https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

STOP CANDU ONLINE DENGAN TINDAKAN DIGITAL WELLBEING

Seimbangkan dirimu dengan ketergantungan digital

Digital wellbeing (kesejahteraan digital) merujuk pada kondisi di mana seseorang dapat menggunakan teknologi digital secara sehat dan seimbang, tanpa merasa tertekan, kecanduan, atau terganggu oleh dampak negatifnya.

Seimbangkan dirimu dengan ketergantungan digital
Seimbangkan dirimu dengan ketergantungan digital

Konsep ini mencakup bagaimana seseorang mengelola waktu dan perhatian saat berinteraksi dengan perangkat digital seperti smartphone, komputer, media sosial, dan platform online lainnya, sehingga teknologi tersebut mendukung kesehatan mental, fisik, dan emosionalnya.

Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia pada 2023 mencatat ada 215 juta orang Indonesia adalah pengguna internet. Dampak positif maupun negatif dari digitalisasi tidak dapat terhindarkan, termasuk diantaranya kebiasaan digital.

Dalam Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gajah Mada bahkan sempat mengulas isu tersebut dalam “Kesejahteraan Digital: Langkah Praktis Mengelola Keseimbangan Mental.”

Peneliti CfDS Rizka Herdiana menyebutkan paparan digital sejak pandemi yang meningkat terbukti membentuk karakter dan kebiasaan digital baru. 

Istilah “kaum rebahan” juga mengacu pada konsumsi digital pada masyarakat yang mempengaruhi kebiasaan barunya, mengasup informasi dan hiburan, melakukan pekerjaan melalui internet secara berlebihan, hingga tidak beranjak kemana-mana.

Salah satu gejala yang banyak ditemui adalah perasaan akan ketertinggalan informasi atau Fears of Mission Out (FOMO). Gejala ini ditemukan oleh kalangan pengguna internet aktif, khususnya anak muda.

Meskipun istilah FOMO biasa digunakan hanya untuk menjelaskan sikap seseorang, namun gejala ini dapat berujung pada kondisi yang lebih parah. Contohnya, perasaan cemas apabila tidak memegang gawai, atau perasaan takut tertinggal informasi hingga memengaruhi keseimbangan mental.

Dalam taraf ini, digital wellbeing atau kesejahteraan digital menjadi penting dipahami.

Digital Wellbeing tidak hanya seputar kebiasaan baik sebagai pengguna dunia digital. Kesejahteraan digital dapat diterapkan dengan bagaimana digitalisasi atau layanan digital mampu mendukung kebiasaan sehat dalam pola hidup masyarakat.

Anis Fuad, S.Ked.,DEA, Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM menjelaskan, digitalisasi saat ini memberikan pengaruh kuat terhadap pelayanan kesehatan.

Sebelum adanya aplikasi, masyarakat umumnya mengantri di unit-unit kesehatan selama berjam-jam, namun sekarang hal itu dapat dihindari dengan pendaftaran awal melalui aplikasi.

“Ada riset menarik dalam topik ini, bahwa internet memiliki fungsi untuk mendukung pola hidup sehat. Contohnya aplikasi penghitung langkah kaki, detak jantung, atau pengingat waktu tidur. Kemudian healthy mind, bagaimana ukuran mental kita. Ukuran-ukuran seperti ini mulai dimanfaatkan sebagai aspek penting dalam menjaga kesehatan,” ucap Anis.

Perwujudan digital wellbeing penting untuk ditekankan kembali pada masyarakat digital era ini. Selain untuk mendukung pola hidup sehat, digital wellbeing menjadi bagian dari 17 Tujuan Pembagunan Berkelanjutan, yakni poin 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera. Harapannya, digitalisasi mampu menghimbau masyarakat untuk lebih peduli pada kesehatan jiwa dan raga dengan memanfaatkan kemudahan teknologi.

