Transformasi total Atria Hotel Malang yang melahirkan “New Look” tak sekadar soal ubahan fisik: lantainya, fasadnya, atau teknologi canggih yang dipasang. Di balik ubah wajah itu, Hendry Napitupulu — Director Planning & Design PT Paramount Enterprise International yang memimpin rancangan New Look Atria Hotel Malang — menegaskan ada niat kuat menghadirkan identitas lokal sebagai roh desain. Konsep yang mereka usung disebut “Consciously Javanese”: modern dan mewah, tetapi berakar pada elemen estetika Jawa yang kaya makna. Dua ornamen utama, gunungan dan motif kawung, dipilih sebagai landasan visual yang mengikat ruang, keramahan, dan pengalaman tamu.
Menurut Hendi, gunungan dan kawung dipilih bukan karena trend semata, melainkan karena kedua simbol itu mampu menerjemahkan nilai-nilai lokal ke dalam bahasa desain kontemporer. “Kami ingin hotel terasa modern tanpa kehilangan asalnya. Gunungan dan kawung memberi suara—mereka bukan hiasan kosong, melainkan penanda identitas,” ujar Hendi saat memaparkan konsep di press conference launching New Look Atria Hotel Malang.
Gunungan: puncak makna dalam tata visual
Gunungan, yang akrab di panggung wayang sebagai lambang alam semesta, dihadirkan dalam bentuk interpretasi interior dan elemen fasad. Secara tradisi, gunungan mempresentasikan kosmos: pusat, tatanan, serta titik peralihan dari hening menuju kisah—simbol kelahiran, kematian, dan keseimbangan. Dalam konteks hotel, gunungan diposisikan sebagai penanda “pusat” pengalaman: lobi yang menyapa, ruang publik yang menimbang estetika dan fungsi, serta bahasa bentuk yang mengundang tamu masuk ke suasana yang bermakna.
Hendry dan tim menafsirkan gunungan secara kontemporer: bukan sekadar siluet tebing atau gunung, melainkan komposisi geometris dan tekstur untuk menunjukkan kesinambungan—antara ruang privat dan publik, antara pelayanan dan keramahan, antara kemewahan dan keakraban lokal.
Kawung: kesederhanaan yang arif dan aristokrat
Motif kawung hadir sebagai ornamen berulang pada furnitur, panel dinding, dan aksen tekstil. Kawung adalah salah satu motif batik paling klasik dari Jawa; bentuknya sering digambarkan sebagai empat bulatan yang saling berkait, menyerupai buah aren atau bunga—simbol kesucian, keseimbangan, dan aristokrasi. Tradisi pengunaan kawung kerap terkait dengan lingkungan keraton, menandai status dan nilai estetika yang tenang namun berwibawa.
Tim desain Atria memanfaatkan kawung untuk memberi ritme visual: pola berulang yang menenangkan, memecah ruang tanpa mengurangi keharmonisan. Hendry menekankan bahwa kawung bukan sekadar motif dekoratif, melainkan “ruang bernapas” yang membantu tamu merasakan ketenangan sekaligus kebesaran citarasa Jawa.
Kolaborasi internasional, penyajian lokal
Untuk mewujudkan interpretasi ini, Atria Malang bekerja sama dengan konsultan ternama, memastikan nuansa tradisi disajikan dengan standar internasional. Hendi menegaskan bahwa keberhasilan desain bukan hanya estetika, tetapi bagaimana elemen budaya dipahami, dihormati, dan ditransformasikan agar relevan bagi tamu modern.
Hasilnya: Atria yang kini tampil bukan hanya “baru”, melainkan menjadi ruang yang menghormati akar budaya Malang dan Jawa, hotel yang mengundang tamu menikmati kemewahan sekaligus belajar tentang nilai simbolik yang tersimpan di balik motif dan bentuk. Dengan gunungan sebagai narator kosmik dan kawung sebagai napas aristokrat, Atria Hotel Malang menempatkan warisan lokal sebagai bagian tak terpisahkan dari pengalaman menginap: elegan, bermakna, dan berpegang pada akar.

