https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Resona Saintek Maranatha di Kampung Batik Cigadung: Tradisi yang Dipertemukan dengan Teknologi

Kampung Batik Cigadung kedatangan mahasiswa Maranatha, hadirkan Batik Kura-Kura, Naskah Kuno, dan Batik Bersuara.

Kampung Batik Cigadung, Bandung, kembali menjadi titik pertemuan gagasan-gagasan segar ketika Universitas Kristen Maranatha menggelar Semesta Inovasi Maranatha (26/11/2025). Pelaku seni, komunitas kreatif, hingga akademisi lintas bidang berkumpul untuk melihat bagaimana tradisi batik dapat bergerak seiring perkembangan teknologi.

Kampung Batik Cigadung kedatangan mahasiswa Maranatha, hadirkan Batik Kura-Kura, Naskah Kuno, dan Batik Bersuara.
Kampung Batik Cigadung kedatangan mahasiswa Maranatha, hadirkan Batik Kura-Kura, Naskah Kuno, dan Batik Bersuara.

Dalam momentum ini, tiga inovasi unggulan—Batik Kura-Kura, Batik Naskah Kuno, dan Batik Bersuara—menjadi sorotan utama dan membuka percakapan baru tentang masa depan batik Indonesia.

Ketua Pelaksana Resona Saintek, Iwan Santosa, menegaskan bahwa batik terlalu sering dipandang sebagai budaya yang kaku dan kuno. Padahal, warisan tradisi ini justru memiliki ruang luas untuk berevolusi. Melalui pemanfaatan teknologi modern, para peneliti Maranatha berupaya menghidupkan kembali nilai budaya Nusantara dalam bentuk yang lebih relevan.

Dalam diskusi bertema Revitalisasi Batik Lokal dan Naskah Kuno di Rumah Batik Komar, ia menjelaskan bahwa inovasi harus keluar dari kampus agar dapat dimanfaatkan masyarakat. Tiga inovasi yang diperkenalkan merupakan hasil kerja akademisi lintas fakultas: Dr. Ariesa Pandanwangi, Dr. Ratnadewi, dan Agus Prijono.

Batik Kura-Kura menjadi inovasi pertama yang menarik perhatian. Dengan memanfaatkan algoritma turtle graphics, peneliti menciptakan pola batik melalui instruksi pada “kura-kura virtual”, menghasilkan motif yang telah dikembangkan untuk berbagai daerah. Inovasi berikutnya, Batik Naskah Kuno, mencoba menghidupkan kembali kisah epik seperti Bujangga Manik dan naskah Nusantara abad ke-15.

Kampung Batik Cigadung kedatangan mahasiswa Maranatha, hadirkan Batik Kura-Kura, Naskah Kuno, dan Batik Bersuara.

Melalui desain batik kontemporer, nilai sastra tradisi itu dihadirkan dalam bentuk visual yang lebih mudah dipahami publik. Produk ketiga, Batik Bersuara, menggabungkan batik dengan teknologi audio sehingga pengunjung dapat memindai bagian tertentu dari kain untuk mendengar dongeng rakyat sesuai motifnya.

Dalam sesi selanjutnya, Ketua Umum APPBI sekaligus maestro batik, Dr. Komarudin Kudiya, memberikan pandangan bahwa teknologi—termasuk AI—adalah alat pendukung, bukan ancaman. Ia mencontohkan bahwa motif AI dapat dibuat dalam hitungan menit, tetapi menjadikannya sehelai batik tetap memerlukan tangan manusia dan proses panjang.

Rektor Universitas Kristen Maranatha, Prof. Frans Umbu Datta, menambahkan bahwa di era modern, budaya dan saintek tidak bisa berdiri sendiri; kampus berperan sebagai jembatan di antara keduanya.

Kegiatan ini ditutup dengan apresiasi dari Lurah Cigadung, Muhamad Arif Kurniawan, yang berharap kemitraan antara kampus dan komunitas kreatif terus berlanjut. Melalui Resona Saintek, upaya pelestarian budaya tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menciptakan inovasi yang memberi ruang baru bagi batik untuk tumbuh di masa depan.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Tiga tokoh kunci menjaga batik Subang tetap hidup, dari penggerak organisasi hingga pencipta motif, di tengah minim dukungan dan persaingan pasar.

VIDEO: Perjalanan Batik Subang Di Tanah Tak Terwarisi Batik

UK Maranatha membuktikan kampus bukan hanya ruang belajar, tapi pusat inovasi saintek yang menghidupkan kembali tradisi batik secara modern.

UK Maranatha Menghidupkan Kembali Tradisi Batik Berbasis Saintek