Jakarta — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmennya memperkuat program hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku Indonesia, salah satunya melalui pengembangan minyak atsiri dari kemenyan.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menyebut hilirisasi kemenyan dapat memperkuat daya saing IKM di daerah penghasil. “Nilai per ton produk hilirisasi jauh lebih tinggi dibandingkan bahan mentah. Artinya, hilirisasi kemenyan mampu memberikan nilai tambah signifikan dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global,” jelasnya.
Data Trademap.org mencatat, ekspor getah kemenyan dan resin Indonesia pada 2024 mencapai USD55,5 juta dengan volume 43.685 ton. Sementara ekspor produk hilir berupa minyak atsiri hanya 1.776 ton, tetapi bernilai USD42,3 juta atau USD23.817,56 per ton—nyaris 20 kali lipat lebih tinggi.
Kemenperin melalui Direktorat IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan (IKM KSK) kini berkoordinasi dengan dinas di Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan, dua wilayah yang menyumbang 80% produksi kemenyan dunia. Upaya ini bertujuan memperkuat rantai pasok, kualitas produksi, serta pembinaan pelaku IKM.
Direktur IKM KSK Budi Setiawan menambahkan, penguatan ekosistem hilirisasi kemenyan akan melibatkan pemerintah daerah, asosiasi, hingga pelaku usaha. “Dengan kolaborasi lintas sektor dan inovasi IKM, pengolahan minyak atsiri dari kemenyan siap menjadi penggerak baru ekspor berbasis nilai tambah lokal,” ujarnya.
Sebagai catatan, Kemenyan Tapanuli Utara pada 2025 telah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum, menegaskan kualitas dan reputasi globalnya sekaligus memberi perlindungan hukum serta nilai ekonomi lebih besar bagi masyarakat.

