“Saya bukan pembatik,” ucap Dr. Dra Siti Maziyah , M.Hum, penulis buku Kain Jawa dalam webinar 2024 bersama Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia. Ia mengemukakan pengetahuannya tentang tapih — wastra yang tak hanya menutupi tubuh, tetapi juga menyelimuti sejarah panjang peradaban.

Kain tapih adalah salah satu bentuk tertua dari busana perempuan Jawa. Dalam lukisan dan relief kuno, perempuan digambarkan mengenakan kain panjang tanpa jahitan, dililitkan dengan rapi di tubuh. Lelaki pun mengenakan kain serupa, biasanya sebagai bawahan surjan atau pakaian adat lainnya.
Namun dari cara pemakaian kain saja, masyarakat sudah dapat menebak status sosial seseorang. Di masa lalu, pakaian menjadi tanda kedudukan — dari rakyat biasa hingga bangsawan.
Dari Lawe hingga Wastra
Dalam bahasa Indonesia, kain didefinisikan sebagai barang hasil tenunan dari benang kapas. Tapi bagi orang Jawa, kain lebih dari sekadar hasil tenunan: ia adalah karya, doa, dan simbol kehidupan.
Prosesnya dimulai dari lawe, benang yang dipintal dari kapas. Sebelum ditenun, lawe direndam minyak jarak atau minyak kacang agar warna dapat meresap sempurna. Pewarnaannya pun alami — dari tumbuhan, akar, dan kulit pohon — lalu difiksasi menggunakan bahan tradisional agar warnanya awet.
Teknologi menenun ini sudah dikenal sejak masa prasejarah. Bukti-bukti arkeologis berupa gerabah bermotif menunjukkan bahwa nenek moyang Jawa telah memahami konsep pola kain. Pada masa klasik Hindu–Buddha (abad ke-5 hingga ke-15), informasi tentang kain semakin kaya: tercatat dalam prasasti, karya sastra, hingga relief candi yang memperlihatkan motif kain pada arca dan figur manusia.
Tenun Gendong di Keraktuban
Salah satu penelitian menarik dilakukan di daerah Keraktuban, tempat masyarakat masih menenun dengan cara lama. Mereka memintal kapas sendiri, membuat lawe, dan menenun menggunakan alat sederhana yang disebut tenun gendong — karena penenunnya “masuk” ke dalam alat, seolah dipeluk oleh tenunannya sendiri.
Dari pagi hingga sore, para ibu menenun dengan sabar. Satu helai kain membutuhkan empat gulung lawe dan kerja penuh ketelitian.
Di sana, tradisi bukan sekadar nostalgia — melainkan napas kehidupan yang diwariskan turun-temurun.
Ketika Benang Menjadi Lukisan
Teknik menghias kain di Jawa kuno terbagi dua:
- Motif yang muncul dari permainan benang saat proses menenun, seperti pada kain lurik.
- Motif yang dibuat setelah kain selesai, seperti batik dan perada.
Istilah batik baru tercatat dalam naskah abad ke-17, tetapi aktivitas membatik — atau cinitra (melukis) dan dinulis (menulis) — sudah ada jauh sebelumnya. Membatik dalam bahasa Jawa halus disebut seratan, yang berarti menulis dengan penuh rasa.
Sementara itu, perada adalah teknik menghias kain dengan emas cair. Naskah-naskah abad ke-12 hingga ke-15 menyebutkan bahwa kain istimewa (wastra) dilukis dengan emas cair, meski teknik ini sempat diragukan oleh peneliti Barat. Dalam tradisi Jawa, kain seperti itu adalah simbol kemewahan dan keagungan.
Kain, Tapih, dan Identitas
Dalam berbagai prasasti, istilah kain sering dibedakan berdasarkan penggunaannya:
- Wedihan: kain untuk laki-laki (selalu sepasang)
- Kain atau Tapih: kain untuk perempuan (satuan lei)
- Sinjang: bentuk halus dari tapih
- Bules dan Ules: kain yang digunakan untuk membawa barang
- Kampuh, Dodot, dan Wastra: kain besar untuk upacara adat, pengantin, dan bangsawan
Dari sini tampak bahwa kain tidak hanya menutupi tubuh, tetapi juga menyelimuti makna sosial dan spiritual. Tapih menjadi simbol kelembutan dan kehormatan perempuan Jawa, sementara wastra menjadi lambang kehalusan budaya bangsa.
Selembar Kain, Sejarah yang Tak Pernah Luntur
Melalui tapih, kita belajar bahwa kain bukan sekadar busana, melainkan teks budaya yang menyimpan kisah panjang tentang ekonomi, spiritualitas, dan seni.
Setiap helaian lawe yang dipintal adalah doa; setiap motif yang digoreskan adalah sejarah. Dari tenun Keraktuban hingga batik megah keraton, dari tangan-tangan ibu hingga perajin muda masa kini — kain tapih tetap menjadi saksi bahwa keindahan Jawa bukan hanya terlukis pada kain, tetapi juga dalam jiwa masyarakatnya.

