https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in , ,

Florentina Panti Rahayu: Kisah Ballroom Hingga Batik

“Saya orang Klaten. Waktu kecil suka nungguin nenek membatik. Canting, malam, kesabaran itu semua terekam dalam ingatan saya. Dulu biasa aja, sekarang jadi merasa itu luar biasa,”

Di tengah gelapnya masa pandemi COVID-19, ketika keramaian menjadi hal yang dilarang dan gedung-gedung pertemuan sepi tak bertuan, justru di situlah cahaya sebuah gagasan muncul. Dari kesunyian itulah, Menara Kreatif Solusindo (MKS) lahir—bukan hanya sebagai unit bisnis baru, tetapi sebagai simbol kolaborasi, kebangkitan, dan semangat untuk bertahan hidup.

“Waktu pandemi, gedung-gedung ditutup. Wedding gak boleh, acara-acara dilarang. Tapi justru dari kekosongan itu kita mulai bergerak. Akhirnya terbentuklah ASGEPRINDO, Asosiasi Pengelola Gedung Pernikahan dan Resepsi Indonesia,” tutur Florentina Panti Rahayu atau akrab disapa dengan Flo, Komisaris Utama PT MKS dan bendahara umum di DPP ASGEPRINDO.

“Saya orang Klaten. Waktu kecil suka nungguin nenek membatik. Canting, malam, kesabaran itu semua terekam dalam ingatan saya. Dulu biasa aja, sekarang jadi merasa itu luar biasa,”
“Saya orang Klaten. Waktu kecil suka nungguin nenek membatik. Canting, malam, kesabaran itu semua terekam dalam ingatan saya. Dulu biasa aja, sekarang jadi merasa itu luar biasa,”

Dari Krisis Menuju Kolaborasi

Sebelum pandemi, industri pernikahan berjalan mandiri—masing-masing penyedia jasa bergerak dengan cara sendiri. Tidak ada wadah kolektif yang menyatukan para pelaku industri gedung resepsi. Ketika krisis datang, kebutuhan untuk bersatu tak bisa ditunda.

“Kami merasa perlu maju bareng ke pemerintah. Saat itu yang ngajak gabung teman-teman dari dunia catering dan wedding planner. Saya sendiri masih pegang Hotel Desa Wisata TMII, tapi akhirnya kami bertiga sepakat membentuk sesuatu yang lebih terstruktur,” ujar ibu satu anak tersebut.

Dengan keyakinan bahwa “di mana ada kelahiran, pasti ada pernikahan”, ia melihat bahwa bisnis ini bersifat everlasting, tidak akan pernah mati.

Wedding Bukan Sekadar Pesta, Tapi Rantai Ekonomi

Ketika acara pernikahan dihentikan total, dampaknya luar biasa luas. “Pasar mati, petani mati, tukang bunga mati. Kita ini gak cuma ngomong soal WO dan EO, tapi ribuan orang yang terdampak,” kenangnya. Dari sanalah muncul inisiatif membuat simulasi wedding aman—dengan protokol COVID-19 ketat, mulai dari hampers pengganti prasmanan, masker, salaman virtual, hingga pembatasan tamu.

Usaha ini membuahkan hasil. Dukungan dari Kemendagri hingga DPR RI berhasil membuka kembali izin acara dengan kapasitas terbatas. Lambat laun, industri kembali hidup.

“Begitu dibuka 25%, kita perjuangkan sampai 75%. Karena satu acara bisa melibatkan 100 orang pekerja. Bayangkan efek domino ekonomi yang ditimbulkan.”

Menjawab Tantangan dengan Inovasi dan Paket Hemat

Mengelola bisnis di masa ketidakpastian membutuhkan strategi jitu. Salah satunya dengan merancang paket all-in untuk pasar yang ingin efisiensi. “Dulu orang bayar pritilan, gedung sendiri, katering sendiri, dekor sendiri. Sekarang kami bikin paket hemat. Misalnya, 130 juta sudah lengkap: gedung, make-up, dekorasi, foto, MC, catering untuk 500 orang,” jelasnya.

Menara Kreatif Solusindo kini mengelola berbagai venue strategis seperti Menara Kuningan, Menara Jamsostek, Canopus Kelapa Gading, dan ITC Mangga Dua. Selain itu, anggota asosiasi juga menawarkan kolaborasi lintas tempat, menjadikan MKS sebagai simpul penting dalam jaringan penyelenggara gedung resepsi Jakarta.

Kompetitor Bukan Musuh, Tapi Mitra Bangkit Bersama

Meski pada dasarnya adalah kompetitor, MKS dan para anggota ASGEPRINDO lainnya justru memilih jalan kolaborasi.

“Kami semua pernah jatuh bersama, jadi sekarang waktunya bangkit bersama. Gak bisa sendirian, dan gak boleh egois. Bahkan restoran pun sekarang jadi saingan karena mulai buka wedding. Tapi kita lihat ini peluang untuk terus berinovasi,” kata penyuka traveling itu.

ASGEPRINDO, di mana dirinya menjabat sebagai bendahara umum, menjadi wadah penyambung kebutuhan anggota—baik informasi, pembinaan, sampai pengelolaan konflik.

Batik dan Warisan Budaya: Menyelip dalam Langkah, Tertanam dalam Jiwa

Tak hanya bergelut di dunia pernikahan, Flo juga memiliki kedekatan emosional dengan warisan budaya, terutama batik.

“Saya orang Klaten. Waktu kecil suka nungguin nenek membatik. Canting, malam, kesabaran itu semua terekam dalam ingatan saya. Dulu biasa aja, sekarang jadi merasa itu luar biasa,” kisahnya.

Baginya, batik bukan sekadar kain. Ada filosofi dan sakralitas dalam tiap motif. Ia bahkan mengoleksi batik dari berbagai daerah: Madura, Cirebon, Lasem, bahkan Cianjur. “Generasi muda harus tau sejarah batik. Jangan cuma pakai di hari Jumat. Harus paham prosesnya, filosofinya, supaya ada sense of belonging,” ujarnya tegas.

Dari Resepsi ke Reposisi

Menara Kreatif Solusindo tak hanya menjual jasa pernikahan. Ia adalah perwujudan dari ketahanan, kolaborasi, dan semangat budaya. Ia dan rekan-rekannya yakin, pandemi bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari kebangkitan baru.

Sebagaimana batik yang dirajut dengan sabar, bisnis ini pun tumbuh dari goresan canting harapan, digerakkan oleh pengalaman, dan diwarnai oleh semangat berbagi. Di panggung resepsi, bukan hanya dua insan yang disatukan, tapi juga aktivitas ratusan orang yang menggantungkan hidupnya di balik peristiwa sakral itu.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Masa pensiun tidak semenakutkan yang dipikirkan. Justru masa pensiun memberikan waktu dan ruang yang lebih banyak. Persiapkan hal tersebut!

Menyiasati Masa Pensiun Tanpa Harus Merasa Kekurangan Uang

buku primbon jawa

Menapaki Takdir Kelahiran Sabtu Pon: Jalan Air yang Mengalir dalam Hidup