Aspek Utama dari Digital Wellbeing

  • Pengelolaan Waktu di Depan Layar (Screen Time Management): Banyak orang menghabiskan waktu yang signifikan di depan layar, baik untuk pekerjaan maupun hiburan. Digital wellbeing mencakup kemampuan untuk membatasi waktu layar dengan bijak agar tidak mengganggu aktivitas penting lainnya, seperti tidur, interaksi sosial langsung, dan kegiatan fisik.
  • Keseimbangan antara Dunia Digital dan Dunia Nyata: Teknologi seharusnya melengkapi hidup kita, bukan mendominasinya. Digital wellbeing mengedepankan keseimbangan antara kehidupan di dunia nyata (offline) dan dunia digital (online). Ini berarti memastikan bahwa kita tidak terlalu terikat pada teknologi sehingga mengorbankan hubungan sosial, produktivitas, dan kebahagiaan secara keseluruhan.
  • Pengelolaan Notifikasi dan Informasi: Dalam era digital, kita sering dibombardir dengan notifikasi dan informasi yang berlebihan. Digital wellbeing melibatkan kemampuan untuk mengelola atau membatasi notifikasi, memilih informasi yang penting, dan mengurangi distraksi yang tidak perlu.
  • Penggunaan Teknologi secara Bertanggung Jawab: Kesejahteraan digital juga mencakup penggunaan teknologi dengan cara yang aman dan bijaksana, seperti menjaga privasi, memahami dampak penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental, dan menghindari perilaku berbahaya seperti cyberbullying atau kecanduan game online.
  • Kesadaran Akan Dampak Kesehatan Mental: Penggunaan teknologi yang berlebihan, terutama media sosial, bisa berdampak pada kesehatan mental, seperti perasaan cemas, depresi, dan rendah diri akibat perbandingan sosial. Digital wellbeing berarti memahami dan menangani dampak psikologis ini dengan cara yang sehat, misalnya dengan rutin beristirahat dari media sosial atau menggunakan aplikasi yang memantau kesejahteraan mental.
  • Kontrol terhadap Data dan Privasi: Aspek lain dari digital wellbeing adalah kesadaran akan data pribadi yang dibagikan secara online, serta kemampuan untuk melindungi informasi pribadi dan menjaga privasi digital. Pengguna harus memahami bagaimana data mereka digunakan dan bagaimana melindunginya dari potensi penyalahgunaan.

Cara Meningkatkan Digital Wellbeing

  • Buat Batasan Penggunaan Teknologi: Tentukan batas waktu harian atau mingguan untuk penggunaan teknologi tertentu, terutama media sosial dan aplikasi hiburan. Banyak perangkat dan aplikasi kini memiliki fitur yang memungkinkan pengguna mengatur waktu penggunaan mereka.
  • Kelola Notifikasi: Matikan notifikasi yang tidak penting agar tidak terus-menerus terganggu, dan gunakan fitur Do Not Disturb pada waktu-waktu tertentu, seperti saat bekerja, belajar, atau sebelum tidur.
  • Istirahat secara Berkala: Terapkan kebiasaan digital detox, di mana Anda secara sengaja berhenti menggunakan teknologi untuk sementara waktu. Ini bisa dilakukan secara harian (misalnya, satu jam tanpa ponsel) atau mingguan (misalnya, satu hari tanpa internet).
  • Gunakan Aplikasi Pengelola Waktu: Ada banyak aplikasi yang dirancang untuk membantu mengatur waktu penggunaan layar dan mendorong kebiasaan digital yang lebih sehat, seperti fitur “Digital Wellbeing” pada Android atau “Screen Time” pada iOS.
  • Jaga Hubungan Sosial di Dunia Nyata: Pastikan untuk tetap menjaga komunikasi tatap muka dan hubungan sosial secara langsung, yang sangat penting bagi kesehatan mental dan emosional.

Digital wellbeing adalah tentang usaha mengembangkan hubungan yang sehat dengan teknologi, di mana pengguna dapat merasakan manfaat dari teknologi tanpa terkena dampak negatif seperti kecanduan atau gangguan mental. Ini membutuhkan kesadaran diri, manajemen waktu, dan kebijaksanaan dalam penggunaan perangkat dan media digital.

Dapatkan Informasi Menarik Lainnya di:

News & Event

Batik Fashion

Batik Crafter

Batik Story

Inspirasi

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

transformasi digital usaha batik adalah keniscayaan

TRANSFORMASI DIGITAL USAHA BATIK

Opening Parade Kain Nusantara JFW 2025

KAIN NUSANTARA OPENING PARADE JFW 2025