Kediri, Jawa Timur — Kerusuhan yang melanda Kabupaten Kediri akhir pekan lalu berujung pada penjarahan sejumlah artefak berharga dari Museum Bagawanta Bhari, termasuk empat lembar kain batik Kediri Rain dan fragmen kepala patung Ganesha abad ke-10.
Kepala Bidang Sejarah dan Arkeologi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri, Eko Priatno, menyebut kain batik tersebut memiliki arti penting sebagai prototipe pakaian adat Kediri. “Batik ini sangat penting karena menjadi identitas budaya dan rujukan pakaian tradisional Kediri,” ujarnya, Selasa (2/9).
Selain batik, pecahan kepala patung Ganesha setinggi 30 sentimeter yang ditemukan arkeolog di Desa Babadan pada 2009 juga ikut dijarah. Fragmen tersebut diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Menurut Eko, penemuan itu sebelumnya membantu mengidentifikasi situs di Babadan sebagai candi Hindu.
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana meminta masyarakat mengembalikan artefak yang dicuri. “Kami membuka jalur pengembalian yang aman. Harapannya, benda-benda bersejarah ini segera dikembalikan,” katanya, Senin (1/9).
Kerusuhan di Kediri pecah pada Sabtu dan Minggu (31/8–1/9), bersamaan dengan gelombang aksi antipemerintah di berbagai daerah. Massa membakar gedung DPRD, kantor pemerintahan kabupaten, sejumlah kantor polisi, hingga merusak Museum Bagawanta Bhari yang berada di belakang DPRD. Pihak museum hanya sempat mengevakuasi tiga artefak: patung kepala Buddha (Bodhisattva) abad ke-10 dan dua batu bata bertuliskan mantra. Sementara itu, Kepolisian Resor Kediri telah menangkap 123 orang, termasuk pelajar SMP, SMA, dan beberapa perempuan. “Kami masih menyelidiki peran masing-masing individu. Jika cukup bukti, mereka akan dijerat pidana,” kata Kapolres Kediri AKBP Bramastyo Priaji.

