempuh jalan sebaliknya: ia bekerja dulu, baru menyelesaikan kuliah. Bagi Nyoman, bukan ijazah yang memvalidasi kemampuannya, tapi kenyataan hidup yang memaksanya belajar lebih cepat—langsung di lapangan.

General Manager Fave Hotel Gatot Subroto, Nyoman Iswara, bicara batik, bajaj, dan boardroom.
General Manager Fave Hotel Gatot Subroto, Nyoman Iswara, bicara batik, bajaj, dan boardroom.

“Saya lulus telat,” katanya ringan, sambil tersenyum lebar. Tapi di balik kalimat itu, tersimpan babak hidup yang tak mudah. Kuliahnya diundur oleh tanggung jawab keluarga. Ia bekerja sambil belajar, bukan karena ambisi semata, tapi karena kebutuhan. Orang tuanya tak punya banyak pilihan, dan Nyoman tahu, ia harus turun tangan membantu.

Kerja sambil kuliah di industri perhotelan bukan perkara sederhana. Ia harus membagi tenaga antara kelas-kelas teori dan pekerjaan fisik yang menuntut presisi dan kesabaran. “Mental saya waktu itu? Mental kacung,” candanya. Tapi justru dari posisi paling bawah itulah ia mengenal kerasnya dunia hospitality—membersihkan toilet, mengantar barang, menjadi resepsionis, hingga fotokopi dokumen reservasi. Semua dijalani. Semua diserap sebagai pembelajaran.

Satu tamparan halus tapi dalam datang dari supervisornya saat ia mulai mengeluhkan nasibnya masih mengerjakan hal remeh-temeh di luar pendidikannya sebagai lulusan Manajemen Perhotelan. Jawaban sang atasan mengubah perspektifnya selamanya: “Bagaimana kamu mau jadi bos kalau nggak pernah tahu kerjaan anak buah kamu?”

Dari situlah Nyoman mulai serius menekuni pekerjaannya kembali. Hingga suatu ketika suprevisor yang menghardiknya justru memberikan ilmu tambahan yakni belajar sistem reservasi dari nol, bahkan diberikan akses ID sang supervisor. Ia tidak hanya mencatat data, tapi memahami struktur, alur kerja, hingga logika pelayanan yang menjadi pondasi dunia perhotelan. Nyoman menyadari: manajemen sejati bukan duduk di belakang meja, tapi memahami detail dari bawah.

Jakarta, Sales, dan Skenario Lapangan

General Manager Fave Hotel Gatot Subroto, Nyoman Iswara, bicara batik, bajaj, dan boardroom.

Kariernya makin berwarna ketika ia masuk ke dunia sales hotel. Di Jakarta, ia menghadapi tekanan luar biasa: dari target harian, hingga konflik internal yang melibatkan geng-geng kantor dan bos-bos galak. “Setiap hari harus cari lima akun, tapi karena macet kadang cuma dapat tiga,” kenangnya.

Namun justru di tengah kekacauan itu Nyoman menemukan ruang pembentukan diri. Ketika sebuah kasus penipuan voucher member muncul, ia menyusun strategi investigasi bersama tim kecilnya. Bukan hanya membongkar, tapi juga menjadi juru bicara hotel di depan massa marah. Kemampuan public speaking dan crowd management yang ia dapat dari masa aktif organisasi di kampus dulu, jadi penyelamat.

Hotel yang awalnya chaos berhasil ia bantu stabilkan. Bahkan ia menggagas nama baru hotel tersebut: Twin Plaza.

Menembus Singapura, Menjadi GM di Rumah Sendiri

General Manager Fave Hotel Gatot Subroto, Nyoman Iswara, bicara batik, bajaj, dan boardroom.

Selepas tugas di Harris Hotel, ia sempat menerima tawaran ke Aston Balikpapan. Kota yang awalnya dibayangkannya sebagai hutan ternyata rapi dan modern. Tapi karena alasan keluarga, ia memutuskan kembali ke Jakarta. Di sinilah tawaran dari Far East Hospitality Singapura datang. Ia diterima setelah negosiasi gaji dua kali lipat dari posisinya saat itu. Tanpa pengalaman di dunia kerja Singapura, ia diminta membangun regional office di Jakarta—sendirian.

“Saya sendiri yang MC, cari band, telepon agent, kirim undangan, reconfirm, semua dilakukan sendiri. Sampai orang Singapura tinggal datang bawa badan,” ceritanya dengan bangga. Acara besar sukses digelar, kepercayaan pun tumbuh.

Tahun 2013, ia resmi menjadi General Manager di Fave Hotel Gatot Subroto. Bukan karena janji-janji muluk, tapi karena rekam jejak. Saat wawancara, satu prinsip yang ia sampaikan ke pemilik hotel: jangan campur tangan urusan operasional. “Kalau sudah bayar operator, ya percaya. Jangan micromanaging,” tegasnya.

Strateginya berhasil. Ia membangun batas sehat antara manajemen dan pemilik. Bahkan ketika properti hotel tempatnya bertugas tak memenuhi syarat formal untuk punya GM dan sekretaris, Nyoman tetap menjalankan perannya dengan penuh dedikasi. Ia tak minta perlakuan istimewa. Naik kereta atau Bajaj? Biasa. Makan sederhana bersama staf? Justru bagian dari gaya kepemimpinannya.

“Title tinggi bukan alasan untuk lupa daratan,” katanya.

Batik, Identitas, dan Kepemimpinan Membumi

General Manager Fave Hotel Gatot Subroto, Nyoman Iswara, bicara batik, bajaj, dan boardroom.

Dari dulu hingga sekarang, ada satu elemen yang konsisten dalam penampilannya: batik. Bukan hanya karena estetika, tapi karena filosofi. “Batik itu cocok buat iklim tropis, membumi. Panas-panas seperti di Balikpapan masa pakai jas?” ujarnya. Favoritnya: Batik Keris dan Danar Hadi, motif-motif alam yang adaptif dan berakar.

Saat ditanya saran untuk perajin batik, jawabannya lugas: “Jaga originalitas. Konsisten sama akar daerah. Jangan cuma modern, tapi juga jangan hilang otentik.”

Kini, Nyoman telah melewati lebih dari dua dekade dalam dunia perhotelan. Dari cleaning service hingga cluster GM. Tapi di balik semua itu, ia tetap setia pada nilai-nilai awal: kerja keras, kejujuran, dan keberanian untuk berdiri tegak—meski harus mulai dari bawah.

Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

#BatikBersuara: 100 pengguna batik bersuara dukung perajin lokal. Batik bukan sekadar busana, tapi gerakan budaya yang hidup dan bermakna.

#BatikBersuara: Suara Untuk Menghidupkan Napas Perajin Batik Indonesia

Agus Supriyono, Marketing Communication Coordinator Waringin Hospitality Hotel Group, bicara tentang profesinya dan batik.

Agus Supriyono: Penjaga Warnet, Markom Hospitality, Dan Pendidikan Batik