Di sebuah desa sunyi di Jawa Tengah, kain-kain berwarna nila, oker, dan biru tua berkibar pelan tertiup angin. Suara cambuk aeolian yang bergetar, tawa anak-anak, dan percikan air dari tong pewarna berpadu menjadi musik keseharian. Namun di dalam sebuah pondok bercat putih, suasananya berubah hening. Para ibu perajin duduk mengelilingi panci lilin lebah panas, menorehkan titik dan garis dengan tangan mantap. Di ruang sederhana itulah tradisi batik—cerita panjang tentang bangsa dan identitas—terus bernapas.
Pemandangan yang bagi sebagian orang mungkin terlihat biasa itu justru menjadi awal perjalanan besar Denica Riadini-Flesch, pendiri SukkhaCitta. Sebagai mantan ekonom pembangunan di Bank Dunia, ia menyaksikan langsung jurang antara program bantuan dan kenyataan yang dihadapi perempuan perajin: mereka adalah pembuat keindahan, tetapi jarang menikmati hasilnya. Hanya 2% yang menerima upah layak.
Kesadaran itu membawa Denica pada keputusan drastis—meninggalkan karier mapan dan terjun ke desa-desa. Pada 2016, ia mendirikan SukkhaCitta, label mode sosial yang mengambil makna “kebahagiaan” dari bahasa Sanskerta. Misinya: menghubungkan kembali masyarakat dengan para pembuatnya, sekaligus membangun rantai produksi yang adil dan ramah lingkungan.
Menghidupkan Pengetahuan Lama untuk Masa Depan Baru
Dalam penjelajahannya, Denica melihat bahwa masalah industri mode bukan hanya soal ketidakadilan upah, tetapi juga soal lingkungan. Limbah pewarna kimia membuat banyak sungai di Indonesia tercemar parah. Pertanyaan besar muncul: bisakah mode yang indah tetap menjaga bumi?
Jawaban itu ia temukan dari kearifan para nenek. Denica belajar mengenai teknik pewarnaan alami yang hampir hilang. Dari situlah tercipta SweetIndigo, proses pewarna nila tanpa bahan kimia berbahaya. Hanya menggunakan gula kelapa, pasta indigo, dan air—dan dapat digunakan bertahun-tahun. Berbeda dengan pewarna kimia yang hanya sekali pakai.
SukkhaCitta lalu membangun ekosistem yang lebih besar: bekerja dengan lebih dari 100 petani menanam Strobilanthes cusia, varietas indigo tahan matahari yang bisa tumbuh tanpa harus membuka hutan. Di beberapa desa, kapas ditanam dengan cara tumpang sari, menciptakan hutan mini yang mengikat karbon dan menyehatkan tanah.
Mode pun kembali pada akarnya: tentang manusia, tanah, dan hubungan.
Dari Kerajinan Menjadi Penghidupan
Melalui Rumah SukkhaCitta, sekolah kerajinan di berbagai desa, para perempuan tak hanya belajar membatik atau mewarnai, tetapi juga manajemen usaha dan kepemimpinan komunitas. Dampaknya nyata: pendapatan perajin naik hingga 60%, jutaan liter limbah kimia tidak mengalir ke sungai, dan lebih dari 30 hektar lahan terdegradasi berhasil direstorasi.
Upaya itu membawa Denica meraih Rolex Award for Enterprise 2023, pengakuan dunia terhadap inovasi yang menjawab tantangan lingkungan secara nyata.
Mode yang Menjaga dan Memperbaiki
Koleksi terbaru SukkhaCitta, Pertiwi, adalah penghormatan untuk para penjaga tanah air. Kebaya dan busana tradisional ditafsir ulang dengan siluet lembut dan lapisan yang cair. Produksinya mengikuti ritme alam, bukan musim mode yang bergerak cepat.
Setiap pakaian SukkhaCitta memiliki garansi perbaikan seumur hidup—sebuah pernyataan bahwa mode adalah hubungan, bukan konsumsi sekali pakai. Jika pakaian memudar, sobek, atau ingin dimodifikasi, mereka siap membantu. Dan ketika pakaian benar-benar tak bisa dipakai lagi, mereka akan mendaur ulang atau mengomposkannya.
Mengubah Cara Kita Melihat, Memakai, dan Menghargai Pakaian
Setelah hampir satu dekade, Denica semakin yakin bahwa “keberlanjutan” bukan lagi kata yang tepat. Baginya, yang lebih penting adalah tanggung jawab. Mode murah yang dianggap wajar oleh banyak orang sesungguhnya memiliki harga mahal: alam yang rusak dan manusia yang tak dihargai.
Melalui edukasi, pameran, dan kurikulum digital yang sedang dirintis, SukkhaCitta mengajak kita memahami proses di balik sehelai pakaian. Mengajak kita merasakan kembali hubungan antara kain dan pembuatnya. Karena bagi Denica, perubahan lahir dari hati. Ketika kita kembali terhubung dengan diri sendiri dan bumi, kita mungkin menemukan cara baru—cara yang lebih baik—untuk berpakaian, hidup, dan merawat bumi bersama.

